Jorjoran Investasi Telkomsel ke Gojek: Bak Menggarami Lautan!

Gojek sudah mengantongi terlalu banyak investasi sehingga dana US$450 juta dari Telkomsel terasa bak ‘hadiah kecil’ yang tidak akan berdampak signifikan bagi bisnis operator milik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) itu.

May 10, 2021 - 10:21 AM
A-
A+
Jorjoran Investasi Telkomsel ke Gojek: Bak Menggarami Lautan!

Karyawan melayani pelanggan di pusat layanan pelanggan Telkomsel di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Senin(27/1/2020). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis, JAKARTA — Memasuki medio kuartal II/2021, Telkomsel makin royal mengguyur modal ke Gojek. Entah apa yang melatarbelakanginya, investasi jorjoran anak usaha Telkom ke raksasa aplikasi super itu dipandang banyak pakar sebagai aksi menggarami lautan.

Hari ini, Senin (10/5/2021), PT Telekomunikasi Selualr (Telkomsel) resmi mengumumkan investasi tambahan senilai US$300 juta (sekitar Rp4,3 triliun) ke PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek).

Guyuran pendanaan tersebut merupakan tindak lanjut dari investasi awal Telkomsel ke Gojek senilai US$150 juta (sekitar Rp2,1 triliun) pada November 2020. Dengan demikian, kapital Telkomsel di perusahaan ride-hailing app itu menembus US$450 juta (sekitar Rp6,4 triliun).

Adapun, investasi strategis lanjutan ini didukung oleh para pemegang saham Telkomsel yaitu Telkom Indonesia dan Singtel Group.

Menjelaskan aksi korporasinya, Direktur Utama Telkomsel Setyanto Hantoro beralasan investasi lanjutan dari perseroan akan membuka lebih banyak peluang bagi masyarakat untuk melihat dan menikmati lebih banyak inovasi berbasis teknologi.

“Aksi korporasi ini merupakan bagian dari strategi Telkomsel dalam memperkuat trifecta bisnis digital perusahaan, yaitu Digital Connectivity, Digital Platform dan Digital Services,” ujarnya lewat rilisnya, Senin (10/5/2021).

Gayung bersambut, Co-CEO Gojek Group Andre Soelistyo menyatakan suntikan modal dari Telkomsel akan mengoptimalkan sumber daya dan keahlian teknologi dari masing-masing perusahaan untuk berinovasi dan memperluas manfaat ekonomi digital bagi lebih banyak konsumen, mitra pengemudi, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) Indonesia.  

“Kami percaya sekaligus berkomitmen bahwa kemitraan ini akan mendukung percepatan transformasi digital Indonesia yang akan memperkuat posisi Indonesia sebagai pemimpin pasar ekonomi digital di Asia Tenggara,” katanya.

Sayangnya, tidak semua pihak menilai investasi menggebu-gebu dari Telkomsel ke Gojek sebagai langkah yang tepat. Sebab, Gojek sudah tidak bisa lagi disebut sebagai startup yang masih membutuhkan funding dalam jumlah tanggung.

Menurut Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi, Gojek sudah mengantongi terlalu banyak investasi sehingga dana US$450 juta dari Telkomsel terasa bak ‘hadiah kecil’ yang tidak akan berdampak signifikan bagi bisnis operator milik PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) itu.

“Saya melihat dari berbagai analisis, investasi ke Gojek kurang tepat. Biasanya, investasi baru dilakukan setelah investasi sebelumnya berbuah hasil. Namun, ini [investasi] yang lama saja belum berbuah sudah gelontorkan yang baru,” ujar Heru, Senin (10/5/2021).

Terang saja, jika dirunut ke belakang, memang belum ada progres maupun gebrakan signifikan sejak Telkomsel pertama kali menyuntik Gojek akhir tahun lalu. Tak ayal, keputusan menambah pendanaan ke Gojek dinilai sebagai langkah nekat dan tak masuk akal Telkomsel.

