IHSG Menguat di Tengah Sentimen Variatif Bursa Asia

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 50,51 poin atau 0,77% ke 6.632,29 pada akhir perdagangan Senin (8/11). Penguatan IHSG ini terjadi di tengah variatifnya bursa Asia.

Bisnis Indonesia Resources Center

8 Nov 2021 - 18.12
A-
A+
IHSG Menguat di Tengah Sentimen Variatif Bursa Asia

Pengunjung memotret papan elektronik yang menampilkan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, belum lama ini. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat 50,51 poin atau 0,77% ke 6.632,29 pada akhir perdagangan Senin (8/11). Dari data perdagangan tercatat nilai transaksi mencapai Rp11,7 triliun.

Sebanyak 283 saham naik, 224 saham turun dan 167 lainnya stagnan. Investor asing tercatat kembali melakukan pembelian bersih (net buy) sebesar Rp463,46 miliar di seluruh pasar.

Investor asing yang melakukan aksi pembelian bersih terbanyak ada di saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sebesar Rp328 miliar. Diikuti saham PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) dengan Net Foreign Buy sebesar Rp185 miliar.

Sementara itu, pada penjualan bersih investor asing melepas saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sebesar Rp56 miliar dan di saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) sebesar Rp52 miliar.

Sedangkan secara sektoral, indeks sektor Keuangan, Industri dan Energi menjadi pendorong apresiasi IHSG, di mana ketiganya menyumbang kenaikan masing-masing sebesar 1,61%, 1,28% dan 0,92%

Penguatan IHSG terjadi di tengah pergerakan variatif di bursa Asia. Indeks saham utama di kawasan Asia merespons keputusan kebijakan bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang menahan suku bunga acuan AS (Federal Funds Rate) di level 0,25% pekan lalu.

Bank sentral terkuat dunia ini juga mulai mengurangi nilai pembelian aset di pasar dari posisi sekarang US$ 120 miliar/bulan, pada akhir bulan ini. Indeks saham China yakni Shanghai dan Shenzen menguat 0,20% dan 0,12%, sementara Nikkei Jepang dan KOSPI Korea Selatan tertekan 0,35% dan 0,20%.

Selain itu, sentimen positif lainnya datang dari komoditas energi, di mana China melaporkan impor batu bara yang melonjak nyaris dua kali lipat pada Oktober, yakni sebesar 26,9 juta ton, atau melesat 96,2% secara tahunan dan 18,2% secara bulanan.  

Indeks Bisnis-27

Indeks Bisnis-27 pada perdagangan Senin (8/11) ditutup menguat 0,12% atau naik 0,61 poin menjadi 513.

Sepanjang perdagangan Indeks Bisnis-27 bergerak di rentang 511,20 hingga tertinggi di level 515,28. Di antara 27 anggota konstituen indeks, terdapat 15 saham menguat, 2 saham stagnan dan 10 saham melemah,

Saham yang menduduki puncak top gainers, ialah saham PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Syariah Tbk. (BTPS) memimpin penguatan sebesar 5,11% menjadi Rp3.910 dengan Net Foreign Buy mencapai Rp10,40 miliar.

Selanjutnya saham PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) naik 3,37% menjadi Rp4.290 dengan Net Foreign Buy sebesar Rp672,92 juta dan saham PT United Tractors Tbk. (UNTR) naik 3,35% menjadi Rp2.150 dengan Net Foreign Buy sebesar Rp28,09 miliar.

Sebaliknya saham yang menduduki penurunan paling dalam ialah. saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR) drop 3,28% menjadi Rp9.575 dengan Net Foreign Sell mencapai Rp90,35 miliar, lalu saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) turun 1,41% menjadi Rp7.000 dengan Net Foreign Sell sebesar Rp55,59 miliar.

Kemudian saham PT Ace Hardware Indonesia Tbk (ACES) terkoreksi 1,34% ke level Rp1.470 dengan Net Foreign Sell sebesar Rp533,72 juta. 

Energi

Pada penutupan perdagangan Senin (8/11) indeks sektor energi ditutup di zona hijau, naik ke level 1.005,35 atau menguat 0,92%.

