IPO DCII Terbaik di Dunia, Ekspansinya pun Tak Main-main

Sejak mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia, DCII agresif melakukan ekspansi penambahan kapasitas pangkalan data yang nilainya mencapai jutaan dolar AS.

Hadijah Alaydrus & Pandu Gumilar

26 Nov 2021 - 08.25
A-
A+
IPO DCII Terbaik di Dunia, Ekspansinya pun Tak Main-main

PT DCI Indonesia. - Istimewa

Bisnis, JAKARTA - Perusahaan teknologi, PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) tercatat sebagai perusahaan dengan penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO) paling sukses tahun ini. Bahkan pelaksanaannya IPO perseroan menjadi yang terbaik di dunia tahun ini karena sahamnya melonjak lebih dari 100 kali lipat.

Saham emiten berkode DCII itu telah melonjak 10,852 persen menjadi Rp 46.000 dari harga IPO sebesar Rp 420 per saham pada 6 Januari 2021. Kapitalisasi pasarnya hingga saat ini mencapai Rp 109,65 triliun.

Tak heran jika DCI Indonesia menjadi perusahaan top gainer di pasar saham Indonesia dan kontributor terbesar kedua untuk kenaikan 12 persen indeks harga saham gabungan (IHSG) tahun ini. Kinerja DCI yang luar biasa menjadi cikal bakal ramainya perdagangan saham teknologi Indonesia tahun ini.

Sektor teknologi pun melonjak hampir empat kali lipat sejak diluncurkan pada akhir Januari 2021. Salah satu faktor pendorong tingginya lonjakan saham DCII yaitu industri pangkalan data (data center).

“Industri data center adalah penerima manfaat dari e-commerce dan ledakan ekonomi digital di Indonesia,” kata Henry Wibowo, Kepala Penelitian di JP Morgan Sekuritas Indonesia. 

Meski begitu, kenaikan tajam saham DCII telah memicu penangguhan perdagangan berkala dan penyelidikan oleh pejabat Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait kemungkinan manipulasi transaksi oleh perusahaan. 

Namun, BEI tidak menjabarkan hasil penyelidikan tersebut. Justru pihak DCII yang angkat bicara dan menegaskan pihaknya tidak melakukan pelanggaran apapun terkait dengan lonjakan harga saham tersebut.

“Berdasarkan hasil pemeriksaan bursa, tidak ada indikasi pelanggaran yang dilakukan perusahaan,” kata Sekretaris Perusahaan DCI Indonesia Nicholas Suharsono dalam jawaban tertulis atas pertanyaan Bloomberg seperti dilansir dari Bisnis.com pada Jumat (26/11/2021).

 

Direktur Utama PT Indofood Sukses Makmur Tbk Anthoni Salim (kanan) memberikan penjelasan kepada awak media usai rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST) dan luar biasa, di Jakarta, Rabu (29/5/2019). - Bisnis/Dedi Gunawan

Masuknya Anthoni Salim

Di sisi lain, tingginya harga saham DCII juga tak lepas dari aliran dana taipian. DCII yang bisnisnya fokus pada pengembangan pangkalan data menarik miliarder Indonesia, Anthoni Salim, untuk menggelontorkan dana membeli sahamnya.

Anthoni Salim memiliki kerajaan bisnisnya yang mencakup sektor makanan, telekomunikasi, hingga real estat. Ketertarikan Anthoni terhadap bisnis pangkalan DCII pun mendorong dirinya terus menambah jumlah saham di perusahaan tersebut.

Terakhir, dia mengumumkan telah menambah kepemilikan atas saham DCI Indonesia sebanyak 192,74 juta saham. Transaksi itu dilakukan pada 31 Mei 2021 dengan harga beli Rp5.277, sehingga transaksi itu bernilai Rp1,01 triliun.

Sebelum pengalihan saham tersebut, Anthoni Salim telah memiliki saham DCII sebanyak 72,29 juta saham atau 3,03 persen dari total saham. Setelah pengalihan, Anthoni Salim menguasai 11,12 persen saham DCII atau sebanyak 265,03 juta saham. 

“Tujuan dari transaksi untuk investasi di bidang teknologi,” tulis Anthoni, dikutip Kamis (3/6/2021). Sementara itu, Wibowo menyebut saham DCI Indonesia tidak lagi likuid karena sahamnya dimiliki 11 persen Anthoni.

 

 

Ekspansi yang Masif

Dengan kesuksesan DCI Indonesia melaksanakan IPO, modal kerja perseroan pun bertambah tebal. Tak heran jika perseroan begitu agresif untuk mengembangkan bisnis pangkalan datanya. 

Direktur Utama DCI Indonesia, Toto Sugiri, mengungkapkan perseroan berencana menambah kapasitas data center perusahaan hampir dua kali lipat. 
Menurutnya, penambahan kapasitas sejalan dengan kebutuhan pasar dan pertumbuhan perseroan.

“Kami berencana membangun JK6 dengan kapasitas 34 MW pada tahun 2022. Kami sangat berhati-hati karena ini membutuhkan investasi yang besar,” katanya kepada Bisnis pada Senin (13/9/2021). 

Untuk penambahan kapasitas tersebut perseroan membutuhkan biaya sekitar US$7 juta sampai dengan US$9 juta per MW (megawatt). Dengan demikian, DCII akan membutuhkan modal sebesar US$238 juta sampai dengan US$306 juta. 

Toto mengungkapkan emiten teknologi itu akan menggunakan kas perseroan atau pendanaan eksternal seperti pinjaman bank untuk menyukseskan target tersebut.  “Kami juga bisa melakukan rights issue bila memang mendesak. Oleh karena itu kami sangat berhati-hati dalam mengeluarkan belanja modal,” imbuh Toto beberapa waktu lalu. 

Dengan rencana tersebut, Indonesia bisa lebih unggul dalam kapasitas data center dibandingkan negara di Asia Pasifik. Dari data yang ada, Singapura baru memiliki kapasitas 500 MW, sedangkan Jepang, Australia dan Hong Kong 700 MW. Sementara itu, Indonesia telah memiliki kapasitas 70 MW pusat data, yang separuhnya dioperasikan oleh DCII. 

 

 

Untuk membangun pangkalan data, DCII bakal mengembangkan lahan seluas 8,5 hektare. Dengan luas lahan tersebut, Toto mengatakan perseroan dapat membangun pangkalan data dengan kapasitas mencapai 300 MW. 

Selain itu, perseroan mengembangkan pangkalan data kedua di karawang yang terkait langsung dengan Grup Salim. Pada tahap awal, perseroan akan membangun kapasitas 15 MW, namun ke depannya berpotensi mengembangkan hingga 1.000 MW dengan luas lahan yang tersedia.

Pangkalan data berkapasitas 15 megawatt itu pun telah resmi beroperasi dengan nama H2. “Gedung H2-01 merupakan permulaan dari kawasan hyperscale H2. Area kompleks ini bisa dibangun hingga kapasitas 600MWk," ujar Executive Director Salim Group, Axton Salim, yang juga mengatakan tingkat kebutuhan data center di Indonesia meningkat drastis dalam 2 tahun terakhir.

Saat ini, H2 telah menggandeng tiga pennyedia jaringan yaitu Indonet, Matrix NAP Info, dan TransIndonesia Network. Pada perkembangan lain, DCI Indonesia menggandeng anak usaha Indointernet yaitu PT Ekagrata Data gemilang (EDGE DC) untuk meluncurkan fasilitas data center pertama bertajuk EDGE1.

 

Pendiri dan Komisaris Utama PT Indointernet Tbk. (EDGE) Toto Sugiri. Toto juga mendirikan PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) pada 2012, yang kemudian go public di awal 2021. - DCI Indonesia

 

Dengan kerja sama itu, Toto mengatakan perseroan telah memiliki tiga lokasi pangkalan data. “Kami percaya kemitraan ini akan membantu EDGE DC untuk tumbuh cepat dengan memanfaatkan keahlian DCI Indonesia yang memberikan standar operasional excellence yang tinggi kepada pelanggan kami,” ujar Toto.

Dengan tiga lokasi data center berbeda di bawah platform DCI Indonesia, lanjut Toto, perseroan akan memiliki value proposition yang unik dalam memberikan solusi end-to-end bagi para pelanggan.

Dari sisi kinerja keuangan, DCII meraih pertumbuhan pendapatan sebesar 3,3% year-on-year (YoY) menjadi Rp606,94 miliar pada kuartal III/2021. Segmen kolokasi menjadi pendorong utama pendapatan dengan torehan Rp571,77 miliar. Segmen lain-lain juga mengalami pertumbuhan dari Rp28,14 miliar menjadi Rp35,17 miliar.

Peningkatan top line dan efisiensi beban mendorong laba bersih perseroan melonjak 24,44% YoY dari Rp138,48 miliar per kuartal III/2020 menjadi Rp172,33 miliar per kuartal III/2021.

Alhasil, laba per saham DCII juga meningkat menjadi Rp72. Dengan demikian, price earning ratio (PER) saham DCII saat ini berada di posisi 515,02 kali.

Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.