Harga Batu Bara Kembali Bangkit Ditekan Isu Transisi Energi

Untuk kontrak Desember, batu bara termal dihargai US$153,60 per metrik ton pada hari yang sama. Catatan ini naik 1,65 poin atau 1,09% dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya.

Rayful Mudassir

8 Nov 2021 - 12.54
A-
A+
Harga Batu Bara Kembali Bangkit Ditekan Isu Transisi Energi

Sebuah kapal tongkang pengangkut batubara melintas di Sungai Musi, Palembang, Sumatra Selatan, Senin (15/2/2021). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Bisnis, JAKARTA — Kendati sempat terkoreksi karena adanya tekanan dari dunia global terhadap energi fosil, harga batu bara di bursa ICE Newcastle kembali mempertahankan kinerja positif pada akhir pekan kemarin.

Bursa ICE Newcastle mencatat harga emas hitam untuk kontrak November bertengger di level US$155,40 per metrik ton pada Jumat (5/11/2021), naik 1,15 poin dibandingkan dengan penutupan pada hari sebelumnya. 

Sementara itu untuk kontrak Desember, batu bara termal dihargai US$153,60 per metrik ton pada hari yang sama. Catatan ini naik 1,65 poin atau 1,09% dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya. 

Meski batu bara termal menjauh dari harga US$200 per metrik ton, nilai ini masih terbilang tinggi. Terakhir kali harga batu bara berada di kisaran US$150 per metrik ton tercatat pada Juli 2021.

Sebagai perbandingan, pada Januari 2021, batu bara masih dihargai US$85 per metrik ton. Komoditas ini terus mendapat tekanan dalam beberapa waktu terakhir.

Teranyar, tekanan berasal dari sejumlah negara dalam KTT COP 26 di Glasgow, Skotlandia. Adapun 20 negara sepakat untuk tidak lagi memberikan pendanaan terhadap pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbasis batu bara. 

Adapun, negara dan empat lembaga keuangan yang menandatangani pernyataan itu adalah Kanada, Amerika Serikat, dan Denmark. Selain itu 18 negara termasuk Vietnam, Polandia, dan Chili juga kompak meneken kesepakatan untuk menghapus penggunaan batu bara. 

Di sisi lain, komoditas penyumbang pendapatan negara bukan pajak tersebut juga harus menghadapi isu mempensiunkan PLTU. 

Di Indonesia, pemerintah akan melakukan pensiun dini terhadap PLTU mulai 2030 dengan total kapasitas mencapai 5,5 gigawatt (GW). PLTU ini nantinya akan diganti dengan pembangkit tenaga energi baru terbarukan (PLT EBT).

Proses retirement ini pula disebut Menteri Keuangan Sri Mulyani memakan waktu hingga 8 tahun. Sementara itu, proses ini juga memakan biaya tidak sedikit untuk mengganti PLTU dengan PLT EBT. Proyek tersebut akan memakan ongkos sekitar US$25 miliar—US$30 miliar atau setara Rp350 triliun hingga Rp420 triliun. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.