Inflasi 2022 Ditutup 5,51 Persen, Imbas BBM dan Tiket Pesawat

Inflasi sepanjang 2022 tercatat tembus 5,51 persen secara tahunan, naik signifikan dari 1,87 persen dibandingkan dengan akhir tahun sebelumnya. Komoditas pangan, bahan bakar, dan tarif transportasi berhasil mengerek inflasi hampir lima kali lipat.

Nindya Aldila

2 Jan 2023 - 12.00
A-
A+
Inflasi 2022 Ditutup 5,51 Persen, Imbas BBM dan Tiket Pesawat

Pedagang beraktivitas di pasar induk Kramat Jati, Jakarta, Selasa (27/12/2022). Bisnis/Abdurachman

Bisnis, JAKARTA - Inflasi sepanjang 2022 tercatat tembus 5,51 persen secara tahunan, naik signifikan dari 1,87 persen dibandingkan dengan akhir tahun sebelumnya. Komoditas pangan, bahan bakar, dan tarif transportasi berhasil mengerek inflasi hampir lima kali lipat. 

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa terjadi kenaikan indeks harga konsumen dari 107,66 pada Desember 2021 menjadi 113,59 pada Desember 2022. 

Kepala BPS RI Margo Yuwono mengungkapkan faktor pemicu kenaikan inflasi tahun ini di antaranya adalah komoditas pangan, tagihan air, listrik, bahan bakar, dan tarif transportasi. 

Margo memerinci, terdapat sejumlah rangkaian peristiwa yang memicu terjadinya kenaikan harga barang di Tanah Air sepanjang 2022. Di antaranya adalah kelangkaan minyak goreng pada awal 2022, kenaikan harga avtur pada April, gagal panen pada paruh kedua, dan penyesuaian harga BBM pada Juni. 


"Kenaikan harga avtur berimplikasi pada tarif angkutan udara. Ramadhan juga memicu kenaikan harga komoditas terutama untuk pangan yang diikuti dengan gagal panen," terangnya dalam konferensi pers pada Senin (2/1/2022).

Inflasi tertinggi tahun ini terjadi di Kotabaru dan inflasi terendah terjadi di Kota Sorong. 

Baca juga: Ancaman Inflasi dan Turunnya Ekonomi Akibat Cukai Rokok

Adapun inflasi bulanan tercatat 0,66 persen Secara bulanan inflasi terdorong oleh beras, tagihan air minum, dan harga telur. "Inflasi Desember merupakan inflasi musiman karena ada kenaikan permintaan ada liburan sekolah dan perayaan Natal dan Tahun Baru," ujarnya.

Tekanan inflasi komponen harga bergejolak mengalami pelemahan, tetapi inflasi komponen harga diatur pemerintah masih tinggi karena didorong oleh kenaikan harga bahan bakar dan tarif angkutan sepanjang 2022. 

Adapun tekanan inflasi inti mengalami kenaikan 3,36 persen pada Desember 2022, naik tipis ketimbang bulan sebelumnya sebesar 3,3 persen. Artinya, inflasi yang terdiri dari komponen tetap ini masih terkendali. 

Sebelumnya, ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman memperkirakan inflasi pada Desember 2022 akan mencapai 0,55 persen secara bulanan (month-to-month/mtm).

Tingkat inflasi tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan capaian inflasi pada bulan sebelumnya, yaitu sebesar 0,09 persen (mtm). Menurut Faisal, penguatan inflasi pada akhir tahun disebabkan oleh faktor musiman perayaan Natal dan tahun baru.

“Indeks Harga Konsumen diperkirakan melonjak sebesar 0,55 persen (mtm) pada Desember 2022 di tengah musim liburan Natal dan Tahun Baru, yang meningkatkan permintaan rekreasi dan perjalanan,” katanya.

(Maria Elena)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.