IEO 2023: Membentuk Kembali Kepemimpinan RI di Kancah Global

Tahun ini, Indonesia dihadapi dengan banyak masalah seperti scarring effect akibat kondisi pandemi, ketegangan kondisi geopolitik hingga kenaikan inflasi harga.

Jaffry Prabu Prakoso

6 Des 2022 - 16.07
A-
A+
IEO 2023: Membentuk Kembali Kepemimpinan RI di Kancah Global

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara membuka seminar Indonesia Economic Outlook (IEO) 2023

JAKARTA – Indonesia Economic Outlook (IEO) 2023 National Seminar berlangsung pada Rabu, 23 November 2022. Acara ini diawali dengan opening speech oleh perwakilan dari kementerian RI yaitu Suahasil Nazara, Sandiaga Uno, dan Wael Mansour selaku Senior Country Economist World Bank Group. 

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara membuka seminar Indonesia Economic Outlook dengan mengilas balik kondisi sosial ekonomi Indonesia pada saat awal pandemi tahun 2020, saat kegiatan produksi, distribusi, serta konsumsi masyarakat mengalami penurunan dan berakibat pada lesunya bahkan berhentinya perekonomian Indonesia. 

Beruntung pada akhir tahun 2021, Indonesia sudah dapat menangani masalah perekonomian serta inflasi yang disebabkan oleh pandemi dengan bantuan APBN sebagai shock absorber. Tahun ini, Indonesia dihadapi dengan banyak masalah seperti scarring effect akibat kondisi pandemi, ketegangan kondisi geopolitik hingga kenaikan inflasi harga. 


Para pembicara IEO 2023

Pemerintah merancang rencana untuk memperbaiki dan meningkatkan pertumbuhan kondisi perekonomian Indonesia pascapandemi salah satunya dengan melakukan pencarian sumber pertumbuhan ekonomi baru yang lebih sustainable, hilirisasi industri, pemberdayaan UMKM, perkembangan ekonomi digital, dan transisi ke green economy

Dilanjutkan oleh Sandiaga Uno, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia itu melihat bahwa tahun 2022 memberikan harapan bagi iklim pariwisata Indonesia dengan adanya jumlah wisatawan mancanegara yang mulai meningkat. Perubahan tren pariwisata global yang mengarah pada digitalisasi juga memberikan dampak bagi tren pariwisata Indonesia. 

“Saat ini, Kementerian Pariwisata sedang mengutamakan quality tourism experience dan sustainable tourism enjoyment melalui peningkatan kualitas destinasi dan aktivasi saluran promosi pariwisata,” ujar Sandi. 

Sebagai penutup, Sandi berharap seminar Indonesia Economic Outlook (IEO) 2023 dapat menjadi wadah bagi para pelaku ekonomi untuk bertukar pikiran dan berkolaborasi agar dapat menjadi lebih siap memasuki tahun 2023.

Selain pemaparan dari perwakilan kementerian RI, Wael Mansour, Senior Country Economist World Bank Group, memaparkan bahwa perekonomian kembali menghadapi permasalahan salah satunya yaitu terjadinya stagflasi membuat perekonomian menjadi lebih lambat dan berujung pada inflasi yang tinggi. 

Saat ini, Indonesia diproyeksikan tumbuh lebih cepat pada tahun 2022. Hal ini dipengaruhi oleh faktor struktural, cyclical factors, dan faktor kebijakan. Negara-negara EAP memiliki kebijakan yang merespon Covid-19 dan fenomena ekonomi lainnya dengan lebih terukur. 

Wael Mansour mengungkapkan bahwa perlambatan pada major economy akan memangkas lebih dari 1% dari pertumbuhan major economy dari EAP, seperti perlambatan ekonomi di Cina yang memangkas pertumbuhan di Indonesia hingga 0,6%.

Baca juga: Pembengkakan Utang Global Kian Mengkhawatirkan

Sesi selanjutnya yaitu dilanjutkan pembahasan sektor riil oleh Sumedi Andono Mulyo, Direktur Perencanaan dan Pengembangan Proyek Infrastruktur Prioritas Nasional Bappenas. 

