Hilirisasi MIND ID; Kurangi Polusi, Dongkrak Ekonomi RI

Salah satu bahan utama dalam pembuatan baterai kendaraan listrik adalah nikel. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat keberadaan nikel di Tanah Air pada 2020 mencapai 768.000 ton. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil biji nikel terbesar di dunia.

Jaffry Prabu Prakoso

13 Sep 2023 - 12.10
A-
A+
Hilirisasi MIND ID; Kurangi Polusi, Dongkrak Ekonomi RI

Presiden Jokowi dan Ibu Iriana menaiki mobil listrik menuju KITB, Batang, Jawa Tengah. /Dok. BPMI Setpres/Laily Rachev

Bisnis, JAKARTA – Lima menit sebelum tiba di Stasiun Tanah Abang, Hilman Fauzi buru-buru membuka aplikasi ojek daring melalui telepon pintar. Dia memilih penyedia jasa kendaraan roda dua untuk menjadi moda transportasi lanjutan menuju kantornya.

Setelah pesanan diterima, Hilman memastikan bahwa ojek berada di tempat yang disepakati. Dia berjalan cepat menuju lokasi dengan kepala ditutup kupluk jaket dan saluran pernapasan dilapis masker.

Beberapa hari terakhir, pegawai negeri sipil di sebuah kementerian ini merasa hawa Jakarta sangat panas. Ditambah lagi udara di Ibu Kota yang statusnya terus tak sehat berdasarkan pemantau cuaca.

“Saya tidak mau berlama-lama di luar ruangan. Sekarang terasa banget debu polusinya masuk ke hidung. Pakai masker juga jadi wajib,” katanya kepada Bisnis, Senin (12/9/2023).

Baca juga: Industri Kritis Wajib Tambah Instrumen Pengendali Emisi

Kualitas udara yang tak bagus juga dirasakan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kepala Negara mengalami batuk selama empat minggu. Kondisi tersebut tidak pernah dialami sebelumnya.

Ada beberapa faktor yang membuat polusi di Jakarta semakin parah. Salah satu penyumbang terbesar adalah kendaran pribadi yang menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Mengutip data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sektor transportasi berkontribusi sebesar 44 persen sumber pencemaran. Lalu, diikuti industri 31 persen, manufaktur 10 persen, perumahan 14 persen, dan komersial 1 persen.

Itu sebabnya penggunaan transportasi yang ramah lingkungan, yakni berbasis baterai semakin menjadi keniscayaan. Banyak pula manfaat yang didapat. Mulai dari mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil hingga mendongkrak pertumbuhan ekonomi bukan hanya di dalam negeri, tapi juga negara di sekitarnya.




Hal tersebut diamini oleh Jokowi. Pada peresmian pembukaan Asean Indo-Pacific Forum di Jakarta pekan lalu, Kepala Negara mengatakan bahwa butuh skema pembiayaan inovatif melalui kemitraan yang menguntungkan dan berkelanjutan untuk melakukan transisi energi.

“Ekonomi Asean akan tumbuh lebih kokoh melalui hilirisasi industri. Pembangunan ekosistem EV [kendaraan listrik] adalah contoh kontret membangun rantai pasok kawasan,” katanya.

Berbagai upaya dilakukan pemerintah mempercepat penggunaan kendaraan listrik. Peta jalan pun sudah dibuat. Setidaknya Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menargetkan Indonesia tak lagi menjual motor konvensional pada 2040 dan mobil BBM pada 2050.

Saat ini, minat masyarakat untuk menggunakan kendaraan listrik terus meningkat walaupun jika dilihat secara persentase dari total seluruh kendaraan masih minim.

Baca juga: Menolak Kasus Freeport Terulang dalam Divestasi Saham INCO

Untuk kendaraan roda 2, Asosiasi Industri Sepeda Motor Listrik Indonesia mencatat hingga Mei jumlahnya mencapai 48.000 unit terhitung dari 2019. 

