Free

Inflasi Oktober Mulai Mereda Jadi 5,71 Persen

Tekanan inflasi mulai mereda sebesar 5,71 persen pada Oktober secara tahunan (year on year/yoy), utamanya didukung oleh pelemahan harga bahan makanan.

Nindya Aldila

1 Nov 2022 - 12.42
A-
A+
Inflasi Oktober Mulai Mereda Jadi 5,71 Persen

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto dalam konferensi pers virtual pada Selasa (1/11/2022). (Youtube)

Bisnis, JAKARTA - Tekanan inflasi mulai mereda sebesar 5,71 persen pada Oktober secara tahunan (year on year/yoy), utamanya karena melemahnya inflasi pada komponen harga yang bergejolak atau volatile food.

Hal itu disampaikan oleh Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto pada Selasa (1/11/2022). Dia mengatakan komponen harga bergejolak berhasil meredam inflasi tahunan.

Inflasi tahunan pada Oktober mulai melemah setelah inflasi pada September 2022 tercatat sebesar 5,95 persen secara tahunan. Kendati demikian, harga BBM masih mendorong inflasi pada bulan lalu. 

Komponen harga bergejolak yang utamanya digerakkan oleh harga komoditas pangan mulai menurun dari 9,02 persen pada September menjadi 7,19 persen pada Oktober.  

"Terjadi pelemahan tekanan inflasi untuk volatile food, ini yang meredam inflasi tahunan," katanya.



Kelompok bahan makanan seperti cabai merah, telur ayam ras, cabai rawit, dan daging ayam ras mulai deflasi. Namun, beras masih mencatatkan inflasi pada Oktober dengan andil pada inflasi tahunan sebesar 0,12 persen.

Baca juga: REMBETAN DAMPAK INFLASI : Kuartal Krusial Ekonomi RI

Sementara itu, tingkat inflasi Oktober didorong oleh komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mencapai 13,28 persen yang diakibatkan oleh kenaikan BBM.  

"Kalau kita lihat 2 bulan pasca penyesuaian harga BBM, tekanan inflasi pada harga diatur pemerintah memang masih tinggi, didorong oleh kenaikan harga bensin, bahan bakar rumah tangga, dan tarif angkutan dalam kota," paparnya.

Bensin mengalami inflasi sebesar 32,62 persen dengan andil sebesar 1,16 persen lebih tinggi daripada September. "Ini terjadi karena low base effect dari rata-rata harga September lalu," ungkapnya.

Deflasi tercatat sebesar 0,11 persen pada Oktober (month-to-month/mtm) yang disokong utamanya dari deflasi pada bahan makanan seperti cabai merah, cabai rawit, telur ayam ras, daging ayam ras, minyak goreng, tomat dan bawang merah. Deflasi terjadi cukup dalam dibandingkan dengan 1,17 persen pada September.

Ekonom sudah memprediksi inflasi bulanan pada Oktober akan melemah, tetapi hanya bersifat temporer. Ekonom Bank Danamon Irman Faiz memperkirakan inflasi pada Oktober 2022 sebesar 0,07 persen secara bulanan (mtm), lebih rendah dari bulan lalu sebesar 1,17 persen (mtm).

Secara tahunan, Faiz memperkirakan tingkat inflasi mencapai 5,9 persen (yoy). Menurutnya, penurunan inflasi tersebut lebih bersifat temporer, yang dipicu oleh penurunan harga pangan.

“Moderasi inflasi ini kami perkirakan temporer karena efek harga pangan yang menurun akibat panen yang berlanjut,” katanya kepada Bisnis.

Baca juga: Mengukur Inflasi Oktober, Mewaspadai Lonjakan Inflasi Inti

Setianto memperingatkan tekanan inflasi pada komponen energi pada Oktober masih melanjutkan tren peningkatan yang disebabkan oleh kenaikan bensin dan bahan bakar rumah tangga.

Setianto mengatakan BPS memantau inflasi di 90 kota di Indonesia. Menurutnya, laju inflasi di sebagian besar kota mulai melemah. 

inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Padang sebesar 7,92 persen (yoy). Adapun di Pulau Jawa terjadi di Kota Serang (7,54 persen). Di pulau lainnya terjadi di Kota Kupang (8,06 persen), Jayapura (7,43 persen), Parepare (7,66 persen), dan Tanjung Selor (9,11 persen).

(Maria Elena)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Nindya Aldila

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.