IHSG Melemah di Tengah Aksi Beli Asing

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,13% atau 8,95 poin ke level 6.653,35 pada penutupan perdagangan Kamis (6/1). Sepanjang perdagangan IHSG bergerak dalam kisaran 6.593,23 hingga tertinggi di level 6.679,85.

Bisnis Indonesia Resources Center
Jan 6, 2022 - 11:30 AM
A-
A+
IHSG Melemah di Tengah Aksi Beli Asing

Pegawai melintas di dekat layar yang menampilkan logo Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Selasa (4/1/2021). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup terkoreksi 0,13% atau 8,95 poin ke level 6.653,35 pada penutupan perdagangan Kamis (6/1). Sepanjang perdagangan IHSG bergerak dalam kisaran 6.593,23 hingga tertinggi di level 6.679,85. 

Sebanyak 182 saham menghijau, 364 saham parkir di zona merah dan 134 saham bergerak stagnan pada akhir perdagangan. Volume saham yang diperdagangkan sebanyak 20,31 miliar saham dengan nilai transaksi hanya sebesar Rp11,02 triliun. 

Sektor yang turun paling dalam dan menekan laju indeks adalah sektor barang konsumen non primer yang melemah 1,29% dan juga sektor teknologi yang turun 1,08%.

Meski IHSG melemah, investor asing masih melakukan aksi beli bersih dengan net buy senilai Rp641,41 miliar di seluruh pasar. 

Saham PT Bank Jago Tbk. (ARTO) paling banyak diborong asing dengan net buy Rp201,59 miliar. Saham ARTO menguat 4,36% atau 775 poin ke level harga 18.550. Kemudian menyusul saham PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) yang juga diakumulasi asing sebesar Rp193,60 miliar.

Sementara itu, saham PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) dilepas investor asing dengan net sell Rp43,28 miliar. Saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) juga dijual investor asing sebanyak Rp38,27 miliar dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk. (ITMG) sebesar Rp34,44 miliar.

Sejalan dengan IHSG, bursa utama asia juga mayoritas melemah. Indeks Australia memimpin pelemahan dengan koreksi 2,75% dan Indeks Nikkei Jepang yang juga ambruk 2,63%. Hanya Indeks Strait Times Singapura yang mengalami penguatan sebesar 0,52%.

Sentimen negatif masih datang dari Negeri Paman Sam dimana bursa Wall Street ditutup ke teritori negatif pasca risalah pertemuan The Fed edisi Desember 2021. Risalah tersebut menyebutkan peringatan dari Ketua The Fed Jerome Powell terkait pasar tenaga kerja yang semakin ketat dan juga inflasi yang tinggi. 

Kondisi ini akan memantik The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan lebih cepat, sehingga bisa berdampak buruk bagi pasar keuangan Asia termasuk Indonesia. 

Indeks Bisnis-27

Pada Kamis (6/1), Indeks Bisnis-27 berbanding terbalik dengan IHSG yang menutup perdagangannya di teritori negatif. Indeks Bisnis-27 berhasil menguat 0,2% atau 1,05 poin bertengger di level 517,31. 

Sepanjang perdagangan Indeks Bisnis-27 bergerak di rentang harian terendah di 511,59 hingga menyentuh level tertinggi di 518,4. Terdapat 13 saham menguat, 2 saham stagnan dan 12 saham lainnya terkoreksi.

Penguatan Indeks Bisnis-27 dipimpin oleh kenaikan saham PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) yang melesat 2,68% atau 60 poin ke level 2.300. Saham ADRO juga diborong asing dengan net buy sebanyak Rp115,95 miliar. 

Selain itu, saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) juga menopang indeks dengan penguatan 2,25% atau 50 poin menuju 2.270 dan saham PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk. (INKP) yang naik 2,15% atau 175 poin ke posisi 8.300.

Untuk anggota konstituen yang memberatkan laju indeks antara lain saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang turun paling dalam hingga 3,75% atau 45 poin ke level 1.155. 

Diikuti saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) yang terkoreksi 1,76% atau 40 poin terkurung di level 2.230 dan juga saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) dengan penurunan 1,63% atau 40 poin ke 2.420.  

Energi

Pada penutupan perdagangan Kamis (6/1), indeks sektor energi ditutup di zona merah, turun ke level 1.149,72 atau menurun 0,18%. 

