Ini Pemicu Utama Harga Pangan Beringas Hingga H-3 Lebaran

Menurut laporan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), kenaikan fase dua harga bahan pokok biasa terjadi di H-7 hingga H-3 Lebaran. Namun, kenaikan untuk tahun ini terjadi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan momentum yang sama tahun-tahun sebelumnya.

Wike D. Herlinda

29 Apr 2022 - 21.30
A-
A+
Ini Pemicu Utama Harga Pangan Beringas Hingga H-3 Lebaran

Presiden Jokowi meninjau ketersediaan dan harga kebutuhan pokok di Pasar Rakyat di Desa Tempurejo, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, pada Rabu, 30 Maret 2022 / Istimewa.

Bisnis, JAKARTA — Pedagang pasar masih melaporkan terjadinya gangguan arus pasok bahan pangan pokok hingga H-3 Idulfirtri 1443 H. Kondisi tersebut menjadi pemicu utama harga sejumlah komoditas belum dapat dikendalikan hingga mendekati Lebaran.

 Menurut laporan Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi), kenaikan fase dua harga bahan pokok biasa terjadi di H-7 hingga H-3 Lebaran. 

Pada momen Ramadan dan Idulfitri tahun ini, harga bahan pokok jauh lebih tinggi dibandingkan dengan tahun lalu yang diakibatkan karena beberapa faktor seperti ketersediaan stok, kondisi geopolitik di Eropa Timur, serta permintaan yang meningkat. 

(BACA: Lebaran Makin Dekat, Harga Pangan Tak Kunjung Bersahabat)

“Kami sudah prediksi fase kedua ini terjadi fase di mana puncak kenaikan beberapa bahan pokok yang memang terdongkrak cukup tinggi. Faktor supply demand kita nggak seimbang, permintaan tinggi sedangkan barang yang tersedia di menipis,”  ujar Reynaldi, Jumat (29/4/2022).

Sebelumnya, Reynaldi melaporkan pada pekan pertama Ramadan, sempat tercatat adanya penurunan permintaan terhadap bahan pokok akibat kenaikan harga.

Menteri Perdagangan Muhammad Lutfhi mengatakan berdasarkan data per 28 April atau H-4 Idulfitri, harga rata-rata bahan pokok secara nasional stabil dan pasokan aman. 

Pada kenyataannya, sampai saat ini pedagang masih mengeluhkan ketersediaan stok dan harga yang terdongkrak salah satunya daging sapi dan cabai.

Berdasarkan data dari Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kemendag, harga yang tercatat stabil adalah komoditas beras, gula pasir, kedelai impor, dan tepung terigu.

Harga bahan pokok seperti daging yang terpantau mengalami tren kenaikan ini diakibatkan produksi daging sapi lokal yang belum dapat memenuhi kebutuhan nasional, sementara harga sapi impor bakalan dari Australia masih tinggi di angka US$3.984/ton atau setara Rp57.250/kg.

Berdasarkan data Kemendag per 28 April 2022, ketersediaan stok sapi bakalan sebanyak 99.142 ekor atau setara dengan 19.004 ton dengan potensi pasokan per bulan yaitu 30 persen dari stok.

Harga rata-rata secara nasional untuk daging segar yaitu Rp139.600/kg dengan harga acuan Rp105.000/kg. 

Sementara itu, Pusat Informasi Pangan Jakarta melaporkan harga daging sapi murni (semur) di Pasar Senen Jakarta Pusat hari ini, Jumat (29/4/2022), sebesar Rp150.000/kg. Harga tersebut turun dibandingkan dengan Kamis (28/4/2022) yang menyentuh Rp160.000/kg.

 Kemendag mengklaim terus  melakukan upaya mitigasi untuk menjaga ketersediaan stok daging sapi, salah satunya dengan percepatan pengadaan daging beku impor sebagai alternatif dan penyeimbang harga daging sapi segar.

 Reynaldi mengingatkan kepada para pedagang dan konsumen bahwa harga masih akan naik setelah lebaran akibat banyaknya pedagang yang masih mudik dan tidak memiliki stok.

 “Fase ketiga jangan lupa, akan terjadi tren kenaikan harga yaitu pasca idulfitri. Kemungkinan nanti yang akan turun harganya hanya telur dan ayam saja,” ujar Reynaldi. (Annasa Rizki)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Wike Dita Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.