Dalam menghadapi permasalahan global yang berdampak pada kebijakan nasional, Indonesia memperhatikan lima paradigma, yaitu paradigma sehat, tangguh, tumbuh, keadilan, dan berkelanjutan. Indonesia telah menyusun rencana pembangunan jangka panjang, menyusun visi Indonesia di tahun 2045, yaitu Indonesia emas. 

Sektor selanjutnya yang menjadi pembahasan adalah fiskal dengan Yon Arsal selaku Asisten Menteri Keuangan Bidang Kepatuhan Perpajakan yang mengungkapkan pentingnya penerimaan pajak sebagai pendapatan negara. 

Pandemi Covid-19 menjadi tantangan berat dan langsung menyebabkan pajak yang dibayarkan turun. Pascapandemi memiliki highlight berupa UU HPP. Penerimaan pajak pada tahun 2021 dan 2022 terbilang sangat baik dan tumbuh secara signifikan sejalan dengan pertumbuhan ekonomi. 

“The battle against Covid-19 is not over yet,” menjadi kalimat pembuka Herman Saheruddin, Direktur Grup Riset Lembaga Penjamin Simpanan Indonesia pada sesi moneter dan finansial. 

Baca juga: Mengukur Inflasi Akhir 2022, Menguji Daya Tangkis Efek Eksternal

Indonesia perlu menjaga optimisme masyarakat mengingat salah satu tumpuan pertumbuhan perekonomian Indonesia pada tahun 2022 adalah konsumsi domestik sebesar 50,38%. Selain itu, kebijakan kunci lainnya yang dapat dilakukan adalah menekankan bauran kebijakan oleh anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). 

Berikutnya, seminar dilanjutkan dengan sesi panel discussion dengan tema “Confronting The Perfect Storm : Taking the Initiative to Encounter Economic Shock” menghadirkan Faisal Basri, ekonom senior Indonesia, Abdurohman, Plt Kepala Pusat Kebijakan Ekonomi Makro Badan Kebijakan Fiskal, Fauziah Zen, Senior Economist ERIA, dan Adjie Harisandi, analis industri dari Bank Permata. 

Dalam sesi ini, Faisal Basri menyatakan jika tantangan global berupa konflik regional, perubahan iklim, pandemi Covid-19, eskalasi harga komoditas, dan kenaikan cost of living sudah semakin nyata di depan mata. Dia menegaskan bahwa prediksi ekonomi dunia tahun depan tidak mengalami resesi, meskipun beberapa negara maju mengalaminya.

Abdurohman menjelaskan bahwa pasar ekspor yang mengalami kenaikan daripada tahun lalu ini bisa berdampak ke consumer’s good saat perekonomian dunia sedang tidak baik. Dia juga menyatakan bahwa fokus utama pemerintah pada tahun 2023 tidak hanya pemulihan pasca Covid-19, tetapi juga mendorong pembangunan jangka panjang, perbaikan kualitas sumber daya manusia, perbaikan infrastruktur, performansi birokrasi, dan isu green economy. 

Para pembicara IEO 2023
Dari sudut pandangan peneliti, Fauziah Zen berpendapat bahwa dengan adanya blessing in disguise, perdagangan Indonesia tidak terlalu terbuka ke dunia luar dan demografi yang besar membuat kebutuhan konsumsi bisa terpenuhi sendiri dan sebagian pasar sudah berjalan. 

Dia optimistis bahwa Indonesia tidak akan mengalami tahun seberat beberapa negara lain di luar sana. Pemerintah harus memberikan efisiensi yang lebih tinggi tanpa mengorbankan keadilan.

Di segi perbankan, Adjie Harisandi memaparkan bahwa investasi menjadi indikator bagi swasta untuk berinvestasi sekaligus menjadi pendorong pertumbuhan pada beberapa waktu ini. Adjie juga memuji kinerja pemerintah dalam mengatasi multiplier effect kenaikan BBM dengan menjadikan APBN sebagai shock absorber.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.