Pelemahan sektoral dipimpin oleh PT Sumber Energi Andalan Tbk (ITMA) anjlok 6,85% ke level Rp680, lalu saham PT Mitrabahtera Segara Sejati  Tbk (MBSS) ambles 6,84% ke level Rp885, dan saham PT Apexindo Pratama Duta Tbk. (APEX) merosot 6,67% ke level Rp700.

Penurunan tersebut didorong dari harga komoditas minyak dunia yang kembali melemah seiring dengan stok bahan bakar Amerika Serikat (AS) yang melonjak di tengah penurunan permintaan.

Berdasarkan data perdagangan Rabu pada pukul 15.15 WIB harga minyak jenis Brent turun 0,32% ke level US$80,56/barel, sementara harga minyak jenis WTI koreksi 0,30% ke level US$77,56/barel.

Melemahnya harga minyak mentah didorong dari stok minyak mentah AS yang turun 2,1 juta barel, sebagian karena insentif pajak bagi produsen untuk mengurangi persediaan sebelum akhir tahun. Namun, persediaan bensin melonjak lebih dari 10 juta barel, dan stok sulingan naik 4,4 juta barel. 

Barang Konsumen Primer

Pada perdagangan Kamis (6/1), indeks sektor barang konsumen primer ditutup melemah 0,10% di level 668,45. 

Saham yang mendorong pelemahan ialah PT Provident Agro Tbk. (PLAM) ambles 6,86% ke level Rp815, Kemudian diikuti saham PT Martina Berto Tbk. (MBTO) drop 6,58% ke level Rp142, dan saham PT Indo Oil Perkasa Tbk. (OILS) merosot 6,51% ke level Rp316.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2021 tetap rendah dan berada di bawah kisaran sasaran 3,0±1%. Inflasi IHK 2021 tercatat sebesar 1,87% (yoy), meningkat dibandingkan dengan inflasi IHK 2020 sebesar 1,68% (yoy). 

Inflasi yang rendah pada tahun 2021 tersebut dipengaruhi oleh permintaan domestik yang belum kuat.

Dampak pandemi Covid-19, masih terasa namun pasokan tetap memadai, dan sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah baik di tingkat pusat maupun daerah dalam menjaga kestabilan harga.

Barang Konsumen Non-Premier

Pada penutupan perdagangan Kamis (6/1), indeks sektor barang konsumen non-primer ditutup melemah 1,29% ke level 869,71. 

Pelemahan sektor ini dipimpin oleh saham PT Primarindo Asia Infrastructure Tbk. (BIMA) anjlok 6,98% ke level Rp240, lalu diikuti saham PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk. (MAPA) ambles 6,95% ke level Rp2.410 dan saham PT Arkadia Digita Media Tbk. (DIGI) drop 6,72% ke level Rp111.

Kementerian Keuangan melaporkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2021 mencapai Rp783,7 triliun atau 4,65% dari Produk Domestik Bruto (PDB) (unaudited). 

Defisit ini lebih rendah dibandingkan 2020 yang tercatat sebesar Rp947 triliun atau 6,14% maupun target 2021 yang ditetapkan 5,7% dari PDB.Namun jika dibandingkan realisasi tahun 2020, defisit anggaran 2021 turun 17,3%.  

Dengan demikian, Menkeu menyatakan bahwa defisit semakin membaik bahkan sudah di bawah 5%. Defisit sepanjang 2021 tersebut terjadi akibat penerimaan negara tak sebanding dengan belanja negara pemerintah.

Kesehatan

Pada Kamis (6/1) indeks sektor kesehatan ditutup menguat 0,48% ke level 1.429,60. 

Penguatan sektor ini dipimpin saham PT Royal Prima Tbk. (PRIM) yang melesat 7,22% ke level Rp416, lalu diikuti saham PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) naik 5,10% ke level Rp6.700, dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ) tumbuh 3,25% ke level Rp318.

Kenaikan kasus covid-19 termasuk varian Omicron yang terus berkembang, membuat saham-saham di sektor ini membalik menguat. Berdasarkan data perdagangan investor kini mulai memborong saham-saham farmasi di tengah terjadinya lonjakan kasus Covid-19.

