IHSG Tetap Perkasa di Tengah Tapering Off

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,52% pada perdagangan Kamis (4/11) pasca-pengumuman Federal Reserve terkait kejelasan rencana tapering pada akhir tahun 2021. IHSG terpantau parkir pada posisi 6.586,44 atau naik 34,31 poin.

Bisnis Indonesia Resources Center

4 Nov 2021 - 17.47
A-
A+
IHSG Tetap Perkasa di Tengah Tapering Off

Gedung bank sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve di Washington, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu. Bloomberg/Andrew Harrer

Bisnis, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,52% pada perdagangan Kamis (4/11) pasca-pengumuman Federal Reserve terkait kejelasan rencana tapering off pada akhir tahun 2021. IHSG terpantau parkir pada posisi 6.586,44 atau naik 34,31 poin.

Sepanjang perdagangan, indeks bergerak di rentang 6.552,13 hingga 6.617,84. Tercatat kapitalisasi pasar mencapai Rp8.115,06 triliun dengan nilai transaksi bursa sebesar Rp11,05 triliun.

Sektor transportasi pimpin penguatan indeks komposit dengan kenaikan harga indeks sebesar 2,99%. Selain itu, sektor energi dan barang baku juga terkerek masing-masing 2,16% dan 1,07%.

Investor asing kembali mencatatkan aksi beli bersih Rp315,66 miliar di seluruh pasar. Investor asing terlihat memborong saham farmasi, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) dengan net buy Rp216,77 miliar, tetapi aksi beli ini belum dapat menahan aksi jual investor domestik yang membawa sahamnya melemah 5 poin atau 0,31% ke level 1.630.

Investor asing juga memborong saham emiten bank PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebanyak Rp136,9 miliar dan mendongkrak sahamnya naik 50 poin atau 0,7% ke level 7.175. Adapula PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) yang diborong Rp103,56 miliar.

Sentimen dari Negeri Paman Sam yakni bank sentral AS (The Fed) telah resmi mengumumkan tapering off (pengurangan pembelian obligasi) di mana laju injeksi likuiditas telah dikurangi sebesar US$15 miliar per bulan. Namun keputusan tersebut tidak direspons negatif oleh pasar seperti yang terjadi di tahun 2013.

Bursa saham Wall Street justru ditutup menguat, Indeks Dow Jones naik 0,29%, Indeks S&P 500 menguat 0,65% dan Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan apresiasi 1,04%.

Kenaikan harga saham di bursa Wall Street ini menjadi katalis positif bagi IHSG. Di sisi lain, pelaku pasar juga telah mengantisipasi adanya tapering sehingga kebijakan tersebut tidak menimbulkan kejutan yang berarti. Semua kebijakan sudah sesuai proyeksi dan akhirnya pasar pun tidak reaktif.

Indeks Bisnis-27

Setali tiga uang dengan menguatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Indeks Bisnis-27 menutup perdagangan di teritori positif pada perdagangan Kamis (4/11).

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, indeks mengakhiri lajunya di level 512,08 atau menguat 0,47% (2,41) poin. Sepanjang perdagangan Indeks Bisnis-27 bergerak di rentang 509,68 hingga tertinggi di level 515,97.

Di antara 27 anggota konstituen indeks, terdapat 14 saham yang parkir di zona hijau alias menguat, 8 diantaranya melemah, dan sisanya 5 saham tidak bergerak dari posisi sebelumnya.

Dua saham emiten semen menduduki puncak top gainers, saham PT Indocement Tunggal Prakasa Tbk. (INTP) memimpin penguatan dengan kenaikan 5,37% atau 650 poin ke level 12.750. Di bawahnya mengikuti saham PT Semen Indonesia (Persero) Tbk. (SMGR) yang terpantau naik 4,49% atau 425 poin ke posisi 9.900. Berikutnya saham PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) juga terpantau menguat 3,23% ke posisi 1.920.

Sebaliknya saham PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. (TPIA) memberatkan laju kenaikan indeks dengan koreksi paling dalam sebesar 1,35% atau 100 poin dan parkir di level 7.325. Selanjutnya terdapat saham PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) yang juga terpantau turun 1,33% ke level 2.230.

Keuangan

Indeks sektor keuangan terpantau meningkat 0,28% ke level 1.535,30 pada perdagangan Kamis (4/11).

Bank dengan kapitalisasi mini bertengger di atas, beberapa di antaranya PT Bank JTrust Indonesia Tbk. (BCIC) meroket 34,93% ke level Rp197, lau PT Bank Neo Commerce Tbk. (BBYB) menguat 5,34% ke level Rp1.480 dan PT bank MNC Internasional Tbk. (BABP) naik 3,77% ke level Rp220.

OJK memproyeksikan kepercayaan investor terhadap kondisi perekonomian Indonesia ke depan akan semakin meningkat seiring dengan pemulihan ekonomi dan penanganan pandemic Covid-19 yang kian membaik. Hal itu didukung oleh pertumbuhan ekonomi Indonesia tumbuh positif 7,07% (yoy) pada triwulan II/2021 dan pemerintah memperkirakan hingga akhir tahun pertumbuhan mencapai 3,7%– 4,5%.

Kepercayaan investor terhadap pasar modal dan perekonomian Indonesia juga terlihat dari nilai penghimpunan dana yang terkumpul hingga 26 Oktober 2021 mencapai Rp273,9 triliun dan 40 emiten baru yang telah melakukan penawaran umum.

Properti dan Real Estat

Pada penutupan perdagangan Rabu (13/10) indeks sektor properti dan real estat terangkat 0,09% ke level 876,53.

Saham-saham penopangnya antara lain PT Kawasan Industri Jababeka Tbk. (KIJA) melonjak 6,83% ke level Rp172, diikuti PT Sentul City Tbk. (BKSL) menguat 6,06% ke level Rp 70 dan PT Cahayasakti Investindo Sukses Tbk. (CSIS) naik 4,81% ke level Rp109.

Kabar baik untuk sektor properti datang dari Bank Indonesia (BI) yang melanjutkan pelonggaran rasio Loan to Value/Financing to Value (LTV/FTV) Kredit/Pembiayaan Properti menjadi paling tinggi 100% untuk semua jenis properti (rumah tapak, rumah susun, serta ruko/rukan) hingga tahun depan. Kebijakan ini juga berlaku efektif 1 Januari 2022 sampai dengan 31 Desember 2022.

Selain itu, melandainya kasus Covid-19 turut meningkatkan kepercayaan konsumen dalam membeli produk properti. Sejumlah perusahaan pengembang properti Tanah Air mulai membukukan kinerja positif di kuartal III/2021.

Teknologi

Kinerja indeks sektor teknologi tumbuh 0,41% ke level 9.324,35 pada perdagangan Kamis (4/11).

Saham yang mengalami pertumbuhan antara lain PT Cahslez Worldwide Indonesia Tbk. (CASH) melesat 9,70% ke level Rp294, lalu PT Elang Mahkota Teknologi Tbk. (EMTK) terangkat 3,23% ke level Rp1.920 dan PT Kresna Graha Investasi Tbk. (KREN) naik 0,96% ke level Rp105.

Dalam waktu dekat BEI akan mengesahkan aturan tentang multiple voting share (MVS) alias saham hak suara multipel (SHSM). Regulasi MVS ini dibuat untuk membuka peluang perusahaan teknologi melaksanakan IPO dengan tetap menjaga pengendalian dari para pendiri perusahaan. Aturan ini memungkinkan pemegang satu saham dapat memiliki lebih dari satu hak suara. 

Sebagaimana diketahui, secara permodalan, kepemilikan pendiri perusahaan berbasis teknologi tergolong kecil jika dibandingkan dengan jumlah modal yang ditanamkan investor lain. Dengan tetap menjadi pengendali meski persentase kepemilikan kecil, para pendiri perusahaan diharapkan tetap memiliki kuasa untuk mewujudkan ide maupun visi perusahaan jangka panjang. 

Infrastruktur

Pada penutupan perdagangan Kamis (4/10) indeks sektor infrastruktur menguat 0,61% ke level 978,90.

Saham-saham yang berada di zona hijau yaitu PT Wijaya Karya (Persreo) Tbk. (WIKA) menanjak 2,77% ke level Rp1.300, diikuti PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk. (IPCC) naik 2,75% ke level Rp560 dan PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR) tumbuh 2,63% ke level Rp4.300.

Sejumlah asosiasi terkait sektor infrastruktur menyebut bentuk Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) merupakan skema yang tepat untuk mengatasi permasalahan pembiayaan pembangunan infrastruktur di Tanah Air. Skema KPBU bisa dimanfaatkan sebagai salah satu upaya mengurangi tekanan pada APBN dan APBD.

