Free

Holding Fintech Incar Perusahaan Multifinace Indonesia

Sejumlah holding fintech P2P lending dalam upaya menyulap perusahaan multifinance menjadi layanan buy now pay later atau BNPL.

Jaffry Prabu Prakoso

14 Nov 2022 - 19.21
A-
A+
Holding Fintech Incar Perusahaan Multifinace Indonesia

Ilustrasi sistem pembayaran dengan metode pay later. Sejumlah induk fintech atau perusahaan finansial berbasis teknologi P2P lending tengah mengincar perusahaan multifinance di Indonesia. /Freepik

BADUNG — Sejumlah induk fintech atau perusahaan finansial berbasis teknologi P2P lending tengah mengincar perusahaan multifinance di Indonesia. Mereka hendak menyulap perusahaan pembiayaan tersebut menjadi layanan buy now pay later (BNPL). 

"Yang gejalanya ada banyak cari multifinance untuk jadi BNPL. Mungkin ada [sekitar] lima," kata Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) 2B OJK Bambang W. Budiawan di sela 4th Indonesia Fintech Summit 2022 pekan lalu. 

Saat ini sudah ada beberapa pemain besar BNPL di Indonesia. Sebut saja SPayLater, Kredivo, hingga GoPayLater (GOTO). Kendati demikian, kue bisnis bayar tunda ini masih terbilang besar.

Dalam laporan terbaru Moody’s Investors Service pada Agustus 2022, layanan pay later telah tumbuh subur di Asean dalam dua tahun terakhir. Pertumbuhan itu salah satunya disebabkan oleh adanya pandemi Covid-19 dan meningkatnya transaksi melalui e-commerce.



Nasabah menyelesaikan transaksi menggunakan Akulaku PayLater di Jakarta, Senin (11/7/2022). Bisnis/Suselo Jati



Sementara itu, berdasarkan laporan dari International Data Corporation (IDC) bertajuk How Southeast Asia Buys and Pays: Driving New Business Value for Merchants, mengungkapkan bahwa penggunaan layanan pay later di transaksi e-commerce di Indonesia tahun 2020 mencapai US$530 juta.

Angka itu setara dengan 58 persen dari total penggunaan pay later pada transaksi e-commerce di Asia Tenggara sebesar US$910 juta pada 2020.

IDC juga memproyeksikan nilai penggunaan pay later dalam transaksi e-commerce di Asia Tenggara bakal mencapai US$8,84 miliar pada 2025 atau naik 8,8 kali dibandingkan 2020.


Baca juga: Aman Bertransaksi, Tip Pilih Paylater Terpercaya


Secara terpisah, Direktur Pengaturan, Perizinan, dan Pengawasan Fintech OJK Tris Yulianta membenarkan bahwa banyak induk perusahaan fintech P2P lending berminat mencaplok multifinance. Pasalnya, entitas fintech terbatas dalam menyalurkan pinjaman. 

Fintech, kata Tris, hanya boleh menyalurkan pinjaman dengan modal sendiri. Berbeda dengan multifinance, yang dapat menyalurkan dana yang berasal dari modal dan juga pinjaman, termasuk surat utang. 

Adapun Tris mengatakan bahwa induk fintech punya dua opsi dalam ekspansi layanan keuangan di Indonesia, yakni mengakuisisi multifinance atau bank. Multifinance kerap jadi pilihan utama karena lebih murah dan dari segi aturan lebih longgar.

Paylater Diklaim Jadi Alternatif Hindari Resesi

Country General Manager Atome Winardi Wijaya mengungkapkan bahwa masyarakat dengan sikap konsumtif bisa membuat resesi tidak berdampak secara signifikan.


Baca juga: Kocek Tebal Fintech Lending Konsumtif vs Paylater


Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, diperlukan teknologi yang memudahkan transaksi masyarakat dan membuat roda perekonomian terus berputar. Dengan begitu, dampak resesi akan terminimalisir. 

Menurutnya, paylater membantu masyarakat menghindari dampak resesi dengan mengatur keuangan secara lebih baik. 

"Pay later alternatif payment, sehingga masyarakat di masa resesi ini bisa lebih me-manage lah finansial mereka dengan lebih baik," kata Winardi kepada Bisnis pada Jumat (4/11/2022). 

Senada dengan Winardi, Head of Marketing dari Atome Frecy Ferry Daswaty juga mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya pay later bisa menjadi alternatif pembayaran yang membantu menghindari dampak resesi juga dari sisi pelaku bisnis.



Head of Strategy and Innovation Lab OVO Abraham Viktor  memperkenalkan fitur terbaru OVO PayLater saat peluncurannya di Jakarta, Jumat (10/5/2019)./Bisnis-Dedi Gunawan



"Yang tadinya dia punya uang Rp300.000, dia membeli sepatu dengan harga Rp300.000. Karena dia bisa bayar dengan Atome [perusahaan pay later] dan dicicil 0 persen selama 3 bulan, jadinya dia mungkin bisa dua," ungkap Frecy kepada Bisnis pada Jumat (4/11/2022).

Menurutnya, selain masyarakat yang akan diuntungkan dengan penggunaan paylater, pelaku bisnis akan mendapatkan efek yang sama.

"Sebenarnya bukan hanya dari sisi pengguna saja yang diuntungkan, tapi dari sisi pelaku bisnis yang mana mereka adalah penggerak ekonomi Indonesia supaya kita bisa menghindari resesi," tambah Frecy. (Muhammad Khadafi dan Widya Islamiati)

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.