Saham-saham yang banyak di borong asing diantaranya adalah saham SIDO dengan net foreign buy mencapai Rp5,13 miliar di seluruh market, lalu diikuti saham MIKA sebesar Rp2,35 miliar di seluruh market dan saham MERK sebesar Rp266,03 juta di seluruh market.

Bahan Baku

Indeks sektor barang baku pada penutupan perdagangan Kamis (6/1) ditutup di zona merah dengan pelemahan 0,81% ke level 1.213,08. 

Pelemahan sektor ini didorong oleh saham PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk. (SBMA ambles 6,97% ke level Rp374, diikuti saham PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk. (SAMF) merosot 6,90% ke level Rp1.080 dan saham PT Berkah Beton Sadaya Tbk. (BEBS) drop 6,85% ke level Rp4.960.

Penurunan sektor ini didorong dari harga nikel yang melemah. Hal ini seiring proyeksi pasokan di pasar yang meningkat pada 2022. Sementara pertumbuhan permintaan dari China melambat.

Berdasarkan data perdagangan Rabu, pukul 16.54 WIB harga nikel turun 1,08% ke level US$20.415/ton. Penurunan ini mematahkan  penguatan selama delapan hari beruntun yang mencatatkan kenaikan 8,95%.

Pertumbuhan harga nikel dunia pun diperkirakan lesu pada tahun ini. Kondisi ini akan terjadi karena adanya surplus produksi nikel yang pulih dari gangguan pandemi Covid-19.

Perindustrian

Pada penutupan perdagangan Kamis (6/1), sektor perindustrian ditutup menguat 0,16% ke posisi 1.031,51. 

Beberapa saham yang terpantau mengalami pelemahan ialah saham PT Ladangbaja Murni Tbk. (LABA) melejit 18,98% ke level Rp163. lalu PT Tanah Laut Tbk. (INDX) melesat 16,15% ke level Rp151 dan  PT Lion Metal Works Tbk. (LION) naik 6,92% ke level Rp340.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) telah menargetkan pertumbuhan industri manufaktur sebesar 4,5%-5% untuk tahun ini. Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia optimis bahwa target tersebut dapat dipenuhi. 

Meski demikian, Kemenperin harus bekerja keras dalam mencapainya, sebab saat ini belum semua industri manufaktur pulih akibat terjangan pandemi Covid-19.

Selain itu, terdapat tiga faktor yang dapat mendorong pertumbuhan industri manufaktur bisa sesuai target. Diantaranya ialah faktor pengendalian pandemi dan kecepatan transisi dari kebijakan fase pandemi ke fase endemi. Lalu, eformasi struktural daya saing iklim usaha dan investasi di sektor manufaktur sendiri dan pembenahan mismatch domestik supply chain industri manufaktur nasional.

Keuangan

Indeks sektor keuangan berada di zona hijau setelah bergerak positif 0,13% ke level 1.576,75 pada perdagangan Kamis (6/1). 

PT Bank Maspion Indonesia Tbk. (BMAS) memimpin penguatan 21,78% ke level Rp1.985, diikuti PT Bank Mestika Dharma Tbk. (BBMD) melesat 9,82% ke level Rp2.180 dan PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk. (TRIM) menguat 6,82% ke level Rp376. 

Sektor keuangan di pasar modal tahun ini diprediksi akan ramai dengan tren akuisisi bank digital. Indonesia Fintech Society memproyeksikan hal ini seiring dengan terbukanya peluang dari sisi pasar maupun regulasi yang didorong peluang yang masih lebar sebab tingkat inklusi keuangan Indonesia yang masih rendah.

Kendati begitu, Menteri Keuangan memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 3,7% hingga akhir 2021. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan dengan proyeksi awal tahun 2021 sebesar 4,43%. Hal ini didorong oleh kenaikan kasus varian Delta pada Juni 2021.

Properti dan Realestat

Pada perdagangan Kamis (6/1) indeks sektor properti dan realestat koreksi 0,92% ke level 758,93. 

Beberapa pelemahnya antara lain PT Plaza Indonesia Tbk. (PLIN) anjlok 6,81% ke level Rp1.985, lalu PT Pollux Properties Indonesia Tbk. (POLL) merosot 6,58% ke level Rp1.065 dan PT Kota Satu Properti Tbk. (SATU) turun 3,96% ke level Rp97. 