“Saya bisa katakan langkah ini memang tidak masuk akal, padahal Telkomsel dikenal sebagai perusahaan yang hemat. Buktinya, untuk dapat frekuensi tambahan saja tidak pernah ada rencana konsolidasi dengan operator lain. Maka dari itu, investasi [ke Gojek] ini harus memberikan kejelasan dan ada percepatan realisasi kerja sama yang benar menguntungkan, utamanya bagi Telkomsel,” katanya.

Belum lagi, lanjutnya, pengaruh Telkomsel di Gojek juga berpeluang terdilusi seandainya aplikasi super itu benar-benar merealisasikan rencana mergernya dengan Tokopedia. Sebab, aksi tersebut praktis akan menarik suntikan dana baru dari investor lain dengan nominal yang lebih besar.

“Ini memang serba membingungkan. Menurut saya, tidak tepat investasi Telkomsel ke Gojek. Kalau Gojek dan Tokopedia bergabung, persentase nilai investasi [Telkomsel] jadi makin kecil saja seolah terdilusi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Heru menggarisbawahi investasi ke spektrum frekuensi sebenarnya lebih urgen dilakukan Telkomsel dalam waktu dekat, alih-alih memacu tambahan suntikan dana ke Gojek.

Dengan berinvestasi ke spektrum frekuensi, anak usaha Telkom itu punya peluang lebih besar untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus lebih cepat mengimplementasikan teknologi baru seperti 5G.

Terlebih, teknologi baru seperti 5G membutuhkan alokasi pita spektrum frekuensi yang lebar hingga 100MHz, sedangkan spektrum frekuensi yang digunakan Telkomsel saat ini masih  kurang untuk melayani ratusan juta pelanggan Telkomsel.  

“Sebenarnya spektrum frekuensi Telkomsel masih jauh dari cukup untuk memberikan layanan optimal bagi konsumen, apalagi untuk mendukung teknologi baru seperti 5G nantinya,” ujarnya.

Sekadar informasi, hingga kuartal III/2020 Telkomsel melayani sekitar 170,1 juta pelanggan, dengan menggunakan total spektrum frekuensi sebesar 82,5MHz yang tersebar di sejumlah pita frekuensi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 117,3 juta merupakan pengguna layanan data yang haus bandwidth, yang kerap menggunakan layanan data untuk mengakses video streaming.

Jumlah pengguna data berpotensi terus meningkat, sehingga mendongkrak lalu lintas data. Untuk mengantisipasinya, dibutuhkan peningkatan kapasitas atau tambahan spektrum frekuensi dengan modal yang tidak murah. 

Seandainya Telkomsel tidak gegabah menambah investasi ke Gojek, Heru yakin perusahaan akan lebih siap secara finansial dalam menghadapi rententan lelang spektrum frekuensi yang akan digelar oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam beberapa tahun ke depan seperti lelang 700MHz.

“Apalagi, secara pendapatan [layanan legacy] Telkomsel juga menurun dari tahun ke tahun, jadi harus hemat dan berhati-hati. Dibilang urgen [investasi ke Gojek] sebenarnya tidak sama sekali. Ini bisa ditunda hingga beberapa tahu ke depan sambil melihat posisi Gojek,” kata Heru.

Sejumlah pengemudi ojek daring menunggu penumpang di Jakarta, Rabu (12/2/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Di tempat terpisah, Ketua Umum Indonesian Digital Empowering Community (IDIEC) M. Tesar Sandikapura berpendapat sebelum berinvestasi ke Gojek, Telkomsel seharusnya dapat mencermati dan berhitung mengenai valuasi Gojek ke depan.

Dia menduga bisnis jasa transportasi daring atau ride hailing  dalam 5 tahun ke depan tidak secerah saat ini.

