Jelang Setahun Merger, Pelindo Ditantang Lebih Responsif

Pelindo harus mampu tampil lebih responsif dan fleksibel serta lebih praktis dalam membuat keputusan. Dengan begitu, Pelindo semakin kompetitif, dan pengguna tidak beralih ke operator lain.

Dany Saputra
Sep 9, 2022 - 12:36 PM
A-
A+
Jelang Setahun Merger, Pelindo  Ditantang Lebih Responsif

Pelabuhan Nilam, Tanjung Perak, Surabaya. Jelang setahun merger, Pelindo ditantang lebih responsif./Bisnis-Adam

Bisnis, JAKARTA – Setelah penggabungan Pelindo I hingga IV, Pelindo berhasil meningkatkan kinerja. Tantangannya, ke depan Pelindo harus mampu tampil lebih responsif dan fleksibel serta lebih praktis dalam membuat keputusan. Dengan begitu, Pelindo semakin kompetitif, dan pengguna tidak beralih ke operator lain.

Jika semua itu bisa tercapai, dampak penggabungan Pelindo I hingga IV pada Oktober tahun lalu bisa semakin optimal.

Sejauh ini, penggabungan Pelindo I hingga IV turut menghasil perencanaan dan mekanisme kerja yang lebih baik. SOP dan fasilitas utama peralatan kepelabuhanan juga didorong semakin seragam di seluruh Indonesia. Berbagai perubahan aspek kelembagaan dinilai turut mendorong peningkatan kinerja kepelabuhanan petikemas di Tanah Air.  

Saat ini, sejumlah terminal petikemas dinilai mengalami kenaikan kinerja. Hal itu, misalnya, terjadi di berbagai terminal kontainer di wilayah Indonesia Timur.

"Dengan penggabungan atas perencanaan yang terpusat lewat merger telah meningkatkan parameter produktivitas penanganan kontainer dalam satuan box ship per hour menjadi lebih baik," terang Pengamat maritim dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Saut Gurning kepada Tim Jelajah Pelabuhan Bisnis Indonesia melalui pesan singkat, Jumat (9/9/2022).

Perencanaan dan pengendalian kepelabuhanan yang terpusat melalui empat unit subholding dinilai mampu mengurangi gap luaran akibat semakin mengecilnya perbedaan kapasitas layanan.

Diferensiasi kinerja luaran antarterminal menjadi semakin minim, sehingga pengguna jasa mendapatkan nilai tambah yang positif.

Tantangannya sekarang, kendali terpusat Pelindo menimbulkan konsekuensi proses pengambilan keputusan terkonsentrasi di pusat. Hal itu menyebabkan berbagai keputusan teknis di lapangan atau layanan jasa Pelindo yang berhadapan langsung dengan pengguna dinilai tidak responsif, dan kurang fleksibel.

Waktu yang lebih lama untuk pengambilan keputusan secara tidak langsung menghilangkan potensi bisnis. Hal itu terjadi bila dihadapkan pada respons dan fleksibilitas pengambilan keputusan oleh operator lain.

"Perencanaan dan penyiapan modal jasa menjadi lebih baik, namun menjadi kurang praktis, kurang fleksibel dan kurang responsif di lapangan," kata Saut.

Pascamerger, menurut Saut, keputusan operasional perseroan cenderung melambung ke atas dulu yaitu kantor pusat atau pimpinan subholding. Padahal, keputusan tersebut dibutuhkan secara cepat untuk kepentingan pengguna jasa.

Secara hierarkis, keputusan dari pusat atau pimpinan subholding dilanjutkan ke bawah melalui kepala regiona, serta perwakilan unit kerja subholding di berbagai lokasi yang berhadapan langsung dengan pengguna jasa.

"Proses baru ini merupakan birokrasi baru yang butuh waktu, lalu kurang fleksibel dan proses tambahan. Alhasil, pengguna jasa bila ditawarkan oleh operator lain yang fleksibel dan gesit akhirnya memilih pengambilan keputusan yang cepat," ujar Saut.

Saut menyarankan agar BUMN pelabuhan itu menerapkan proses pengambilan keputusan yang lebih responsif secara teknis demi melayani kepentingan penggguna jasa di lapangan. Dia juga menyarankan agar peran kepala regional diperbesar.

"Perwakilan subholding perlu segera diisi dengan tim yang andal, memahami fungsi operasional dengan pemahaman kebutuhan ekosistem pengguna jasa di sekitarnya," lanjut Saut.

Pelindo  memiliki empat subholding yakni PT Pelindo Terminal Petikemas, PT Pelindo Multi Terminal, PT Pelindo Jasa Maritim, dan PT Pelindo Solusi Logistik.

Dampak Positif Merger

Merger berdampak positif terhadap kontribusi perseroan atas keuangan negara yang dihitung dalam bentuk dividen, PNBP, konsesi dan pajak penghasilan.

Menurut Wakil Direktur Utama Pelindo Hambra pembentukan perusahaan holding yang baru diikuti dengan pembagian struktur holding, serta pembagian peran setiap entitas anak perusahaan atau cucu perusahaan.

Setiap struktur Holding, lanjut dia, memiliki fungsi khusus dan karakteristik yang berbeda berdasarkan tingkat keterlibatan, diversifikasi usaha, dan sinergi usaha.

Alhasil, penggabungan Pelindo mempermudah kordinasi Pengelolaan pelabuhan di seluruh Indonesia.

"Peningkatan realisasi kontribusi kepada negara pada semester I/2022 yakni dividen meningkat 135 persen, konsesi meningkat 13 persen, Pph meningkat 22 persen, PPN meningkat 33 persen dan PBB meningkat 23 persen,” ujar Hambra, Jumat (9/9/2022).

Menurut Asisten Deputi Bidang Peraturan Perundang-Undangan Kementerian BUMN Wahyu Setiawan merger dan holding mendorong adanya kebijakan deregulasi dan Penataan Peraturan Menteri BUMN.

Dia mencontohkan, sebelumnya terdapat 45 Kebijakan Menteri BUMN, yang terbagi atas 41 Peraturan Menteri BUMN dan 4 Keputusan Menteri BUMN (regelling). Rencananya, setelah deregulasi dan penataan, semuanya akan diringkas menjadi 4 Peraturan Menteri BUMN.

BUMN dituntut memiliki strategi yang kreatif dan inovatif dalam menyikapi perkembangan iklim bisnis, politik maupun budaya yang terjadi.

Oleh karena itu, ujar Wahyu, saat ini diperlukan talenta terbaik untuk mengisi posisi pengurus BUMN. Dengan begitu, produktivitas dapat ditingkatkan dan keberlangsungan perusahaan tetap terjaga.

Bukti Dampak Positif Merger Pelindo I Hingga IV

Kinerja Terminal Petikemas Nilam menjadi salah satu bukti dampak positif merger Pelindo I hingga IV. Terminal Petikemas Nilam mengalami kenaikan produktivitas kinerja bongkar muat peti kemas hingga lama sandar kapal.

Kini, Terminal Nilam sudah mampu melakukan aktivitas bongkar muat peti kemas di kisaran 35 sampai 40 box ship per hour (BSH). Hal tersebut sudah sudah melampaui target 30 BSH.

"Setelah merger hasilnya sekarang kita bisa capai target BSH rata-rata setiap bulan 40 BSH. Pernah juga mencapai 58 BSH," ujar General Manager (GM) Terminal Petikemas Nilam Taufiq Rahman kepada Tim Jelajah Pelabuhan Bisnis Indonesia, Jumat (9/9/2022).


Sebelum penggabungan Pelindo I – IV, kinerja bongkar muat di Terminal Nilam hanya sekitar 20-25 BSH. Taufiq menambahkan, peningkatan kecepatan bongkar muat turut mempersingkat lama sandar kapal (port stay) di dermaga, serta mendorong efisiensi bahan bakar yang digunakan.

Taufik menyebutkan Terminal Nilam pernah membongkar muat 1.300 kontainer hanya selama 22 jam atau kurang dari satu hari.

Waktu port stay yang semakin pendek, turut menguntungkan perusahaan pelayaran. Mereka bisa menambah pelayaran kargo.

"Pelayaran bisa ambil manfat tambah call kargo dan schedule bisa on time. Semakin cepat kinerja akan mengurangi biaya pelayaran," ujarnya.

(Dany Saputra/ Anitana Widya Puspa)

Editor: Saeno

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar