Industri Permesinan Lokal Bakal Makin Tergerus Impor karena Tarif PPN 12%

Pengusaha harus membayar barang input produksi dalam negeri dengan harga lebih tinggi. Di saat yang sama, impor mesin dikenakan bebas bea masuk.

Afiffah Rahmah Nurdifa

28 Mar 2024 - 12.48
A-
A+
Industri Permesinan Lokal Bakal Makin Tergerus Impor karena Tarif PPN 12%

Pekerja bersiap menyalakan mesin untuk pengeringan padi di Kawista Emji Mernek Jenek di Cilacap, Jawa Tengah. Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis, JAKARTA – Rencana pemerintah menaikkan tarif pajak pertambahan nilai (PPN) menjadi 12% pada 2025 ditentang pelaku industri permesinan. Mereka menilai kebijakan tersebut dapat berdampak pada daya saing produk mesin lokal yang akan tergerus.

Ketua Umum Gabungan Industri Pengerjaan Logam, dan Mesin (Gamma) Dadang Asikin mengatakan bahwa pengusaha harus membayar barang input produksi dalam negeri dengan harga lebih tinggi. Di saat yang sama, impor mesin dikenakan bebas bea masuk.

"Dengan PPN 11% saja untuk industri permesinan dan barang modal mendapat tantangan yang besar lewat kebijakan bebas bea masuk untuk sejumlah barang modal," kata Dadang, Rabu (27/3/2024).

Baca juga: Penyebab Indeks Kepercayaan Industri Maret 2024 Capai 53,05

Dadang yang juga pengamat industri manufaktur menjelaskan bahwa kebijakan tersebut dapat mengganggu level playing field industri barang modal. Tarif PPN 12% juga secara otomatis meningkatkan biaya produksi.

Beban pada komponen biaya input ini hampir dipastikan akan meningkatkan harga akhir produk manufaktur. Terlebih, dia menyoroti sejumlah sektor yang dikecualikan dalam pengenaan tarif pajak tersebut.

"Saya melihat kok pemerintah agak gegabah dalam melakukan segregasi pengecualian sektor jasa dan barang yang tidak terkena kenaikan PPN 12%, di antaranya mamin [makanan minuman], jasa kesehatan dan lainnya, seolah-olah sektor tersebut bisa independen," tuturnya.



Dadang menuturkan bahwa sektor-sektor tersebut membutuhkan barang modal yang merupakan bagian dari ekosistem industri untuk memproduksi.

Artinya, meskipun industri mamin dikecualikan, namun untuk memproduksi produk nya tetap menggunakan peralatan mesin yang dikenakan PPN sehingga harga meningkat.

"Spare part untuk maintenance dan consumble part yang secara periodik harus di ganti tentunya akan membebani biaya produksi secara keseluruhan," terangnya.

Baca juga: Tarif PPN Jadi 12%, Industri Permesinan Bakal Ngos-ngosan

Oleh karena itu, Gamma yang merupakan federasi gabungan dari beberapa asosiasi pengerjaan logam dan mesin akan melakukan sejumlah advokasi untuk mencegah penurunan daya saing dan menciptakan pertumbuhan sektor formal yang lebih baik.

Hal ini dilakukan guna menanggulangi efek-efek negatif yang dapat terjadi baik secara langsung maupun sebagai dampak dari sebuah keterkaitan ekosistem industri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.