Inklusivitas Keuangan Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan Asean

Layanan keuangan digital membuka jalan untuk menjembatani kesenjangan keuangan khususnya bagi mereka yang belum mempunyai rekening bank, belum memakai jasa layanan perbankan, dan juga bagi UMKM yang sebelumnya mungkin dinilai 'unbankable'.

Jaffry Prabu Prakoso

5 Okt 2023 - 18.38
A-
A+
Inklusivitas Keuangan Kunci Pertumbuhan Berkelanjutan Asean

Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rosan Roeslani. /Dok. Kemenkominfo

Bisnis, JAKARTA – Layanan keuangan digital memainkan peran penting dalam mendorong inklusivitas keuangan, dan menjadi landasan bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif di kawasan Asean. 

Karenanya, Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rosan Roeslani menyebut inisiatif keuangan digital Asean berkontribusi besar dalam mempercepat inklusi keuangan di kawasan yang jadi rumah bagi 680 juta penduduk dan 70 juta UMKM. 

Selama beberapa tahun terakhir, BUMN turut menjadi pemain penting dalam memandu transformasi di tengah maraknya pengembangan keuangan digital. Asean sendiri masih menghadapi tantangan inklusivitas keuangan yang signifikan. 

Tingkat kesadaran masyarakat untuk melakukan transaksi dan menggunakan jasa layanan bank tercatat masih rendah dengan persentase penduduk hingga 70% belum menggunakan layanan perbankan. 

Tidak hanya itu, sekitar 39 juta dari 70 juta UMKM juga menghadapi kekurangan pendanaan yang cukup besar dengan nilai US$300 miliar setiap tahunnya.

Baca juga: QR Lintas Negara; Membuka Era Baru dalam Transaksi

Rosan menjelaskan, layanan keuangan digital membuka jalan untuk menjembatani kesenjangan keuangan khususnya bagi mereka yang belum mempunyai rekening bank, belum memakai jasa layanan perbankan, dan juga bagi UMKM yang sebelumnya mungkin dinilai unbankable

“Kita telah melihat contoh di negara-negara Asean, bahwa pertumbuhan dan revolusi keuangan digital telah meningkatkan perekonomian negara dan inklusivitas ekonomi,” ujar Rosan. 

Menurutnya, hal serupa juga terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir, di mana Indonesia telah berada di garis depan untuk revolusi keuangan digital. Sepanjang 2011–2022 saja jumlah pemain financial technology di Indonesia meningkat kali lipat dari semula 51 pemain menjadi 334 pemain aktif. 

Adapun sebanyak 33 persen penduduk memiih e-wallet sebagai metode pembayaran default mereka pada 2021. Hal ini sekaligus menempatkan Indonesia sejajar dengan beberapa negara maju di Asia. 

“Transisi Indonesia menuju ekonomi digital terlihat jelas dengan melonjaknya pembayaran nontunai dari US$813 juta menjadi US$26,2 miliar pada 2017 hingga 2022,” katanya. 




Ia melanjutkan, transisi menuju ekosistem transaksi digital yang berkembang pe[1]sat ditunjukkan dengan nilai transaksi pembayaran digital, yang tumbuh dari US$206 miliar pada 2019 menjadi US$266 miliar pada 2022. 

Perkembangan transaksi pembayaran digital ini akan terus tumbuh hingga mencapai lebih dari US$421 miliar pada 2025. Dengan jangkauan yang luas, BUMN memegang peranan penting dalam mendorong inklusi keuangan melalui keuangan digital khususnya di kota-kota yang kurang terjangkau. 

Dari perspektif Asean, kata Rosan, dalam beberapa tahun terakhir, sektor keuangan digital Asean juga telah bertransformasi, yang utamanya diarahkan untuk memperkuat inklusi keuangan bagi konsumen dan UMKM. 

Menghadapi fenomena itu, bank-bank BUMN kini berfokus pada tiga transformasi yang mencakup pinjaman digital, pembayaran digital (e-wallet), dan perbankan digital. 

Baca juga: KTT KE-43 Asean; RI Optimalkan Konektivitas Digital Asean

Dalam mentransformasi pinjaman digital, BRI, Bank Mandiri dan Bank BNI telah meluncurkan platform pinjaman digital yang memungkinkan individu yang tidak memiliki riwayat pinjaman dapat mengakses layanan keuangan secara digital. 

Inisiatif ini memberikan dampak yang signifikan terhadap inklusi keuangan, misalnya pinjaman digital BRI yang tumbuh 146 persen dalam waktu satu tahun di periode 2021 hingga 2022 dengan nilai pinjaman US$125juta kepada jutaan peminjam dalam tiga kuartal pertama di 2022. 

“Terakhir, untuk perbankan digital, Bank Mandiri, BRI, BNI dan BTN juga telah membangun solusi perbankan digital, salah satunya mobile banking BNI yang telah tumbuh 59,6 persen year-on-year menjadi 7,8 juta pengguna pada 2020,” katanya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.