Realisasi tersebut terpaut cukup jauh dari penjualan motor BBM domestik. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia, untuk satu bulan pada Agustus, laku 534.379 unit.

Sedangkan untuk mobil listrik, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia mencatat penjualan secara wholesales atau dari produsen ke distributor sebanyak 6.871 unit sepanjang 2023 hingga Juli. Sementara seluruh jenis kendaraan roda 4 yang terdistribusi 586.401 unit.



Meski kontribusi kendaraan listrik masih kecil, pertumbuhannya cukup signifikan dari tahun ke tahun. Ini menunjukkan bahwa kesadaran dan minat publik untuk beralih ke kendaraan ramah lingkungan cukup tinggi.

Satu Proyek, Berbagai Tujuan

Faktor utama minimnya penggunaan kendaraan listrik adalah harganya tidak ramah kantong. Itu disebabkan teknologi yang ada belum mumpuni dan pasokannya masih terbatas.

Mobil listrik misalnya. Baterai menyumbang sekitar 60 persen dari harga total produksi. Artinya jika barang tersebut bisa ditekan, nilai ekonomi dari kendaraan ramah lingkungan akan semakin baik.

Salah satu bahan utama pembuatan baterai kendaraan listrik adalah nikel. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat keberadaan nikel di Tanah Air pada 2020 mencapai 768.000 ton. Angka tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara penghasil biji nikel terbesar di dunia.

Sebagai gambaran, peningkatan nilai tambah dari pengolahan bijih nikel menjadi nickel matte adalah 14 kali. Jika menjadi nikel murni bahan baku baterai bisa mencapai 19 kali dan mencapai 340 kali menjadi prekursor.

Baca juga: Membuka Pintu Masuk Ekosistem Baterai EV Dunia

Itu sebabnya penghiliran nikel untuk tujuan kendaraan listrik bisa dianggap sebagai satu proyek dengan berbagai tujuan. Mulai dari mendongkrak perekonomian, menciptakan lapangan kerja, hingga mengurangi polusi. 

Mining Industry Indonesia (MIND ID) sebagai BUMN holding industri pertambangan mendapat mandat untuk memanfaatkan peluang tersebut. Perseroan kini bekerja ekstra untuk mendorong percepatan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia.

Awal tahun 2023, MIND ID dengan afiliasinya, PT Industri Baterai Indonesia (IBC), melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Citaglobal Berhad yang merupakan Perusahaan asal Malaysia.

Lingkup MoU yang dikerjasamakan adalah pengembangan pabrik pembuatan sel baterai dan battery energy storage system (BESS). Kemitraan tersebut diharapkan dapat saling melengkapi dan memberi nilai lebih untuk kesiapan industri baterai di Indonesia.

Selain itu, MIND ID melalui anggotanya, PT Antam Tbk., berencana membangun pabrik baterai kendaraan listrik berkapasitas 15 Giga Watt (GW) pada 2027. 



Perusahaan menggandeng Contemporary Amperex Technology Co. Limited atau CATL untuk mengembangkan baterai kendaraan listrik di Indonesia. Kebutuhan investasi proyek bersama perusahaan asal Tiongkok itu mencapai US$12 miliar.

Direktur Utama MIND ID Hendi Prio Santoso mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh tertinggal dari negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam yang sudah lebih maju dalam mengembangkan kendaraan listrik.

Padahal, Indonesia punya segalanya untuk menjadi pemasok utama baterai kendaraan listrik. Sumber daya alam yang melimpah tersebut, tambah Hendi, akan menjadikan Indonesia menjadi pemain kendaraan listrik yang cukup diperhitungkan di kancah Internasional.

“Kita semua harus bangkit untuk benar-benar memanfaatkan apa yang telah Tuhan berikan kepada Indonesia,” jelasnya pada sebuah diskusi belum lama ini. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.