Jokowi Keluarkan PP, Pendapatan dari CHT Mininal Rp232,5 Triliun

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan penerimaan cukai hasil tembakau (CHT) Rp232,5 triliun usai naikkan tarif cukai rokok 10 persen pada 2023.

Jaffry Prabu Prakoso

15 Des 2022 - 11.06
A-
A+
Jokowi Keluarkan PP, Pendapatan dari CHT Mininal Rp232,5 Triliun

Pekerja rokok. Jokowi mematok target penerimaan cukai hasil tembakau atau CHT 2023 senilai Rp232,5 triliun. /Bisnis-Dwi Prasetya.

JAKARTA — Presiden Joko Widodo ( Ini menyusul ketetapan kenaikan cukai rokok rata-rata 10 persen pada tahun depan dan 2024.

Hal itu tercantum dalam Peraturan Presiden (PP) No. 130/2022 tentang Rincian Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Tahun Anggaran 2023. Beleid itu ditetapkan dan ditandatangani oleh Jokowi pada 30 November 2022.

Dalam dokumen tersebut, tertulis bahwa Jokowi menargetkan pendapatan cukai 2023 senilai Rp245,4 triliun. Dari target itu, mayoritas berasal dari penerimaan CHT atau dikenal sebagai cukai rokok.

“[Target] pendapatan cukai hasil tembakau Rp232,58 triliun,” tertulis dalam Perpres 130/2022, dikutip pada Selasa (14/12/2022).

Tarif cukai rokok naik rata-rata 10 persen tahun depan. Masyarakat, perusahaan rokok, dan negara akan mengalami dampaknya,/Bisnis-Muhammad Faisal Nur Ikhsan  

Target pendapatan cukai rokok 2023 tercatat tumbuh 10,8 persen dari tahun sebelumnya senilai Rp209,9 triliun. Pada Senin (12/12/2022), Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut bahwa target pendapatan cukai rokok 2023 sudah tercapai.

Sebelumnya, Jokowi memutuskan untuk menaikkan tarif cukai hasil tembakau atau CHT rata-rata 10 persen pada 2023—2024, menjadi yang terendah selama pandemi Covid-19. Tarif kenaikan berbeda untuk setiap golongan rokok.

Golongan sigaret kretek mesin (SKM) I dan II rata-rata naik antara 11,5 persen—11,75 persen, sigaret putih mesin (SPM) I dan II naik sekitar 11 persen, serta sigaret kretek tangan (SKT) rata-rata 5 persen.

Baca juga: Aksi Forestalling Menjelang Implementasi Tarif Cukai 2023

"Pada tahun-tahun sebelumnya, di mana kita menaikkan cukai rokok yang menyebabkan harga rokok meningkat, sehingga affordability atau keterjangkauan terhadap rokok juga akan makin menurun. Dengan demikian diharapkan konsumsinya akan menurun," ujar Sri Mulyani di Istana Bogor, Kamis (3/11/2022).

Inflasi Naik, Ekonomi Turun

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa kenaikan tarif CHT akan berpengaruh terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi 2023. Itu disebabkan oleh harga produk hasil tembakau akan meningkat.

Alasannya, kebijakan tarif cukai itu akan meningkatkan harga produk hasil tembakau, sedangkan rokok merupakan salah satu barang yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Baca juga: Fakta Kenaikan Cukai Rokok 2023

"Dampak [kenaikan CHT] terhadap inflasi terbatas, yakni masing-masing sebesar plus 0,10 persen sampai dengan 0,20 persen dan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar minus 0,01 persen sampai dengan minus 0,02 persen," ujarnya, Senin (12/12/2022).

Meski begitu, Sri percaya diri bahwa kenaikan harga produk hasil tembakau akibat kebijakan tarif cukai akan berdampak terbatas terhadap inflasi. Dia bahkan optimistis bahwa laju inflasi sudah terkelola dengan baik.

Hal tersebut didasarkan pada indeks harga konsumen (IHK) atau inflasi sempat meningkat akibat lonjakan inflasi harga pangan bergejolak (volatile food). Inflasi komponen pangan bergejolak itu relatif sudah menurun pada November 2022 sehingga laju inflasi secara umum turun ke 5,4 persen


"Pada 2023, inflasi diperkirakan melandai mencapai 3,6 prsen, dipengaruhi oleh melambatnya harga komoditas global secara umum," ujar Sri Mulyani.  

Pemerintah memberlakukan kenaikan tarif yang berbeda untuk setiap golongan produk hasil tembakau. Golongan sigaret kretek mesin (SKM) I dan II rata-rata naik antara 11,5 persen—11,75 persen, sigaret putih mesin (SPM) I dan II naik sekitar 11 persen, serta sigaret kretek tangan (SKT) rata-rata 5 persen.

Selain itu, pemerintah pun menetapkan kenaikan cukai rokok elektrik rata-rata 15 persen dan hasil produk tembakau lainnya (HPTL) rata-rata 6 persen. Kenaikan itu akan berlaku setiap tahunnya hingga 2027. (Wibi Pangestu Pratama)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.