Jakarta sebagai Kota Sastra, Ini Konsekuensinya

Tolok ukur penilaian sebuah Kota Sastra dilihat dari sisi kualitas, kuantitas, dan keragaman penerbitan, program pendidikan, penyelenggaraan acara serta aspek lain terkait sastra di kota tersebut.

Luke Andaresta
Jan 16, 2022 - 4:30 AM
A-
A+
Jakarta sebagai Kota Sastra, Ini Konsekuensinya

Ilustrasi toko buku (DokJohn Michael Thomson)

Bisnis, JAKARTA – UNESCO telah menobatkan Jakarta sebagai Kota Sastra dan menjadi salah satu dari 49 kota di dunia yang terbaru masuk dalam Jejaring Kota Kreatif UNESCO  atau UNESCO Creative Cities Network (UCCN). 

Dengan masuknya Jakarta dalam daftar ini, ada empat kota di Indonesia yang telah masuk dalam jejaring UCCN.
 
Keempat kota tersebut adalah Pekalongan sebagai Kota Kriya dan Seni Rakyat, Bandung sebagai Kota Desain, Ambon sebagai Kota Musik termasuk Jakarta sebagai Kota Sastra. 

Dengan adanya penobatan ini, Jakarta dapat menjalin kerja sama dengan dan antarkota untuk pembangunan kota yang berkelanjutan.
 
Laura Prinsloo selaku Ketua Harian Komite Jakarta Kota Buku menjelaskan tolok ukur penilaian sebuah Kota Sastra dilihat dari sisi kualitas, kuantitas, dan keragaman penerbitan, program pendidikan, penyelenggaraan acara serta aspek lain terkait sastra di kota tersebut.

 
Selain itu, bagaimana perpustakaan, toko buku, pusat kebudayaan publik atau swasta serta penerbit berperan dalam melestarikan, mempromosikan, dan menyebarluaskan sastra di dalam dan luar negeri, serta mempromosikan dan memperkuat pasar sastra.

Ilustrasi membaca buku / Unsplash


Penobatan ini di satu sisi menjadi angin segar bagi percepatan perkembangan sastra dan ekosistemnya khususnya di Jakarta. Namun, di sisi lain, Jakarta juga memanggul kewajiban untuk menjadikan literasi sebagai salah satu ikon utama kultural.

Oleh karena itu, diperlukan perbincangan yang intens antar pemangku kepentingan sastra untuk merumuskan komitmen apa saja yang diemban oleh sebuah kota yang dinobatkan sebagai UNESCO City of Literature, juga perencanaan dan pelaksanaannya di tingkat lapangan.

Guru Besar Ilmu Susastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, Manneke Budiman, mengatakan perlu adanya fokus dalam upaya mewujudkan Jakarta sebagai Kota Sastra, dan bukan sebagai Kota Buku atau Literasi dalam artian yang lebih luas. 

Dengan begitu, para pemangku kepentingan yang terlibat bisa melihat secara realistis apa yang betul-betul bisa dikerjakan.
 
“Kita akan sangat terbantu kalau kita punya fokus yang jelas. Fokus pada sastra adalah yang paling realistis karena Jakarta sudah dikenal dan diakui sebagai pusat sastra di Indonesia,” katanya dalam satu webinar, baru-baru ini.
 
Sebagai pusat sastra, kata Manneke, Jakarta sudah memiliki beberapa infrastruktur eksisting yang mewujud pada banyak tempat dan programnya seperti di antaranya Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) H.B. Jassin, Badan Bahasa Kemendikbud RI, Lontar Foundation, Jakarta International Literary Festival, dan ASEAN Literary Festival.
 
Selain itu, sebagai Kota Sastra, Jakarta juga telah memiliki modal historis yang kuat terkait dengan kesusastraan seperti Penerbit Balai Pustaka, peristiwa-peristiwa sastra seperti Surat Kepercayaan Gelanggang dan Manifesto Kebudayaan, makam sastrawan-sastrawan di TPU Karet, dan tempat tinggal para sastrawan.
 
“Itu semua tidak terjadi di tempat lain tapi di Jakarta. Percaya atau tidak, ini kalau bisa dipercantik bisa menjadi suatu program atau objek wisata sendiri dan itu terbukti di tempat-tempat lain di luar negeri,” kata Manneke.

Dia memberi gambaran seperti Stratford-upon-Avon, rumah kelahiran William Shakespeare yang terletak di pedesaan Warwickshire di Inggris. Meski berada di pedesaan, rumah tersebut berhasil disulap menjadi objek wisata populer di Inggris yang terkenal di seluruh dunia.
 
Ada juga Franz Kafka Museum yang merupakan museum dedikasi untuk novelis Franz Kafka yang terletak di Praha, Republik Ceko. Bahkan, lanjut Manneke, beberapa jalan di London, Inggris, dinamai dengan tokoh-tokoh fiktif sastra misalnya Sherlock Holmes Sr. Jika diterapkan, beberapa hal seperti itu menurutnya bisa menjadi benchmark Jakarta sebagai Kota Sastra.
 
“Jadi ini soal kemasan, program atau narasi. Bagaimana cerita itu dibuat untuk membuat suatu tempat yang tidak menarik secara pandangan mata, itu tiba-tiba kaya akan riwayat dan kisah. Hal-hal seperti inilah yang menurut saya lebih menarik, menginspirasi, dan hasilnya itu bisa lebih dinilai saat kita fokus membangun Kota Sastra,” imbuhnya.

Revitalisasi Taman Ismail Marzuki Jakarta / istimewa

Selain itu, Manneke juga memberikan beberapa contoh program yang bisa dibuat di Jakarta seperti di antaranya poetry grafiti hall, munculnya penggalan sajak di tempat-tempat umum seperti stasiun, serta kutipan sastra di interior gedung-gedung publik seperti perpustakaan, mal dan stadion olahraga.

 

Untuk mewujudkan itu semua, Manneke mengatakan bahwa hal tersebut tidak bisa dikelola secara birokrasi tetapi harus dikelola secara bisnis yang hanya bisa berkembang jika didukung oleh pemerintah. Hal itu dilakukan agar program yang dibuat mendatangkan profit sehingga program tersebut bisa terus berjalan secara berkelanjutan.

 

Selain itu, pengelolaan program-program tersebut juga harus berbasis kemitraan yang bersifat partisipatoris seperti misalnya para pelajar, mahasiswa, dan komunitas. Keterlibatan mereka dalam mengelola, kata Manneke, bisa menjadi keterlibatan langsung mereka pada praktik kesusastraan.

 

“Jadi, kerjanya banyak tapi terfokus dan realistis bisa menjamin keberlanjutannya. Mengandalkan Pemprov DKI saja ada banyak hal yang bisa terlaksana tanpa harus melibatkan intersektoral seperti kementerian atau instansi,” katanya.

 

Sebagai Kota Sastra, Penulis Zen Hae juga mengharapkan bahwa Jakarta bukan hanya menampilkan infrastruktur atau program eksisting sastra semata, tetapi kegiatan-kegiatan sastrawi tersebut bisa dilakukan secara menyeluruh oleh warganya. Menurutnya, perlu munculnya budaya membaca yang menyeluruh.

 

“Jadi diskusi sastra bukan dilakukan setahun sekali, tapi misalnya seminggu sekali di taman-taman kota. Artinya ini bukan program dari pemerintah atau lembaga, tapi menjadi kegiatan yang terus muncul di masyarakat,” katanya.

 

Zen Hae membayangkan bahwa dalam sebuah kota yang dijuluki sebagai Kota Sastra, para warganya menjadikan kegiatan seperti membaca buku sebagai kegiatan intim baik dilakukan di rumah atau di luar rumah seperti di kereta atau taman kota.

 

“Tapi situasi itu belum kita rasakan [di Jakarta]. Kota yang nyaman untuk membaca itu belum kita rasakan. Padahal, situasi orang membaca yang nyaman dan menyenangkan itu mestinya menjadi pemandangan kota yang menyeluruh,” tambahnya.


Editor: Rustam Agus

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar