Indonesia Kooperatif, Ekspor Kasur ke AS Berpeluang Naik Lagi

Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, pihak otoritas AS menemukan jumlah subsidi yang diterima eksportir matras Indonesia tercatat kurang dari 1% ad valorem atau de minimis.

Redaksi

29 Feb 2024 - 02.27
A-
A+
Indonesia Kooperatif, Ekspor Kasur ke AS Berpeluang Naik Lagi

Kasur busa Zinus. - Foto Zinus

Bisnis, JAKARTA - Indonesia berpeluang meningkatkan kembali ekspor matras alias kasur ke Negeri Paman  Sam, menyusul hasil yang cukup positif dari penyelidikan antisubsidi atas ekspor komoditas dengan nomor pos tarif/HS 940421 dan 940429 oleh otoritas Amerika Serikat (AS).

Kementerian Perdagangan melalui Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri memfasilitasi kegiatan verifikasi penyelidikan antisubsidi yang dilakukan oleh Otoritas Amerika Serikat (AS) atau United States Department of Commerce (USDOC) di Jakarta, pada 19—21 Februari 2024.

“Dengan bersikap kooperatif, peluang Indonesia mempertahankan dan meningkatkan kinerja ekspor matras ke AS semakin terbuka,” kata Direktur Pengamanan Perdagangan Direktorat Jenderal Perdagangan Luar Negeri Natan Kambuno, Selasa (27/2/2024).

Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, ekspor matras Indonesia ke Amerika Serikat selama 5 tahun terakhir (2019—2023) bergerak positif dengan tren kenaikan 11,17% per tahun, dan mencapai  rekor   tertinggi  dengan  nilai   US$365,52  juta  pada   2021. 

Namun, pada 2023 kinerja tersebut turun 8,93% dibandingkan dengan capaian pada 2022  senilai US$333,56 juta menjadi hanya US$303,77 juta, menyusul dijatuhkannya petisi pengenaan tarif anti-subsidi atau countervailing duty (CVD) atas barang impor dari Indonesia itu pada 28 Juli.

Baca Juga:

Pacu Ekspor, Produk UMKM Gratis Ongkos Kirim ke Australia

Menangkap Peluang Pasar Kopi di Filipina

USDOC telah memulai penyelidikan antisubsidi pada 17 Agustus 2023. Sejak saat itu, pemerintah Indonesia selalu bersikap kooperatif dengan menyampaikan tanggapan atas kuesioner awal serta kuesioner tambahan yang disampaikan pihak Otoritas AS. 

Dalam kuesioner tersebut, USDOC meminta penjelasan atas beberapa program kebijakan pemerintah Indonesia yang dianggap memberikan subsidi terhadap industri matras Indonesia. Hasil penyelidikan sementara (preliminary determination) tersebut telah diterbitkan pada 26 Desember 2023.

Natan juga menjelaskan, berdasarkan hasil penyelidikan sementara, pihak otoritas AS menemukan jumlah subsidi yang diterima eksportir matras Indonesia tercatat kurang dari 1% ad valorem atau de minimis

Berdasarkan laporan Departemen Perdagangan AS, eksportir tersebut adalah PT Grantec Jaya Indonesia dengan tingkat subsidi 0,2% (de minimis), dan PT Zinus Global Indonesia dengan tingkat subsidi hanya 0,03% (de minimis). 

Adapun berdasarkan ketentuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), penyelidikan antisubsidi harus dihentikan apabila pihak otoritas menemukan bahwa jumlah subsidi kurang dari 1% ad valorem

“Hasil penyelidikan sejauh ini cukup positif bagi Indonesia. Kami berharap, hasil positif ini dapat terus berlanjut hingga penyelidikan akhir sehingga matras Indonesia dapat terus diekspor ke Amerika Serikat tanpa penerapan bea masuk tambahan,” imbuh Natan.

Keputusan akhir Departemen Perdagangan AS dijadwalkan terbut pada 24 Juni 2024. (Nanda Silvia Okti)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.