Jelajah EV 2023: Tiga 'Culture Shock' Pakai Mobil Listrik

Tim Jelajah EV 2023 setidaknya mencatat ada tiga kebiasaan baru melakukan perjalanan darat jarak jauh ketika mengendarai mobil listrik. Bukan tidak mungkin, mobil listrik bisa jadi andalan perjalanan antarkota antarprovinsi.

Aziz Rahardyan

10 Des 2023 - 15.39
A-
A+
Jelajah EV 2023: Tiga 'Culture Shock' Pakai Mobil Listrik

Proses pengecasan mobil listrik di SPKLU milik Pertamina menggunakan aplikasi MyPertamina./Bisnis-Suryo Hardiantoro

Bisnis, SURABAYA - Kendaraan listrik (EV) turut membawa budaya baru bagi para penggunanya, bahkan bisa sampai mengubah gaya hidup dalam menjalani aktivitas sehari-hari. 

Tim Jelajah EV 2023 Bisnis Indonesia membuktikan sendiri adanya 'culture shock' itu, setelah menggenjot mobil listrik Toyota BZ4X BEV melalui perjalanan darat sejauh 799 km menuju Surabaya dari Wisma Bisnis Indonesia, Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, sejak Senin (4/12/2023).

Budaya berkendara baru itu terutama dirasaksan pengguna EV baru alias 'newbie' yang baru seumur jagung beralih dari mobil mesin bakar konvensional (ICE), tak terkecuali bagi para anggota Tim Jelajah EV. 

Maklum, belum satu pun anggota Tim Jelajah yang merupakan pengguna EV sebagai penopang mobilitas sehari-hari.

Berikut pengalaman autentik kami terkait tiga budaya yang akan ditemui para pengguna EV anyar: 


Baca Juga :  Jelajah EV: Mengecas Mobil Sambil Kulineran di KM 456 


1. Perjalanan Harus Lebih Terencana

Menggunakan EV artinya harus lebih perhitungan soal berapa jarak yang bisa ditempuh kendaraan, dicocokkan dengan ada atau tidaknya infrastruktur Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) di aera tujuan.

Terlebih, apabila pergi ke luar kota dengan jarak tempuh yang lumayan jauh seperti yang sedang kami lakukan. Minimal, proses mengisi daya bisa dilakukan sembari makan, beristirahat, atau melepas penat.

Hal serupa diungkap Rio, Penasihat Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (Koleksi) yang kebetulan kami temui di salah satu SPKLU ruas Tol Trans Jawa. Rio merupakan pengguna mobil listrik senior yang sudah biasa bolak-balik Jakarta-Surabaya. 

"Ada seni mengatur target-target di mana saja akan berhenti sambil mengecas. Harus pintar juga mengatur kecepatan mobil secara stabil, karena tidak mungkin kita geber buat salip sana, salip sini di kecepatan 120 km/jam. Baterai bisa lebih boros nanti," ungkapnya.

Rio mencontohkan salah satu pengalaman unik dalam perjalanan touring bersama rekan anggota Koleksi lain. Dirinya membuktikan bahwa mengendarai mobil listrik dengan stabil justru lebih cepat sampai ketimbang kebut-kebutan.

"Waktu itu, ada beberapa teman yang kebut-kebutan. Akhirnya, baterai mereka habis sebelum SPKLU yang direncanakan. Padahal, belum semua SPKLU itu fast charging. Waktu mereka habis buat isi baterai. Jadi justru kalah cepat dengan yang berkendara stabil sesuai rencana," tambah Rio.

Artinya, kendati ekosistem sarana-prasarana terkait EV di Indonesia masih terus berkembang, jalan jarak jauh tetap memungkinkan, tapi lebih menantang. Rencana perjalanan pun harus dibuat secara lebih matang.


Tim Jelajah EV 2023 Bisnis Indonesia melakukan pengecasan di salah satu SPKLU besutan Pertamina./Bisnis-Aziz Rahardyan


2. Produktif Sembari Mengisi Daya

Memang, pengguna EV tidak akan lagi merasakan kondisi antre seperti ketika membeli BBM untuk kendaraan ICE. Namun, sebagai gantinya, pengguna EV akan menjalani aktivitas menunggu baterai sampai penuh yang bisa memakan waktu lebih dari satu jam.

Oleh sebab itu, aktivitas mengisi daya EV memang harus dibarengi dengan kegiatan produktif. 

Sembari mencicil pekerjaan, berolahraga, atau sekadar mengisi perut, menikmati kopi atau jajanan dari kafe terdekat dengan SPKLU yang digunakan.

Sebagai contoh, Tim Jelajah sempat berbincang dengan pengguna EV bernama Eleanora, yang kebetulan sedang mengisi daya di SPKLU Pertamina MT Haryono Jakarta berbarengan dengan kami. 

Eleanora biasa mengunjungi SPKLU ini setiap sore hari, untuk mengisi baterai mobilnya sembari jogging di Tebet Eco Park. 

"Kebetulan anak saya sekolah di dekat sini juga. Jadi sering sambil charge baterai, sambil olahraga, terus jemput anak pulang sekolah. Alhasil, SPKLU ini yang paling sering saya pakai, selain di mal, gym, dan dekat apartemen," ujarnya kepada Tim Jelajah.


Baca Juga : Jelajah EV 2023: Masalah Pakai Mobil Listrik Buat Jarak Jauh 


3. Digitalisasi Jadi Kunci

Tim Jelajah menemui berbagai macam penyedia SPKLU selama perjalanan dari Jakarta menuju Surabaya. 

Pertama, ketika menjajal mengisi batrai sampai kapasitas penuh di Ibu Kota, kami memilih SPKLU di salah satu pompa bensin Pertamina. Kami butuh mengunduh MyPertamina dan LinkAja. 

Kedua, kami beberapa kali mengisi baterai di rest area yang didukung SPKLU milik PLN. Tim perlu menggunakan aplikasi PLN Mobile dan memakai salah satu dompet digital untuk melakukan pembayaran.

Ketiga, Tim Jelajah EV juga mengunjungi SPKLU besutan Astra Otopower. Mesin ini tidak memerlukan aplikasi khusus, namun menekankan segala transaksinya pada laman website.

Berdasarkan berbagai pengalaman itu, tergambar bahwa memilih memakai EV artinya harus siap menyimpan beberapa aplikasi terkait pengecasan baterai dalam gawai.

Budaya transaksi nontunai menggunakan mobile banking atau dompet digital pun merupakan keniscayaan. Beda dengan isi BBM biasa yang mayoritas masih mengandalkan uang kartal.

Bahkan, pengguna juga harus siap-siap memiliki lebih dari satu aplikasi pembayaran. Ini bertujuan sebagai alternatif, kalau-kalau penyedia SPKLU yang sedang kita datangi belum bisa menerima pembayaran dari platform yang biasa kita pakai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.