Free

Indonesia Dapat Komitmen Investasi Rp125 Triliun Selama KTT G20

Komitmen investasi yang didapat Indonesia selama KTT G20 Bali berasal dari Korea Selatan, China, dan beberapa negara Eropa.

Jaffry Prabu Prakoso

18 Nov 2022 - 19.10
A-
A+
Indonesia Dapat Komitmen Investasi Rp125 Triliun Selama KTT G20

Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi menutup rangkaian Presidensi G20 Indonesia, Rabu (16/11/2022), di Hotel The Apurva Kempinski, Bali - Dok. Biro Setpres RI.

JAKARTA – Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menyebut bahwa Indonesia berhasil mengumpulkan komitmen investasi sekitar US$8 miliar atau setara dengan Rp125 triliun (dengan kurs Rp15.680 per dolar AS) sepanjang gelaran Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT G20 Bali.

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa komitmen investasi sebesar US$8 miliar tersebut sudah ditandatangani. Mereka berasal dari Korea Selatan, China, dan beberapa negara Eropa.

“[Komitmen investasi ] US$7 miliar—US$8 miliar sudah diteken kemudian negaranya ada macam-macam. Ada Korea, China, ada beberapa Eropa. Detailnya nanti pada saat kita tanda tangan HOA [head of agreement],” kata Bahlil dalam keterangan resmi, Jumat (18/11/2022).

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia saat wawancara dengan Bisnis Indonesia di Jakarta, Selasa (25/10/2022). Bisnis/Himawan L Nugraha

Selain itu, Bahlil mengatakan bahwa masih ada sekitar US$10 miliar atau Rp156,8 triliun komitmen investasi yang belum bisa ditandatangani.

Itu sebabnya angkanya masih berpotensi bertambah meskipun dia masih enggan untuk mengumumkannya. Namun, Bahlil memastikan bahwa sudah ada kesepahaman terkait komitmen investasi tersebut.

Dalam temu media yang digelar pada Minggu (13/11/2022) di Nusa Dua, Bahlil menyebut bahwa Indonesia dan Inggris telah melakukan kerja sama untuk membangun ekosistem battery electric vehicle (BEV) dan kawasan industri berbasis energi baru terbarukan (EBT).

Baca juga: Keuntungan Produksi Hidrogen Hijau di Kepri

Selain Inggris, Kementerian Investasi/BKPM juga telah menandatangani nota kesepahaman/memorandum of understanding (MoU) dengan CNGR Advanced Material Co Ltd, sebuah perusahaan produsen ternary precursor asal Tiongkok dengan total nilai investasi senilai US$5 miliar atau sekitar Rp78 triliun. 

Dalam MoU tersebut, Kementerian Investasi/BKPM bertanggung jawab dalam membantu CNGR mendapatkan semua penerbitan izin proyek dan insentif investasi dari pemerintah.

Diminta Manfaatkan Peluang Investasi Energi Hijau

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal menyambut positif upaya Partnership for Global Infrastructure and Invesment (PGII) yang bakal berinvestasi US$600 miliar selama 5 tahun ke depan.

Baca juga: Kawasan Industri Ditarget Terapkan Eco Industrial Park pada 2024

Faisal menyarankan agar Pemerintah Indonesia memanfaatkan peluang tersebut dan mendorong, sekaligus mempercepat transisi energi. Pasalnya, investasi berupa pinjaman dan hibah itu dilakukan oleh PGII untuk proyek infrastruktur berkelanjutan bagi negara berkembang.

"Kalau ini yang dimaksudkan untuk membangun infrastruktur berkelanjutan, saya harapkan juga ini berkaitan dengan infrastruktur-infrastruktur yang arahnya adalah mendorong transformasi ke yang lebih hijau, dari sisi energi misalnya," tutur Faisal dalam keterangan resminya di Jakarta, Rabu (16/11/2022).

Menurutnya, Indonesia punya beragam sumber daya energi hijau yang belum digarap karena ada masalah pada pendanaan.

Dia menjelaskan bahwa sektor energi hijau atau berkelanjutan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk direalisasikan.

Tangkapan layar - Kawasan Industri Hijau Indonesia di Kalimantan Utara akan menjadi kawasan industri hijau terbesar di dunia. JIBI/Bisnis-Nancy Junita 

"Jadi, kalau kita bicara infrastruktur energi terutama yang lebih hijau, problemnya memang selama ini dari pembiayaan atau kebutuhan investasinya besar," katanya.

Faisal juga mendorong agar Pemerintah bisa cepat memanfaatkan peluang tersebut sehingga energi hijau bisa segera terealisasi di Indonesia.

"Diharapkan Indonesia bisa menjadi jembatan dari kebutuhan tersebut. Jadi ini kalau memang ada komitmen ya memang perlu diikat, karena kita memang dari sisi kebutuhan investasi infrastruktur yang berkelanjutan itu memang besar," ujarnya. (Ni Luh Angela dan Sholahuddin Al Ayyubi)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.