Harga Minyak Mendekati Puncak Akibat Pasokan Ketat di Akhir 2023

Harga minyak menanjak mendekati level tertinggi selama 10 bulan terakhir, sebagai respons dari proyeksi Badan Energi Internasional (IEA) yang meyakini permintaan akan melampaui pasokan pada paruh kedua tahun ini.

Nindya Aldila

14 Sep 2023 - 11.38
A-
A+
Harga Minyak Mendekati Puncak Akibat Pasokan Ketat di Akhir 2023

Bisnis, JAKARTA - Harga minyak menanjak mendekati level tertinggi selama 10 bulan terakhir, sebagai respons dari proyeksi Badan Energi Internasional (IEA) yang meyakini permintaan akan melampaui pasokan pada paruh kedua tahun ini. 

Hal itu juga ditambah dengan kekhawatiran pasokan atas produksi Libya dan pemangkasan  dari OPEC+.

Harga minyak Brent untuk pengiriman November turun 18 sen menjadi menetap di US$91,88 per barel di London ICE Futures Exchange pada penutupan perdagangan Rabu (13/9/2023), setelah mencapai tertinggi sesi di US$92,84 per barel yang merupakan tertinggi sejak November 2022.

Sementara itu, harga minyak West Texas Intermediate AS untuk pengiriman Oktober menyusut 32 sen menjadi ditutup pada US$88,52 per barel di New York Mercantile Exchange, dengan harga tertinggi sesinya di US$89,64 per barel juga merupakan level tertinggi sejak November 2022.

Badan Informasi Energi AS (EIA) memproyeksikan produksi minyak global tidak dapat memenuhi permintaan. Menurut lembaga ini, produksi akan meningkat menjadi 101,2 juta per hari pada tahun ini dari 99,9 juta barel per hari pada tahun lalu.

 

Padahal, permintaan diperkirakan akan mencapai 101,0 juta barel pada tahun ini dan naik lagi menjadi 102,3 juta barel pada 2024. 

EIA memperkirakan persediaan minyak global akan turun hampir setengah juta barel per hari pada paruh kedua tahun 2023, menyebabkan harga minyak naik dengan harga Brent rata-rata US$93 per barel pada kuartal IV.

Prospek bullish menambah momentum pada reli yang dimulai pada pertengahan Juni karena Arab Saudi dan Rusia membatasi pasokan sementara permintaan AS dan China terbukti relatif tangguh. Pasar bahan bakar, terutama produk sejenis solar yang dikenal sebagai sulingan, juga mengalami penurunan.

“Pasar benar-benar mengetat pada paruh kedua tahun ini. Pasar berisiko melihat berlanjutnya keterbatasan di pasar, terutama untuk produk sulingan, menjelang bulan-bulan musim dingin,” kata Toril Bosoni, Kepala Divisi pasar minyak IEA kepada Bloomberg, dikutip Bisnis.com pada Kamis (14/9/2023).

Adapun Libya menutup empat terminal ekspor minyak di wilayah timur karena badai dan banjir. Kazakhstan juga terpantau mengurangi produksi minyak hariannya untuk pemeliharaan.

Ini menambah kekhawatiran pasar setelah Arab Saudi memperpanjang pengurangan produksi suka rela sebesar 1 juta barel per hari hingga akhir tahun 2023. 

Sementara itu, Rusia memperpanjang pengurangan produksi sebesar 300.000 barel per hari pada periode yang sama. 

Kendati demikian, laporan bulanan OPEC memperkirakan permintaan minyak global naik 2,25 juta barel per hari pada 2024. 

Ini berdasarkan tanda-tanda bahwa negara-negara besar bernasib lebih baik dari perkiraan, meski ada hambatan seperti suku bunga tinggi dan inflasi.

(Farid Firdaus)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.