Sebagai informasi, alokasi anggaran pembangunan infrastruktur dalam APBN 2021 mencapai Rp470 triliun. Meski demikian, Menteri Keuangan menyebutkan pembiayaan infrastruktur tidak bisa dilakukan hanya oleh pemerintah sendiri, sehingga sektor swasta diharapkan dapat berpartisipasi lebih banyak lagi.

Transportasi dan Logistik

Pergerakan indeks sektor transportasi dan logistik terpantau paling moncer di IHSG pada Kamis (4/11) dengan kenaikan 2,99% ke level 1.263,35.

PT Steady Safe Tbk. (SAFE) meroket auto reject atas mencapai 24,55% ke level Rp274, lalu PT Temas Tbk. (TMAS) melambung 24,53% ke level Rp396 dan PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) tumbuh 5,03% ke level Rp835.

Dalam menjaga keuangan perusahan, emiten pelayaran TMAS mengandalkan penjualan kapal. Hal ini disebabkan pada lini pengiriman barang tidak begitu memberikan laba akibat kenaikan BBM meskipun aktivitas pengiriman meningkat. Selain penjualan kapal, TMAS juga ada berbagai bisnis lainnya seperti Temas Port dan Temas Depo.

Berdasarkan laporan keuangan terakhir, TMAS mencatatkan kinerja keuangan yang cukup signifikan pada semester I/2021. Pendapatan bersih TMAS pada paruh pertama tahun ini mencapai Rp1,53 triliun atau naik dari periode sebelumnya Rp1,31 triliun.

Energi

Pada penutupan perdagangan Kamis (4/11) indeks sektor energi ditutup di zona hijau, naik ke level 1.006,44 atau menguat 2,16%.

Penguatan sektoral dipimpin oleh PT Sky Energy Indonesia Tbk. (JSKY) yang melesat 14,29% ke level Rp144, Lalu saham PT Soechi Lines Tbk. (SOCI) melejit 9,28% ke level Rp212 dan saham PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) naik 7,59% ke level Rp170.

Kembali menguatnya saham-saham di sektor ini. Seiring dengan  harga komoditas batu bara yang kembali melesat. Diketahui perdagangan harga batu bara di pasar ICE Newcastle (Australia) melesat 11,64% ke level US$157,30/ton pada pukul 15.15 WIB. Penguatan tersebut adanya technical rebound setelah sebelumnya harga batu bara mengalami anjlok selama 5 hari berturut-turut.

Selama 5 hari tersebut, harga batu bara merosot mencapai 29,57%. Pelemahan Batu bara tersebut tengah diterpa isu negatif. Dari dua konsumen batu bara utama dunia, yakni China dan India.

Barang Konsumen Primer

Pada perdagangan Kamis (4/11), indeks sektor barang konsumen primer ditutup menguat 0,40% di level 690,11.

Saham yang mendorong penguatan ialah PT Wahana Pronatural Tbk. (WAPO) meroket 34,72% ke level Rp194, Kemudian diikuti saham PT Sekar Bumi Tbk. (SKBM) melesat 6,70% ke level Rp446 dan saham PT Multi Bintang Indonesia Tbk. (MLBI) naik 4,66% ke level Rp8.975.

Penguatan tersebut adanya sentimen positif dari kenaikan belanja masyarakat yang seimbang dengan penurunan kasus Covid-19, serta pemulihan belanja setelah PPKM Darurat lebih cepat dari pembatasan-pembatasan sebelumnya.

Diketahui Indeks Belanja Masyarakat, yang dilihat melalui Mandiri Spending Index (MSI), sepanjang 2020-2021 menunjukkan keterkaitan yang erat antara tingginya belanja dan kenaikan jumlah kasus. Dalam beberapa pekan terakhir setelah penurunan kasus Covid-19, tren kasus masih terus menunjukkan penurunan. Namun, pada waktu yang sama pembatasan mobilitas direlaksasi, belanja masyarakat terlihat menunjukkan tren kenaikan.

Barang Konsumen Non Primer

Pada penutupan perdagangan Kamis (4/11), indeks sektor barang konsumen non-primer ditutup menguat 0,78% ke level 855,97.

