Harga Minyak Anjlok dalam 4 Minggu Dipicu Naiknya Kasus Covid-19

Rencana AS melepas cadangan minyak strategis turut menekan harga minyak, khususnya WTI yang telah turun 5,8% dalam sepekan.

Febrina Ratna Iskana

20 Nov 2021 - 08.54
A-
A+
Harga Minyak Anjlok dalam 4 Minggu Dipicu Naiknya Kasus Covid-19

Dokumentasi - Ladang minyak Equinor di Johan Sverdrup, Laut Utara Norwegia. ANTARA/REUTERS/Nerijus Adomaitis/aa.

Bisnis, JAKARTA - Lonjakan kasus Covid-19 kembali menjadi momok bagi harga minyak. Harga komoditas itu pun turun hingga di bawah US$ 80 per barel.

Dilansir dari Antara pada Sabtu (20/11/2021) pagi, harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Januari anjlok US$ 2,35 atau 2,9 persen menjadi US$ 78,89 dolar AS per barel.

Sementara itu, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Desember turun hingga US$ 2,91 atau 3,6 persen ke level76,10 per barel pada hari terakhir kontrak bulan depan.

Harga minyak WTI untuk pengiriman Januari terkoreksi hingga US$ 2,65 atau 3,4 persen menjadi US$ 75,78 per barel. Dengan begitu, harga patokan minyak mentah AS itu telah anjlok 5,8 persen dalam sepekan, sedangkan Brent turun 4,0 persen berdasarkan kontrak bulan depan.

Kedua kontrak acuan melemah untuk minggu keempat berturut-turut untuk pertama kalinya sejak Maret 2020. Turunnya harga minyak dipicu oleh lonjakan kasus Covid-19 di Eropa. Sejumlah negara bahkan telah memberlakukan kembali pembatasan wilayah.

Austria menjadi negara pertama di Eropa barat yang memberlakukan kembali lockdown pada musim gugur ini, untuk mengatasi gelombang baru infeksi COVID-19 di seluruh wilayah. Selain itu, Jerman yang merupakan negara dengan ekonomi terbesar Eropa juga berencana membatasi wilayah secara penuh.

"Pasar (minyak) secara fundamental masih dalam posisi yang baik tetapi penguncian sekarang menjadi risiko yang jelas ... jika negara lain mengikuti jejak Austria," Analis Pasar OANDA, Craig Erlam, mengatakan dalam sebuah catatan.

 

 

Di sisi lain, sejumlah negara tengah mempertimbangkan untuk mengeluarkan stok cadangan minyaknya demi menekan harga. Rencana tersebut sekaligus mengimbangi kebijakan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya yang dikenal sebagai OPEC+.

Seperti diketahui, OPEC+ memutuskan meningkatkan produksi minyak secara bertahap di tengah kenaikan permintaan. Kebijakan OPEC+ itu pun telah mendorong harga minyak naik hampir 60 persen tahun ini.

Akibat keputusan tersebut pula, AS mempertimbangkan untuk melepaskan cadangan minyak strategis (SPR) . Gedung Putih pada Jumat (19/11/2021) menekan kelompok produsen OPEC lagi untuk mempertahankan pasokan global yang memadai.

Pernyataan tersebut dirilis setelah beberapa hari diskusi AS dengan beberapa ekonomi terbesar dunia mengenai potensi pelepasan minyak dari cadangan strategis untuk memadamkan harga energi yang tinggi. Spekulasi tentang rilis SPR AS telah mendorong harga minyak turun sekitar US$4 per barel dalam beberapa pekan terakhir.

Menurut Goldman Sachs, kebijakan AS itu bakal menambah pasokan minyak di pasar hingga 100 juta barel. Hal tersebut memang dapat memperbaiki harga minyak dalam jangka pendek, karena masih ada celah defisit pasokan secara struktural.

Terlebih lagi OPEC+  tetap berpegang pada kebijakan kenaikan produksi minyak secara bertahap bahkan ketika harga melonjak. Itu karena OPEC+ memproyeksi pasokan akan melebihi permintaan pada bulan-bulan pertama tahun 2022.

"Ketakutan akan hal yang tidak diketahui membebani sentimen pasar. Kekhawatirannya adalah bahwa kita akan mendapatkan semacam pelepasan (cadangan minyak) terkoordinasi selama Liburan Thanksgiving minggu depan, ketika volume biasanya rendah dan pergerakan dramatis telah terjadi," kata Analis Senior Price Futures, Phil Flynn, di Chicago.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.