Industri Pinjol Proyeksikan Pertumbuhan 75 Persen

Pelaku industri pemberi pinjaman online atau pinjol memproyeksikan pertumbuhan penyaluran pinjaman sebesar 75 persen pada 2021. Simak penjelasannya.

Denis Riantiza Meilanova & Aziz Rahardyan

23 Nov 2021 - 20.08
A-
A+
Industri Pinjol Proyeksikan Pertumbuhan 75 Persen

Pelaku industri pemberi pinjaman online atau pinjol memproyeksikan pertumbuhan penyaluran pinjaman sebesar 75 persen pada 2021. (Bisnis/Eusebio Chrysnamurti)

Bisnis, JAKARTA— Pelaku industri pemberi pinjaman online atau pinjol memproyeksikan pertumbuhan penyaluran pinjaman sebesar 75 persen sepanjang 2021.

Direktur Eksekutif Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI), Kuseryansyah mengatakan realisasi penyaluran pinjaman oleh industri financial technology peer-to-peer (P2P) lending saat ini telah berada di kisaran 75 persen lebih tinggi dari realisasi penyaluran sepanjang tahun lalu yang mencapai sekitar Rp74 triliun.  

"Tahun ini Rp140 triliun, tetapi masih ada November, Desember tetapi sekarang ini, sudah dapat dipastikan pertumbuhan melebihi 75 persen. Artinya, solusi yang ditawarkan fintech pendanaan bersama ini sudah on track karena salurkan pendanan alternatif," ujar Kuseryansyah, Selasa (23/11/2021).

Menurutnya, industri fintech P2P lending masih dapat tumbuh signifikan di tengah pandemi ini, salah satunya karena didorong oleh adanya pemanfaatan teknologi dan data-data alternatif.

Di sisi lain, potensi masyarakat yang unbanked atau belum memiliki akses terhadap kredit di Indonesia masih sangat besar, sehingga ruang pertumbuhan industri fintech P2P lending masih sangat lebar.

Kuseryansyah mengatakan terdapat kebutuhan pendanaan segmen usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Rp2.650 triliun pada 2019. Dari kebutuhan dana tersebut, baru sekitar Rp1.000 triliun yang dilayani oleh lembaga keuangan konvensional, seperti bank, multifinance, dan modal ventura. Dengan demikian, masih ada gap kebutuhan dana sekitar Rp1.650 triliun yang bisa menjadi potensi pasar fintech P2P lending.

"Ke depan, industri ini kami yakin dengan besarnya credit gap tadi akan terus meningkat, terus tumbuh," katanya.

Adapun, akumulasi pinjaman yang telah disalurkan sejak industri berdiri sampai saat ini telah mencapai lebih dari Rp260 triliun. Kuseryansyah menuturkan, dari jumlah tersebut sebanyak 58 persen disalurkan kepada sektor produktif.

Dia juga optimistis pertumbuhan penyaluran pinjaman fintech P2P lending tahun depan setidaknya akan berada lebih dari 25 persen.

"Fintech akan tetap tumbuh, tetapi tetap akan surut. Tahun-tahun awal bisa tumbuh 500 persen. Tahun ini katakanlah tumbuh 75 persen karena tahun lalu ada pandemi jadi tidak terlalu agresif. Tahun depan kami lihat industri akan tetap tumbuh lebih dari 25 persen," tuturnya. 

Wakil Pendiri dan Direktur Utama PT Investree Radhika Jaya (Investree) Adrian Gunadi mengatakan platform pinjol makin mendapatkan tempat sebagai penyedia kebutuhan dana segar.

Perusahaan pinjol mampu mengakomodasi kebutuhan UMKM untuk kategori pinjaman tersebut, karena menerapkan penilaian kredit berbasis teknologi dan mampu mengolah data-data alternatif, yang semuanya terealisasi lewat digitalisasi. 

Oleh sebab itu, Adrian mengungkap pentingnya pelaku UMKM masuk ke dalam sebuah ekosistem digital atau memanfaatkan platform-platform solusi bisnis berbasis teknologi, agar memiliki rekam jejak digital. 

Sementara itu, UMKM yang bergabung ke ekosistem digital memiliki keuntungan berpotensi mendapatkan biaya layanan dan bunga pinjaman yang lebih murah, karena rekam jejak digital bisa menekan profil risiko dan memperbaiki profil kredit.

"Maka dari itu, kami terus memperluas kolaborasi dengan ekosistem digital karena dari sana, platform akan memiliki akses terhadap behavior UMKM. Itulah yang kita jadikan dasar untuk menganalisis profil risiko UMKM," ungkapnya. 

Wakil Pendiri dan Direktur Utama Akseleran Ivan Tambunan mengatakan penyaluran pinjaman usaha Akseleran mencapai sebesar lebih dari Rp495 miliar pada Juli-September 2021, naik 100 persen secara kuartalan dibandingkan kuartal III/2021.

Rata-rata bulanan pada periode ini juga naik di kisaran 50 persen dibandingkan rata-rata bulanan di kuartal III/2020, sehingga secara kumulatif, total penyaluran pinjaman usaha Akseleran sudah menembus Rp3,1 triliun kepada 2.600 peminjam (borrower) UMKM di seluruh Indonesia.

"Selama sembilan bulan terakhir di tahun ini, Akseleran pun tercatat sudah menyalurkan total pinjaman usaha sebesar Rp1,3 triliun atau tumbuh 103 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu," ujarnya.

Lima sektor usaha yang memperoleh pinjaman terbesar dari Akseleran hingga saat ini, berasal dari sektor andalan, yaitu batu bara, rekayasa atau konstruksi, minyak dan gas serta material bangunan.

Tumbuhnya penyaluran pinjaman usaha Akseleran sejalan dengan membaiknya rasio kredit macet pada Juli hingga September 2021 yang berada di angka rata-rata bulanan sebesar 0,08 persen dari total penyaluran.

"Apalagi, sejak 1 September 2021, Akseleran sudah mengimplementasikan proteksi asuransi kredit di setiap kampanye pinjamannya yang melindungi sebesar 99 persen pokok pinjaman dari risiko gagal bayar," tambahnya. 

Rata-rata rasio kredit macet bulanan Akseleran mulai dari Januari hingga September 2021 pun tercatat masih bertahan di angka 0,6 persen dari total penyaluran pinjaman secara kumulatif. 

Ke depan, Ivan mengungkap akan berupaya memperluas penyaluran pinjaman usaha di luar Pulau Jawa, yang sejauh ini realisasinya cukup merata di wilayah Kalimantan Timur, Riau, Sulawesi Tenggara, Maluku, dan Sumatra Utara. 

"Secara kumulatif total penyaluran pinjaman usaha Akseleran untuk di luar Pulau Jawa sudah mencapai sebesar Rp168 miliar lebih atau 5,34 persen dari total penyaluran pinjaman. Secara target nasional untuk total penyaluran pinjaman usaha Akseleran di tahun 2021 adalah sebesar Rp2 triliun," tegasnya. 

Untuk penambahan partner dalam skema loan channeling yang akan menjadi pendana institusi atau institutional lender Akseleran, Ivan menyampaikan pihaknya terus berupaya meningkatkan potensi kerja sama. 

Akseleran membuka pintu agar dapat berkolaborasi secara sinergis dengan perusahaan atau instansi lainnya dari Lembaga Jasa Keuangan (LJK) lainnya baik dari bank maupun nonbank.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.