Harga Emas Masih Mampu Menguat di Tengah Aksi Jual

Harga emas masih mampu menguat di tengah tekanan aksi jual di pasar. Simak penjelasannya.

Hafiyyan

9 Nov 2021 - 16.06
A-
A+
Harga Emas Masih Mampu Menguat di Tengah Aksi Jual

Harga emas masih mampu menguat di tengah tekanan aksi jual di pasar. (Antara)

Bisnis, JAKARTA— Harga emas masih mampu menguat kendati pasar dipengaruhi aksi jual investor.

Dikutip dari Coinmarketcap, Selasa (9/11/2021) pukul 15:49 WIB harga emas mencapai US$1.824,31 per troy ounce naik tipis 0,01 persen sejak perdagangan dibuka pada US$1.824,05 per troy ounce.

Tim Analis Monex Investindo Futures dalam hasil risetnya menyebut bahwa harga emas memiliki ruang terbatas untuk menguat pada perdagangan hari ini. Dia memproyeksi harga emas bergerak pada rentang level support US$1.828 per troy ounce hingga US$1.835 per troy ounce.

Pada rentang level resistance, harga emas diproyeksi menyentuh US$1.819 per troy ounce hingga US$1.812 per troy ounce.

“Dolar AS yang melemah tertekan aksi jual investor berpeluang menopang kenaikan harga emas.”

Dikutip Antara, harga logam mulia mencapai level tertinggi sejak 7 September pada Senin (8/11/2021) karena dolar melemah dan bank-bank sentral utama mengirimkan sinyal inflasi yang memudar sehingga tak perlu menaikkan suku bunga.

Pada Selasa, dolar melemah mendekati posisi terendah sesi sebelumnya, membantu mengangkat daya tarik emas untuk pembeli yang memegang mata uang utama lainnya.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun yang jadi acuan sedikit berubah pada 1,49 persen setelah naik empat basis poin di sesi sebelumnya, meredupkan daya tarik emas karena meningkatkan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Presiden Federal Reserve Bank Chicago Charles Evans pada Senin (8/11/2021) mengatakan bahwa meskipun masih ada potensi inflasi, dia meyakinkan bahwa bank sentral tak perlu menaikkan suku bunga acuan hingga 2023.

Sebelumnya, daya tarik emas meningkat bagi mereka yang memegang mata uang lain setelah indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama lainnya melemah 0,3 persen.

Bank-bank sentral utama secara keseluruhan masih akomodatif, dan semua uang tunai dalam sistem sebagian besar berpindah ke pasar emas dan perak sebagai lindung nilai inflasi, kata Jim Wyckoff, analis senior di Kitco Metals.

Kecenderung sikap dovish dari bank-bank sentral pekan lalu semakin mendorong emas ke level tertinggi dua bulan. Emas melonjak 1,3 persen pada Jumat (5/11/2021) setelah Federal Reserve AS dan bank sentral Inggris (BoE) menahan setiap kenaikan suku bunga.

Emas sebagai lindung nilai Inflasi telah diuntungkan dari lingkungan suku bunga yang sangat rendah untuk memacu pertumbuhan selama pandemi, karena itu berarti pengurangan peluang kerugian memegang emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Namun, kekhawatiran bahwa bank-bank sentral akan mulai mengetatkan kebijakan untuk memerangi kenaikan harga-harga telah membuat investor tetap waspada terhadap data ekonomi.

Keketatan di pasar tenaga kerja dikombinasikan dengan dislokasi dalam rantai pasokan global dapat mengakibatkan angka tinggi lainnya untuk harga konsumen AS yang akan dirilis pada Rabu (10/11/2021).

"Data Rabu kemungkinan akan mendukung emas karena inflasi dapat menunjukkan kenaikan tercepat sejak 1990," kemungkinan memicu minat beli emas, kata Sugandha Sachdeva, wakil presiden penelitian komoditas & mata uang di Religare Broking.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.