Free

Hulu Migas RI Perlu Ambil Momentum di Tengah Konflik Timur Tengah

Indonesia dapat mengambil kesempatan di tengah ancaman krisis energi global seperti saat ini. Ditambah dengan adanya sanksi AS terhadap Rusia yang juga merupakan negara produsen minyak terbesar kedua di dunia.

Redaksi

11 Mei 2024 - 13.11
A-
A+
Hulu Migas RI Perlu Ambil Momentum di Tengah Konflik Timur Tengah

Bisnis, JAKARTA - Konflik di Timur Tengah berpotensi menaikkan harga minyak dunia menuju angka USD$ 100 per barel. Di tengah ketegangan tersebut, industri hulu migas dalam negeri perlu dipacu sebagai harapan dalam ketahanan energi nasional. 


Berdasarkan data Ditjen Migas, realisasi investasi migas pada 2023 mencapai USD$ 15,60 miliar atau naik 12% dari 2022. Investasi ini terdiri dari investasi hulu sebesar USD$ 13,90 miliar dan investasi hilir sebesar USD$ 1,88 miliar.


Plt Direktur Jenderal Migas Kementerian ESDM Dadan Kusdiana menyebutkan bahwa sektor hulu migas nasional terus membuka wilayah kerja baru serta peningkatan kegiatan eksplorasi. Di tengah eskalasi konflik, industri hulu migas juga menjadi harapan Indonesia dalam mencapai ketahanan energi.


“Potensi di Indonesia masih menarik investor. Akhir-akhir ini studi untuk pembukaan WK baru cukup banyak. Jadi dari sisi potensi migas, sektor hulu migas di Indonesia masih bisa diandalkan,” tuturnya belum lama ini.


Dadan juga menyebutkan bahwa diperlukannya kebijakan yang ramah investasi guna mendukung sektor hulu migas. Selain itu, ia juga menegaskan bahwa Ditjen Migas telah mengurangi ketergantungan impor minyak dan LPG atas situasi konflik geopolitik saat ini.


Baca juga: 

Mengoptimalkan Peluang Produksi Migas

Angin Segar Hulu Migas Berembus dari Pantai Barsela Aceh

Hulu Migas Makin Melorot, Bakal Diselamatkan Prabowo - Gibran?


Beberapa langkah yang dilakukan adalah di antaranya mengoptimalkan pemanfaatan gas bumi domestik untuk sektor pupuk, industri dan ketenagalistrikan melalui program hilirisasi gas bumi, gasifikasi pembangkit listrik berbahan bakar diesel, hingga optimalisasi pemanfaatan gas melalui moda CNG.


Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi menyatakan bahwa tensi geopolitik saat ini terbukti berdampak pada harga minyak dunia. Menurutnya, eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama yang terjadi pada Israel dan Iran menjadi perhatian lebih dibandingkan dengan konflik lainnya. 



“Harus dilihat bahwa Iran ini salah satu negara penghasil minyak terbesar ketiga di dunia. Tetapi secara cadangan terbesar dunia itu ada di Iran, buka di Arab Saudi, sehingga ada ketakutan Israel menyasar kilang-kilang minyak Iran dan membuat produksi ini akan turun drastis,” kata dia dalam kesempatan terpisah.


Ibrahim menilai Indonesia dapat mengambil kesempatan di tengah ancaman krisis energi global seperti saat ini. Ditambah dengan adanya sanksi AS terhadap Rusia yang juga merupakan negara produsen minyak terbesar kedua di dunia.


Untuk itu dia berharap kepada pemerintah, terutama Kementerian Investasi untuk mendatangkan investor-investor di sektor hulu migas demi terciptanya ketahanan energi nasional, khususnya saat menghadapi situasi seperti sekarang di mana harga migas global menjadi tak menentu. 


“Kita lihat bahwa Indonesia ini sebenarnya banyak kilang-kilang minyak yang bisa dieksplorasi.” (Muhammad Nishfi Azriel)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.