Penguatan sektor ini dipimpin oleh saham PT Trisula International Tbk. (TRIS) melonjak 31,94% ke level Rp252, diikuti saham PT Tunas Ridean Tbk. (TURI) melejit 15,42% ke level Rp1.385 dan saham PT Globe Kita Terang Tbk. (GLOB) melesat 12,77% ke level Rp212.

Pada kuartal III/2021, emiten TURI membukukan laba bersih sebesar Rp365,8 miliar atau melonjak 185% dibanding periode sama tahun 2020 yang tercatat sebesar Rp128 miliar. Hal itu ditopang pendapatan sebesar Rp8,6 triliun atau naik 40% dibandingkan di akhir kuartal III/2020 yang tercatat sebesar Rp6,181 triliun.

Melesatnya kinerja keuangan tersebut disebabkan oleh kontribusi yang lebih kuat dari bisnis otomotif dan pembiayaan. Terutama didukung oleh penerapan pembebasan pajak penjualan barang mewah sejak bulan Maret, dan sebagian diimbangi oleh pembatasan mobilitas sosial yang lebih ketat yang dimulai pada bulan Juli.

Kesehatan

Pada Kamis (4/11) indeks sektor kesehatan ditutup melemah 0,19% ke level 1.412,85.

Pelemahan sektor ini dipimpin oleh PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk. (MIKA) turun 1,33% ke level Rp2.230, lalu diikuti PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul (SIDO) melemah 1,15% ke level Rp860 dan PT Medikaloka Hermina Tbk. (HEAL) koreksi 0,89% ke level Rp1.115.

Tampaknya para pelaku pasar saat ini sedang melakukan aksi profit taking terlebih dahulu setelah sepekan sebelumnya mengalami penguatan cukup tinggi. Sehingga para pelaku pasar terutama para investor asing melakukan aksi jual bersihnya (net sell) terhadap saham-saham di sektor ini.

Terpantau saham-saham yang dilepas asing diantaranya saham MIKA yang tercatat net sell sebesar Rp5,78 miliar, lalu diikuti saham HEAL sebesar RP2,45 miliar dan saham BMHS sebesar Rp1,71 miliar.

Barang Baku

Indeks sektor barang baku pada penutupan perdagangan Kamis (4/11) ditutup di zona hijau dengan penguatan 1,07% ke level 1.208,58.

Penguatan sektor ini didorong oleh saham PT Steel Pipe Of Indonesia Tbk. (ISSP) melejit 11,73% ke level Rp400. Diikuti saham PT Gunung Raja Paksi Tbk. (GGRP) melesat 6,45% ke level Rp660 dan saham PT Saranacentral Bajatama Tbk. (BAJA) naik 5,49% ke level Rp346.

Penguatan sektor ini adanya sentimen positif dari industri baja nasional yang mulai membaik. Hal tersebut seiring dengan perbaikan ekonomi dan bergeliatnya proyek-proyek infrastruktur, sehingga produksi baja nasional diproyeksikan mengalami kenaikan sampai dengan akhir tahun ini.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian memperkirakan produksi baja bisa mencapai 12,27 juta ton pada tahun ini atau tumbuh 6,05% dibandingkan dengan tahun lalu yang berjumlah 11,57 juta ton. Dalam jangka menengah, target kapasitas produksi baja diproyeksikan mencapai 17 juta ton pada 2024.

Perindustrian

Pada penutupan perdagangan Kamis (4/11), sektor perindustrian ditutup menguat 0,59% ke posisi 1.061,67.

Beberapa saham terpantau mengalami penguatan ialah saham PT Asahimas Flat Glass Tbk (AMFG) melesat 10,28% ke level Rp4.400. lalu PT Dyandra Media International Tbk. (DYAN) melejit 8,24% ke level Rp92 dan  PT Ace Oldfields Tbk. (KUAS) naik 8,16% ke level Rp212.

Melonjaknya Purchasing Managers's Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2021 diklaim tak lepas dari kebijakan pemerintah yang pro bisnis. Tercatat PMI Manufaktur Indonesia naik ke level ke level 57,2 dari September 2021 sebesar 52,2.

Kinerja industri manufaktur Indonesia secara keseluruhan menunjukkan tren pertumbuhan yang positif dari tahun ke tahun. Ini terlihat dari kontribusi sektor manufaktur terhadap PDB yang selalu meningkat dan nilai investasi sektor manufaktur yang selalu bertambah.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Aprilian Hermawan

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.