Penguatan sektoral dipimpin oleh PT Petrosea Tbk (PTRO) yang melejit 6,54% ke level Rp2.770, Lalu saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) melesat 6,08% ke level Rp34.000 dan saham PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) naik 4,73% ke level Rp310.

Penguatan tersebut adanya sentimen dari harga komoditas batu bara yang mempertahankan kinerja positifnya pada akhir pekan lalu meski dihadapi dengan potensi koreksi seiring adanya tekanan dari dunia terhadap energi fosil.

Harga batu bara di bursa Newcastle menguat 0,42% ke level US$155,40/ton pada pukul 15.30 WIB. Meskipun batu bara termal menjauh dari harga US$200 per metrik ton, nilai ini masih terbilang tinggi.

Terakhir kali harga batu bara berada di kisaran US$150/ton tercatat pada Juli 2021. Sebagai perbandingan, pada Januari 2021, batu bara masih dihargai US$85/ton.          

Barang Konsumen Primer

Pada perdagangan Senin (8/11), indeks sektor barang konsumen primer menguat 0,29% di level 691,83.

Saham yang mendorong penguatan ialah PT Wahana Pronatural Tbk. (WAPO) meroket 14,62% ke level Rp298, Kemudian diikuti saham PT Victoria Care Indonesia Tbk. (VICI) melejit 10,54% ke level Rp535 dan saham PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SDPC) melesat 9,02% ke level Rp145.

Menurut Institute for Development of Economics and Finance (Indef), pada kuartal III/2021 pengeluaran konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 1,03% YoY, angka itu melambat dari kuartal II/2021 dengan pertumbuhan 5,96% YoY.

Akan teapi di komponen lainnya, yakni pembentukan modal tetap bruto (PMTB) mencatatkan pertumbuhan 3,74% YoY. Komponen dengan distribusi 31,75% terhadap PDB ini memberikan dorongan cukup baik bagi pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, pada ekspor kuartal III/2021 tercatat tumbuh 29,16% YoY dan impor tumbuh 30,11% YoY. Menurut Indef, pemerintah perlu mencermati laju pertumbuhan impor yang lebih tinggi dari ekspor.

Barang Konsumen Non Primer

Pada penutupan perdagangan Senin (8/11), indeks sektor barang konsumen non-primer menguat 1,30% ke level 871,94.

Penguatan sektor ini dipimpin oleh saham PT GayAsia Pacific  Fibers Tbk. (POLY) melejit 9,43% ke level Rp58, diikuti saham PT MNC Studios International Tbk. (MSIN) melesat 7,92% ke level Rp545 dan saham PT Garuda Metalindo Tbk. (BOLT) naik 7,03% ke level Rp685.

Pertumbuhan ekonomi kuartal III/2021 tercatat sebesar 3,51% yoy, atau secara kuartalan 1,55% qtq. Pertumbuhan pada periode tersebut didorong utamanya oleh kinerja investasi dan ekspor, yang tumbuh masing-masing sebesar 3,74% yoy dan 29,16% yoy.

Komoditas utama yang mendorong kinerja ekspor Indonesia masih didominasi oleh sektor yang berasal dari Sumber Daya Alam (SDA), seperti sektor pertambangan dan perkebunan. Utamanya, yaitu batu bara dan CPO.

Kesehatan

Pada Senin (8/11) indeks sektor kesehatan ditutup melemah 0,15% ke level 1.413,31.

Pelemahan sektor ini dipimpin oleh PT Siloam International Hospitals Tbk. (SILO) turun 2,08% ke level Rp8.250, lalu diikuti PT Soho Global Health Tbk. (SOHO) melemah 1,46% ke level Rp5.050 dan PT Itama Ranoraya Tbk. (IRRA) koreksi 1,41% ke level Rp1.745.

Tampaknya para pelaku pasar saat ini sedang melakukan aksi profit taking seiring dengan penurunan kasus Covid-19 yang terjadi belakangan ini, sehingga pendapatan di sektor rumah sakit dan farmasi dari pasien Covid-19 diprediksi akan menurun. 

Akan tetapi penurunan itu nantinya terkompensasi oleh volume pasien biasa. Mengingat sebelumnya, volume pasien biasa sudah turun karena masyarakat cenderung menghindari kunjungan ke rumah sakit untuk meminimalisir penularan virus Covid-19.

Keuangan

Indeks sektor keuangan melesat 1,61% ke level 1.558,86 pada penutupan perdagangan Senin (11/8).

Bank-bank dengan kapitalisasi mini memimpin penguatan, di antaranya PT Bank Victoria Internasional Tbk. (BVIC) meroket 25,52% ke level Rp182, diikuti PT Bank Dinar Indonsia Tbk. (DNAR) melonjak hingga 24,60% ke level Rp314 dan PT Bank Ganesha Tbk. (BGTG) menanjak 21,03% ke level Rp236.

Katalis dari dalam negeri yaitu rilis Badan Pusat Statistik (BPS) yang mengumumkan perekonomian Indonesia tumbuh 3,51% pada kuartal III/2021. Angka ini berbanding terbalik dengan tahun lalu yang minus 3,49%.

OJK juga mengumumkan perbankan mulai bangkit terlihat dari pertumbuhan kredit perbankan yang mencapai Rp5.652,8 triliun.

Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) juga terus tumbuh, bahkan lebih cepat dari kredit perbankan, yakni sebesar 7,69% yoy menjadi Rp7.162,3 triliun pada September 2021.

Pertumbuhan aktivitas perekonomian mulai pulih sejalan dengan meredanya penyebaran Covid-19 dan peningkatan vaksinasi.

Properti dan Real Estat

Pada penutupan perdagangan Senin (8/11) indeks sektoral properti dan real estat tumbuh 0,36% ke level 870,83.

Beberapa saham yang menguat antara lain PT Suryamas Dutamakmur Tbk. (SMDM) melesat tajam 34,46% ke level Rp199, lalu PT Bekasi Adri Pemula Tbk. (BAPA) meningkat 7,58% ke level Rp71 dan PT Pakuwon Jati Tbk. (PWON) tumbuh 1,94% ke level Rp525.

Real Estat Indonesia (REI) memproyeksikan industri properti akan tetap tumbuh di 2022 seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan sentimen positif dari keberhasilan pemerintah dalam melakukan vaksinasi Covid-19.

Beberapa insentif yang diberikan pemerintah untuk memerangi dampak negatif Covid-19 terhadap perekonomian terbukti mampu menciptakan lingkungan ramah bisnis.

Selain insentif PPN, pemberlakuan UU Nomor 11/2020 tentang Cipta Kerja, dan restrukturisasi utang sebagai kebijakan kontra siklus oleh OJK telah membantu pelaku usaha menghadapi masalah keuangan akibat pandemi.

Teknologi

Indeks sektor teknologi terpantau melemah 1,70% ke level 9.275,96 pada Senin (8/11).

Saham pemberatnya antara lain PT Cashlez Worldwide Indonesia Tbk. (CASH) menipis 4,35% ke level Rp308, lalu PT Global Sukses Solusi Tbk. (RUNS) tergerus 3,37% ke level Rp344 dan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) jatuh 1,77% ke level Rp1.940.

Pelemahan emiten teknologi selain diberati oleh fenomena window dressing jelang akhir tahun, pendorong harag saham semakin menurun. Para pelaku pasar menunggu bukti fundamental agar dapat lebih kuat menopang kenaikan harga saham.

Apabila pergerakan saham berbasiskan valuasi fundamental tentu akan lebih berkesinambungan bagi prospek pertumbuhan tidak hanya ditopang oleh sentimen atau ekspektasi pelaku pasar. 

Sektor teknologi memiliki banyak kesempatan untuk terus bertumbuh seiring dengan meluasnya digitalisasi khususnya semenjak adanya pandemi Covid-19.

Infrastruktur

Pada perdagangan Senin (8/11) indeks saham infrastruktur tumbuh 0,72% ke level 989,52.

Saham sektor telekomunikasi memimpin penguatan, yaitu  PT Inti Bangun Sejahtera Tbk. (IBST) melambung 10,12% ke level Rp8.975, lalu PT Smartfrem Telecom Tbk. (FREN) menguat 5,61% ke level Rp113 dan PT Indosat Tbk. (ISAT) naik 3,21% ke level Rp7.225.

Pembangunan pangkalan data atau data center diperkirakan masih terjadi hingga tahun depan. Aktivitas ini akan memacu investasi masuk ke Indonesia lebih deras.

Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Muhammad Arif Angga mengatakan pangkalan data dalam beberapa bulan terakhir menjadi daya tarik di industri telekomunikasi.

Luasnya peluang bisnis pangkalan data di Indonesia disinyalir menjadi daya tarik yang kuat bagi investor asing untuk masuk dan terlibat. Sejalan dengan itu, para pengusaha lokal khususnya infrastruktur properti semakin gencar dalam mengembangkan bisnis pangkalan data sehingga menciptakan potensi bisnis yang semakin besar.

Transportasi dan Logistik

Kinerja indeks saham transportasi dan logistik ditutup paling kuat di IHSG atau terangkat 1,66% ke level 1.278,87 pada Senin (8/11).

Saham penopangnya adalah PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) meroket 11,66% ke level Rp910, disusul PT Armada Berjaya Trans Tbk. (JAYA) menguat 8,76% ke level Rp149 dan PT Indonesia Transport & Infrastructure Tbk. (IATA) tumbuh 6,67% ke level Rp64.

Menjelang akhir tahun, emiten pelayaran mendulang berkah dengan banyaknya pesanan barang komoditas di Tanah Air.

Untuk menghindari kemacetan, Asosiasi Agen Pelayaran Indonesia atau Indonesian Shipping Agency Association (ISAA) menilai pemilik kapal bakal mencari alternatif pelabuhan terdekat untuk bersandar dan segera membongkar kontainer supaya dapat menghindari tumpukan di pelabuhan global.

Sebelumnya penumpukan di pelabuhan global terjadi akibat Covid-19, kelangkaan kontainer, dan tarif logistik yang melambung. Indonesia juga merasakan dampaknya yaitu adanya gangguan pada aktivitas ekspor-impor.

Barang Baku

Indeks sektor barang baku pada penutupan perdagangan Senin (8/11) ditutup di zona hijau dengan penguatan 0,04% ke level 1.207,18.

Penguatan sektor ini didorong oleh saham PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP) melesat 9,30% ke level Rp470, kemudian PT Sriwahana Adityakarta Tbk. (SWAT) menguat 2,84% ke level Rp181 dan PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk. (OPMS) tumbuh 2,10% ke level Rp146.

Produsen pipa baja PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk. (ISSP) atau Spindo mampu mengerek utilisasi hingga di atas 60% pada kuartal III/2021.

Adapun faktor pendorong pemulihan industri baja pada paruh kedua tahun ini yakni pemulihan ekonomi nasional yang belakangan ditandai dengan angka rekor Purchasing Managers Index (PMI) pada Oktober mencapai 57,2.

Menurut catatan Asosiasi Produsen Baja Ringan Indonesia (APBRI), pertumbuhan itu juga diiringi peningkatan utilisasi dari 51,2% pada awal 2021 menjadi 79,93% pada pertengahan tahun ini.

Perindustrian

Pada penutupan perdagangan Senin (8/11), sektor perindustrian ditutup melejit 1,28% ke posisi 1.073,39.

Beberapa saham yang terpantau mengalami penguatan ialah saham PT Arkha Jayanti Persada Tbk. (ARKA) memanjat 4,69% ke level Rp67, lalu PT Dyandra Media International Tbk. (DYAN) berkembang 4,44% ke level Rp94 dan PT Ladangbaja Murni Tbk. (LABA) tumbuh 1,51% ke level Rp202.

Produksi keramik nasional pada tahun ini diproyeksikan menembus seperti sebelum pandemi.

Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki) Edy Suyanto mengatakan perkiraan volume produksi pada tahun ini sebesar 410 juta m2 atau tumbuh 33% dibandingkan dengan tahun lalu, yakni 308 juta m2.

Adapun, jika dibandingkan dengan 2019, proyeksi tahun ini tumbuh 17,47%. Proyeksi pertumbuhan itu seiring dengan kinerja utilisasi produk nasional industri keramik yang kembali meningkat seiring dengan pelonggaran PPKM.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Aprilian Hermawan

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.