Persaingan antara Gojek dan Grab yang ketat bakal makin ketat seiring dengan kehadiran AirAsia.  Perusahaan yang bergerak di bidang maskapai penerbangan itu dikabarkan akan masuk ke bisnis ride hailing

Di samping itu, sambungnya, saat ini Gojek sudah waktunya mengarah pada bisnis yang menguntungkan sehingga tidak bisa lagi bakar uang atau memberi diskon kepada pelanggan.

Risikonya, mereka akan ditinggal oleh pengguna, di mana para pengguna akan kembali ke transportasi umum yang lebih murah atau berpindah ke pemain ride hailing baru yang masih tebar diskon.

“Ketika diharuskan untuk untung perusahaan pasti menaikkan harga layanan, efisiensi dan menjual saham,” kata Tesar.

Dia juga mengatakan valuasi perusahaan rintisan yang terjadi saat ini belum tentu seperti valuasi di atas kertas, yang digambarkan ciamik. 

Beberapa hal yang belum terjadi di perusahaan rintisan atau unikorn kerap sudah dianggap sebagai sebuah nilai sebuah perusahaan.

“Jadi ketika Telkomsel investasikan US$300 juta dianggap tidak apa-apa karena valuasi Gojek mencapai US$10 miliar, padahal itu bubble dan bisa kapan saja pecah, tahun ini, tahun depan, atau beberapa tahun lagi,” kata Tesar.

Tesar pun berpendapat saat ini transaksi di Gojek dalam keadaan turun. Pandemi Covid-19 telah menerpa bisnis ride hailing, kemudian layanan pesan antar tidak semulus yang dibayangkan karena daya beli masyarakat merosot. 

Tesar pun menduga investasi yang digelontorkan nanti untuk kepentingan beberapa pihak saja, tidak sepenuhnya untuk kepentingan bisnis Telkomsel. 

“Ketiga orang sudah tidak boros seperti dahulu yang dikit-dikit Gojek. Sekarang orang sudah kembali ke transportasi umum, karena orang sudah berhitung, seharusnya Telkomsel melihat ke sana,” kata Tesar.

LIHAT VALUASI

Bagaimanapun, tak semua pihak kontra dengan keputusan Telkomsel memacu pendanaan ke Gojek. Sebagian kalangan menilai strategi Telkomsel sudah tepat karena dilakukan sebelum Gojek melakukan penawaran umum perdana atau intial public offering (IPO).

Ekonom Indef Bhima Yudhistira mengatakan dengan berinvestasi kembali ke Gojek dalam waktu dekat atau sebelum Gojek melantai di bursa, Telkomsel berpeluang mendapat manfaat yaitu kepemilikan saham Gojek dalam harga yang masih terjangkau.

Saham Gojek, menurut Bhima, akan melesat tajam ketika perusahaan tersebut melantai di bursa atau merger, mengingat rumor yang beredar saat ini mengarah seperti itu.

“Investor yang melakukan suntikan sebelum IPO akan diuntungkan dengan valuasi yang naik cepat. Ini mungkin jangka pendek yang Telkomsel incar,” kata Bhima.

Dengan berinvestasi kembali, Telkomsel berharap bisa masuk lebih dalam tidak hanya ke ekosistem Gojek, juga ke ekosistem Tokopedia. Kondisi tersebut terjadi jika suntikan dana diberikan setelah keduanya merger.   

Ekonom Indef lainnya, Nailul Huda, memperkirakan dana segar yang digelontorkan Telkomsel baru terealisasi pada kuartal III /2020 atau kuartal IV/2020.

Telkomsel menunggu seluruh urusan merger rampung dibahas, termasuk tentang permasalahan hukum dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU).

“Karena menunggu proses merger Gojek-Tokopedia juga dan ketika sudah selesai atau tidak ada masalah hukum, baru bisa ditanamkan kembali investasi ke Gojek-Tokped,” kata Huda.

Adapun, Vice President of Investments MDI Ventures, Aldi Adrian Hartanto mengatakan bahwa aksi korporasi tersebut memang sewajarnya dilakukan secepat mungkin mengingat disrupsi digital yang sudah hadir di tengah masyarakat.

“Kami melihat investasi ini sifatnya urgen serta harus sekarang dilakukan mengingat disrupsi digital yang makin dekat bahkan sudah di tengah kita. Selain itu, kami juga melihat ini sebagai langkah jangka panjang sebagai tonggak awal transformasi Telkomsel yang semakin serius masuk ke bisnis digital,” kata Aldi.

Aldi optimis suntikan dana kali ini akan menggenjot inisiatif digital kedua perusahaan terutama dari sisi layanan over the top (OTT), yaitu layanan dengan konten berupa data, informasi, atau multimedia yang berjalan melalui jaringan internet.

“Kolaborasi ini akan berpotensi dapat berbuah manis dalam ke depan,” ujarnya.

Berdasarkan laporan info memo yang diterima Bisnis, PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) mencatatkan pendapatan senilai Rp87,1 triliun sepanjang 2020, di mana kontribusi bisnis layanan digital menjadi penggerak utama Telkomsel dalam membukukan nilai tersebut.

Anak perusahaan BUMN itu berhasil mencatatkan pendapatan layanan digital senilai Rp62,32 triliun pada 2020, naik sekitar Rp4,09 triliun (7%) dari 2019 yang senilai Rp58,23 triliun.

Bahkan, Telkomsel menyebutkan kontribusi bisnis layanan digital terhadap total pendapatan meningkat menjadi 71,6 persen dari 63,9 persen pada 2019.

Dengan demikian, Aldi optimis layanan OTT menjadi salah satu fitur yang akan dituju oleh Telkomsel dan akan difokuskan juga untuk mengakselerasi deeper dive kerja sama yang sedang dilakukan kedua belah pihak dari MyAds hingga Paket Swadaya.

Untuk jangka menengah, dia berharap kedua belah pihak dapat melakukan kerja sama yang lebih dalam lagi dari sisi potensi setelah merger Gojek dan Tokopedia menjadi Goto terjadi.

“Tentu kami harapkan dana ini dapat memperkuat balance sheet dari perseroan yang akan melakukan merger. Selain itu dari sisi naratif, investasi ini dapat memperkuat potensi dari Goto ke depan untuk pasar Indonesia dengan mendapat dukungan besar dari perusahaan telko terbesar di Indonesia,” katanya.

Pujo Pramono, VP Corporate Communication Telkomsel, menambahkan Telkom sebagai pemegang saham mayoritas mendukung penuh aksi korporasi ke Gojek.

Menurutnya, langkah strategis ini akan memperluas jangkauan Telkom Group dan mendukung upayanya menjadi perusahaan telekomunikasi digital yang terus memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan Indonesia.

“Telkom meyakini aksi korporasi ini sudah melalui pertimbangan yang matang dengan prinsip kehati-hatian dan berdasarkan peraturan perundangan yang berlaku untuk memastikan keuntungan bersama bagi kedua belah pihak,” ujarnya.

Adapun, sambungnya, investasi lanjutan ini merupakan upaya lanjutan untuk mendorong integrasi ekosistem antara Gojek dan Telkomsel untuk memberikan nilai tambah bagi pelanggan dan mitra serta menghadirkan lebih banyak solusi yang mampu mengembangkan ekosistem digital.

Memang, saat ini adalah eranya kolaborasi. Makin banyak korporasi senior yang mengandeng, mengakuisisi, merger, dan menyuntik modal ke startup berbasis teknologi untuk dapat mengebut adaptasi pergeseran pola bisnis 4.0.

Bagaimanapun, sebelum memutuskan untuk jorjoran mengguyur dana, tak ada salahnya mempertimbangkan masak-masak urgensi, sasaran penerima modal, serta faedah dan mudaratnya bagi perkembangan bisnis perseroan.

Jangan sampai modal yang seolah besar justru berakhir tak menghasilkan apa-apa bagi sang investor maupun penerima kapital. (Akbar Evandio/Leo Dwi Jatmiko)

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar