Free

Jenis-Jenis Pupuk yang Disubsidi Pemerintah

Pemberian pupuk bersubsidi harus memenuhi enam prinsip utama yang sudah dicanangkan atau disebut 6T. Artinya adalah tepat jenis, tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat, tepat waktu, dan tepat mutu.

Jaffry Prabu Prakoso

22 Sep 2022 - 15.27
A-
A+
Jenis-Jenis Pupuk yang Disubsidi Pemerintah

Petani menabur pupuk pada tanaman padi di Aceh Besar, Aceh, Selasa (11/8/2020). /ANTARA

JAKARTA – Pemerintah memberikan pupuk bersubsidi kepada para petani dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional.

Dikutip dari situs pertanian.go.id, pemberian pupuk bersubsidi harus memenuhi enam prinsip utama yang sudah dicanangkan atau disebut 6T. Artinya adalah tepat jenis, tepat jumlah, tepat harga, tepat tempat, tepat waktu, dan tepat mutu.

Pupuk bersubsidi pun sudah diatur dalam Surat Keputusan Menperindag No. 70/MPP/Kep/2/2003 tanggal 11 Pebruari 2003, tentang Pengadaan dan Penyaluran Pupuk Bersubsidi Untuk Sektor Pertanian.



Petani padi melakukan pemupukan di lahan sawahnya dengan pupuk urea bersubsidi. istimewa



Mengenai jenis pupuk subsidi yang dimaksud tertuang dalam Pasal 3 yakni Urea, SP-36, ZA dan NPK dengan komposisi N : P : K = 15 : 15 : 15 dan 20 : 10 : 10. Semua pupuk tersebut harus memenuhi standar mutu Standar Nasional Indonesia (SNI).

Masing-masing pupuk memiliki manfaat. Urea terbuat dari campuran gas amoniak dan gas asam arang. Pupuk bersubsidi urea ini menjadi salah satu yang paling banyak digunakan petani baik untuk lahan pertanian maupun budidaya.

Pupuk selanjutnya adalah SP-36 yang memiliki manfaat menambah unsur hara phosphor pada tanaman. Dengan pupuk ini buah yang dihasilkan akan lebih banyak dan kualitas biji jadi lebih baik.


Baca juga: Daftar Perusahaan Pupuk Terbesar di Dunia


Lalu ada pula pupuk ZA yang memberikan manfaat memperbaiki kualitas tanaman dan menambah nilai gizi.

Selain itu, ada pula pupuk NPK yang memiliki manfaat memperkuat tumbuhnya akar, sehingga mudah menyerap zat hara di tanah. Dengan begitu tanaman tidak tumbuh secara kerdil.

Terakhir, ada pupuk organik yang terbuat dari sisa makhluk hidup seperti pelapukan kayu, kotoran hewan dan sebagainya. Penggunaan pupuk ini dapat menjaga tanah tetap subur dan mencegah eros.

Untuk mendapatkan pupuk bersubsidi ini ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi oleh para petani. Salah satu syaratnya adalah petani harus tergabung terlebih dahulu dengan kelompok tani yang ada di desa dan wilayahnya.

Tujuannya adalah agar pupuk bersubsidi dapat tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran. Persyaratan tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 47 Tahun 2017 tentang Alokasi dan Harga Eceran Tertinggi Pupuk Bersubsidi

Pupuk Subsidi Langka 

PT Pupuk Indonesia (Persero) menyampaikan bahwa saat ini pupuk yang disediakan pasti tidak akan mencukupi kebutuhan petani. Sebab, pupuk yang disediakan pemerintah hanya 1/3 dari kebutuhan petani.

Hal tersebut disampaikan Direktur PT Pupuk Indonesia Achmad Bakir Pasaman saat Raker dengan Komisi VI DPR RI pada Senin (19/9/2022) yang disiarkan secara virtual.

“Jadi kalau memang apakah pupuk kami telat, apakah pupuk kami ini bisa dilihat dari digital. Memang akan terus diteriakan langka, karena pupuk yang tersedia kalau berdasarkan eRDKK [Rencana Definitif Kebutuhan Pupuk Bersubsidi Kelompok secara Elektronik] bahwa keperluan pupuk sebesar 25 juta ton sementara pupuk yang bisa disediakan oleh subsidi sebesar 9 juta,” ujar Achmad.


Baca juga: Petani Makin Terimpit Gegara Harga Pupuk Selangit


Dia menjelaskan najwa untuk menjawab mengenai pasokan pupuk mulai dari persediaan pupuk hingga jumlah yang tersalurkan, pihaknya menggunakan sistem digital. Dari mulai lini satu yaitu pabrik, gudang lini II, gudang lini III, distributor, kios pengecer hingga ke kelompok tani.

Menurut dia, realisasi penyaluran pupuk bersubsidi hingga bulan Agustus sebesar 63 persen dan diharapkan pada Desember minimum 92 persen tersalurkan.

Mengenai keberlangsungan pupuk bersubsidi, sesuai Permentan 10/2022 terjadi ketentuan mengenai pengurangan komoditas yang mendapatkan subsidi dari 70 komoditas menjadi 9 komoditas.

Komoditas tersebut yaitu padi, kedelai, jagung, bawang merah, bawang putih, tebu rakyat, kakao rakyat, dan kopi rakyat.

Pupuk Indonesia yang tadinya ditugaskan menyalurkan 5 jenis pupuk jadi hanya ditugaskan menyalurkan pupuk Urea dan NPK melalui beleid tersebut.



Komisi VI DPR RI meninjau gudang lini III Pupuk Indonesia di wilayah Provinsi Banten dan Jawa Barat. /ANTARA-Pupuk Kujang



Berdasarkan Kepmentan 5/2022 pada tanggal 8 September 2022 alokasi Urea subsidi dari 4.232.704 ton menjadi 4.379.832 ton. Selanjutnya NPK semula 2.481.914 ton menjadi 2.981.799 ton.

“Kalau Urea kami cukup jadi kapasitas nasional itu cukup. Sedangkan penugasan NPK sebesar 2,9 juta ton dan kapasitas produksi kami sebesar 3 juta ton. Jadi ini produksi maksimum kami, jadi tidak ada spare lagi untuk pupuk komersil NPK. Jadi ini hanya untuk full mendukung subsidi,” tutur Achmad. (Indra Gunawan)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.