Inflasi AS Bayangi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan

Inflasi AS menjadi salah satu katalis yang memengaruhi pergerakan harga emas pada pekan depan. Apa lagi data yang ditunggu pelaku pasar?

Farid Firdaus

6 Nov 2021 - 15.31
A-
A+
Inflasi AS Bayangi Pergerakan Harga Emas Pekan Depan

Inflasi AS menjadi salah satu katalis yang memengaruhi pergerakan harga emas pada pekan depan. (Antara)

Bisnis, JAKARTA— Inflasi Amerika Serikat yang dirilis pada pekan depan akan membayangi pergerakan harga emas. Berikut penjelasan lengkapnya.

Dikutip dari Markets Insider, pada penutupan perdagangan Jumat (5/11/2021), harga emas mencapai US$1.817,73 per troy ounce atau naik 1,48 persen.

Pada pekan depan, harga emas dipengaruhi oleh rilis inflasi Amerika Serikat (AS). Dikutip dari Kitco, Sabtu (6/11/2021) pukul 14:56 WIB, konsensus memperkirakan bahwa inflasi Oktober mencapai 5,8 persen secara tahunan.

Kepala Ekonom Internasional ING, James Knightley mengatakan bahwa kenaikan harga rumah, biaya tenaga kerja, energi dan harga kendaraan bekas tetap menjadi kontributor inflasi. Menurutnya, dengan dorongan komponen tersebut, inflasi bisa melampaui 6 persen pada Desember dengan inflasi inti di atas 5 persen.

“Bank sentral mengasumsikan inflasi akan turun secara tajam pada kuartal II/2022 dan kuartal III/2022, tetapi kami khawatir kekurangan tenaga kerja di pasar, hambatan produksi dan masalah rantai pasok tetap bertahan hingga tahun depan,” katanya.

Data lain yang ditunggu yakni indeks harga produsen (Producer Price Index/PPI) pada Selasa (9/11/2021) dan klaim pengangguran pada Rabu (10/11/2021).

Menariknya, terlepas dari aksi tapering yang dipilih The Fed, tak ada yang bisa memastikan inflasi. Pasalnya, Bos The Fed Jerome Powell pun menyatakan bahwa inflasi masih diselimuti ketidakpastian kendati pemulihan ekonomi menjadi pendorong pengurangan pembelian obligasi negara.

Ahli Logam Mulia di Gainesville Coins, Everett Millman mengatakan bahwa volatilitas emas tengah menanjak dan pasar tengah mencerna sinyal hawkish dari The Fed.

“The Fed mungkin menanti lebih lama untuk kenaikan suku bunga acuan atau akan menyudahi pembelian obligasi negara,” katanya.

Millman menyebut bahwa kinerja ketenagakerjaan menjadi penanda bahwa pasar berharap bank sentral tetap sabar. Pasalnya, ternyata kinerja ketenagakerjaan tak memberikan dampak terhadap pergerakan harga emas.

"Emas, dolar, imbal hasil obligasi pemerintah bergerak ke arah yang sama yang berarti tak biasa, tetapi itu merupakan respons aset aman bila The Fed tak menaikkan suku bunga acuan,” katanya.

Kepala Strategi Global TD Securities, Bart Melek mengatakan di sisi ekonomi, harga emas naik di tengah angka pengangguran yang turun ke 4,6 persen pada Oktober. Alasannya masih tak berubah yakni dengan 61,6 persen partisipasi.

“Itu artinya partisipasi tenaga kerja masih pada level rendah dan kami masih jauh dari penyerapan tenaga kerja secara penuh,” katanya.

Dia menilai pasar masih meragukan kemampuan penyerapan tenaga kerja berlanjut dalam kurun waktu enam bulan hingga setahun. Dengan The Fed yang memberikan sinyal dovish dalam pengumuman tapering dan data realisasi ketenagakerjaan, sulit membayangkan kenaikan suku bunga acuan pada Juni.

“The Fed akan menjaga kebijakan moneter tetap mudah dalam jangka panjang karena kita tidak mendekati tingkat penyerapan tenaga kerja secara utuh. The Fed menilai menjaga ekonomi akan memicu penyerapan tenaga kerja. Mereka perlu membalik aksi pengunduran diri yang masif,” katanya.

Melek menyebut emas bisa diguncang aksi ambil untung bila melampaui US$1.800 per troy ounce. Bila emas mampu melampaui US$1.800; ada potensi pergerakan US$50 pada pekan depan.

Dia berujar pelaku pasar perlu melihat pergerakan aset aman lain seperti dolar AS dan obligasi negara AS.

“Jika keduanya tetap stabil, emas akan berada di rentang saat ini. Jika kita melihat banyak permintaan dolar dan surat utang, menurut saya, itu mengindikasikan respons aset aman yang akan diikuti emas,” katanya.

Federal Reserve pada Rabu (3/11/2021) berpegang teguh pada pandangannya bahwa inflasi akan terbukti sementara dan kemungkinan tidak akan memerlukan kenaikan suku bunga yang cepat. Setelah itu, bank sentral Inggris (BoE) mengejutkan pasar dengan mempertahankan suku bunga tak berubah.

Suku bunga mendekati nol untuk memacu pertumbuhan ekonomi selama pandemi Covid-19 telah mendorong harga emas ke level tertinggi baru selama dua tahun terakhir karena kebijakan moneter yang longgar memangkas peluang kerugian memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.

"Emas yang bullish tampaknya menarik kekuatan dari sikap Fed yang tidak tergesa-gesa dalam menaikkan suku bunga," kata Analis FXTM Lukman Otunuga. Dia menambahkan bahwa imbal hasil obligasi pemerintah yang lemah juga menopang kenaikan.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun AS merosot ke level terendah dalam waktu sekitar satu bulan, menyusul laporan data penggajian (payroll) nonpertanian yang lebih baik dari perkiraan pada Oktober.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan pada Jumat (5/11/2021) bahwa ekonomi AS menambahkan 531.000 pekerjaan pada Oktober, rebound tajam dari bulan sebelumnya dan juga lebih tinggi dari kenaikan 450.000 pekerjaan yang diperkirakan.

Permintaan emas fisik di India, konsumen terbesar kedua di dunia, melonjak minggu ini karena pembeli mengambil keuntungan dari sedikit penurunan harga dan membeli logam mulia selama musim festival.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Duwi Setiya Ariyant*

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.