Industri Semen Setop Ekspor Akhir 2021, Target Gagal Tercapai

Harapan mencapai target ekspor 12 juta ton tahun ini pupus sebagai imbas dari kendala pasokan bahan baku untuk pabrikan semen.

Reni Lestari

19 Nov 2021 - 18.48
A-
A+
Industri Semen Setop Ekspor Akhir 2021, Target Gagal Tercapai

Pekerja memindahkan semen ke atas kapal di Pelabuhan Makassar, Sulsel, Senin (16/5). /BISNIS.COM

Bisnis, JAKARTA — Pelaku industri semen mulai menyetop kegiatan ekspor sepanjang sisa tahun ini, sebagai imbas dari tersendatnya pasokan batu bara ke sektor tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Semen Indonesia (ASI) Widodo Santoso mengatakan ekspor semen pada tahun ini ditargetkan sebanyak 12 juta ton. Sampai dengan Oktober 2021, realisasinya baru mencapai 10,45 juta ton.

Dengan demikian, lanjut Widodo, target tersebut dipastikan tidak akan tercapai dengan kondisi ketersediaan batu bara saat ini.

"Harapan ini pupus karena pada November dan Desember kemungkinan tidak ada ekspor lagi karena kritisnya stok batu bara," ujarnya, Jumat (19/11/2021).

Bagaimanapun, realisasi ekspor semen sampai dengan Oktober masih lebih tinggi 12,36 persen dibandingkan dengan pengapalan sepanjang tahun lalu sebesar 9,3 juta ton.

Ekspor semen mulai mengalami lonjakan tajam pada 2018 sebesar 6 juta ton dari tahun sebelumnya 2,76 juta ton. Pada 2019 ekspor tercatat 6,5 juta ton, dan menanjak menjadi 9,3 juta ton pada 2020.

Menurut catatan ASI, rata-rata stok batu bara di pabrikan semen saat ini hanya mampu bertahan untuk kebutuhan lima hari. Pada kondisi normal, stok bisa bertahan sampai dengan 30 hari.  

Akibat penyetopan kegiatan produksi yang berorientasi ekspor, Widodo memperkirakan akan terjadi penurunan tingkat utilisasi yang cukup dalam.

"Utilisasi pabrik turun drastis dan harus menyetop sebagian unit produksinya seperti Semen Indonesia di Tuban dan Rembang, Semen Tonasa, Semen padang, Semen Merah Putih dan lain-lain," jelasnya.

Sementara itu, terkait penetapan harga batu bara khusus untuk industri semen dan pupuk sebesar US$90 per metrik ton, Widodo mengatakan angka tersebut relatif masih lebih tinggi dibandingkan dengan harga pada awal 2021.

Sebelumnya, penetapan harga batu jual bara khusus untuk industri semen dan pupuk tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 206.K/HK.02/MEM.B/2021 tentang harga jual batu bara untuk pemenuhan bahan baku industri semen dan pupuk dalam negeri.

Kebijakan ini mulai berlaku pada 1 November 2021 hingga 31 Maret 2022.

Dia memperkirakan meski sudah ada kepastian harga, tetap akan terjadi kenaikan biaya produksi berkisar 40—50 persen.

"Namun kelihatannya pasokan batu bara masih relatif tersendat, belum ada kemajuan yang berarti," katanya.

Penyetopan ekspor akan dilakukan sampai stok batu bara mencapai titik normal yakni tiga hingga empat pekan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Wike D. Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.