Belum usainya pandemi Covid-19 masih membayangi sektor properti dan realestat, khususnya sektor perkantoran. Sepanjang 2022, diprediksi bisnis perkantoran khususnya di DKI Jakarta masih akan mengalami tekanan. 

Tingkat hunian di Central Business District (CBD) sepanjang 2021 hanya memenuhi kuota 78,4% atau turun sekitar 5% jika dibandingkan sebelum pandemi. Untuk area non-CBD hanya memenuhi kuota 79,2% atau turun sekitar 3% dibanding tahun 2019.

Kendati begitu, sejumlah emiten properti telah mengalokasikan belanja modal yang lebih besar dari tahun lalu. Pemulihan ekonomi yang diikuti pemulihan daya beli di masyarakat menjadi faktor pendorongnya. 

Teknologi

Pergerakan indeks sektor teknologi berakhir di zona merah pada perdagangan Kamis (6/1) dengan penurunan 1,08% ke level 9.532,90. 

Saham-saham yang memberati antara lain PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk. (CASH) tersungkur 8,46% ke level Rp238, lalu PT Global Sukses Solusi Tbk. (RUNS) menyusut 5,13% ke level Rp296 dan PT Anabatic Technologies Tbk. (ATIC) jatuh 4,96% ke level Rp670. 

Meski pada sepanjang tahun 2021 sektor teknologi menjadi sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi, sektor teknologi masih kekurangan katalis positif. Kinerja fundamental perusahaan yang belum terlihat membuat investor mengalihkan asetnya ke sektor lain seperti sektor keuangan dan komoditas.

Rencana masuknya perusahaan unikorn seperti GoTo di tahun 2022 akan menjadi magnet baru terutama investor milenial. Tidak hanya itu, masuknya perusahaan unikorn juga diharapkan dapat menarik aliran modal investor asing ke pasar modal Indonesia. 

Infrastruktur

Kinerja indeks sektor infrastruktur lesu pada penutupan perdagangan Kamis (6/1) dengan penurunan 0,65% ke level 947,17. 

Beberapa saham yang terparkir di zona merah yaitu PT Indonesia Pondasi Raya Tbk. (IDPR) merosot 6,48% ke level Rp202, disusul PT Djasa Ubersakti Tbk. (PTDU) menurun 5,95% ke level Rp174 dan PT Nusantara Pelabuhan Handal Tbk. (PORT) jatuh 5,38% ke level Rp615. 

Meski dari kinerja saham belum begitu pulih, perusahaan emiten infrastruktur pada 2022 berpeluang akan mengalami perbaikan seiring dengan pemerintah yang kembali mengebut pembangunan yang sempat tertunda di tahun 2020 akibat pandemi Covid-19.

Emiten konstruksi diproyeksikan akan terkerek naik didukung total kontrak baru proyek infrastruktur yang melesat 10,4% menjadi Rp1.723 triliun dibandingkan tahun 2021 sebesar Rp1.560 triliun. Proyek konstruksi telah menunjukkan pemulihan sejak 2021  yang ditopang oleh investasi pemerintah, proyek strategis dan investasi wisata. 

Transportasi dan Logistik

Indeks sektor transportasi dan logistik meningkat 0,25% ke level 1.611,30 pada perdagangan Kamis (6/1). 

Penguatan ini ditopang oleh PT Sidomulyo Selaras Tbk. (SDMU) meroket 34,85% ke level Rp89, diikuti PT AirAsia Indonesia Tbk. (CMPP) melambung 24,55% ke level Rp274 dan PT Pelayaran Nelly Dwi Putri Tbk. (NELY) terangkat 24,46% ke level Rp346. 

Sektor transportasi dan logistik mendapat sentiment positif dari pemerintah yang akan terus melanjutkan kebijakan percepatan pembangunan infrastruktur transportasi. Total nilai proyek tercatat dalam RPJMN periode 2019-2024 berkisar Rp1.966 triliun. 

Sepanjang libur Nataru beberapa pekan lalu turut mengangkat kinerja perusahaan sektor transportasi. Penumpang kereta api tercatat mengalami peningkatan 56%, angkutan jalan naik 25% dan angkutan udara 10% sedangkan angkutan laut menurun 26%. 


Editor: Aprilian Hermawan

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar