Jurus Bank Jumbo Tangkis Penghambat Tren Kinerja Ciamik

Bank Jumbo cukup optimistis tren pertumbuhan masih akan berlangsung, meskipun harus menghadapi kondisi yang menantang karena laju inflasi dan kondisi geopolitik yang masih belum menentu. Adapun sejumlah strategi juga telah disiapkan untuk mempertahankan kinerja apik.

Asteria Desi Kartikasari
Apr 27, 2022 - 12:09 PM
A-
A+
Jurus Bank Jumbo Tangkis Penghambat Tren Kinerja Ciamik

Pegawai beraktivitas di salah satu cabang digital Bank Mandiri di Jakarta, Kamis (23/12/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis, JAKARTA— Empat bank jumbo mampu mencetak kinerja ciamik pada kuartal pertama 2022. Kondisi tersebut tercermin dari pertumbuhan laba bersih yang rata-rata mencapai digit ganda.

Meskipun cukup percaya diri dengan prospek laju pertumbuhan sepanjang tahun ini, namun sejumlah tantangan terkait laju inflasi dan kondisi geopolitik masih perlu diwaspadai. 

Total laba empat bank Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) 4 atau dengan modal inti di atas Rp70 triliun kemungkinan mencapai Rp30 triliun pada kuartal I/2022. Nilai laba empat bank itu secara historis mewakili sekitar 40 persen dari total laba perbankan secara nasional.

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, pada kuartal I/2022 laba emiten  perbankan dari grup BUMN seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI mencapai Rp12,22 triliun atau tumbuh 63 persen, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) mencapai Rp3,96 triliun. 

Selanjutnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) mencatatkan laba sebesar Rp10, 03 triliun. Angka tersebut naik 70 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Selanjutnya, dari bank jumbo swasta, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) mencatatkan pertumbuhan laba sebesar 14,6 persen dengan nilai Rp8,06 triliun. 

Adapun isu yang digarisbawahi oleh sejumlah perbankan, salah satunya adalah situasi ekonomi global yang tidak pasti akibat konflik geopolitik Rusia dan Ukraina. Menyusul faktor lainnya meliputi inflasi yang terus menanjak turut diwaspadai oleh para Bankir. 

Oleh karena itu, perbankan perlu menempuh sejumlah strategi. Dalam hal ini yang telah disiapkan oleh perbankan misalnya meningkatkan layanan transaksi digital, hingga melakukan transformasi agar mampu menekan beban operasional. Selain itu, proses restrukturisasi kredit yang masih berjalan harus tetap dikawal dengan meningkatkan pencadangan.

Direktur Utama Bank Mandiri Darmawan Junaidi mengatakan moncernya kinerja perseroan didukung oleh sejumlah faktor, di antaranya aset perseroan yang mencapai Rp1.734,1 triliun atau tumbuh 9,5 persen yoy. 

Sementara itu, kredit konsolidasi dari emiten bank dengan kode saham BMRI ini tumbuh 8,9 persen yoy atau menjadi Rp1.073 triliun. Capaian ini diikuti oleh rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) yang turun 49 basis poin dibandingkan periode yang sama tahun lalu, yakni menjadi 2,66 persen. 

Selanjutnya, kata Darmawan, Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan atau pre-provisioning operating profit (PPOP) mencapai Rp17,7 triliun, tumbuh 24,2 persen yoy. Adapun, capital adequacy ratio [CAR] secara konsolidasi terjaga di level 18 persen. 

Darmawan menjelaskan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil dari eksekusi strategi secara disiplin dan prudent yang dimaksimalkan oleh Bank Mandiri dalam dua tahun terakhir.  “Berbagai inisiatif digital yang telah dilakukan  turut berhasil memberikan dampak positif kepada core business perseroan termasuk memperluas akses Bank Mandiri ke pasar serta ekosistem digital,” ujarnya dalam paparan kinerja keuangan kuartal I/2022, Rabu (27/4/2022)

BMRI mengandalkan layanan digital melalui aplikasi Livin’ by Mandiri. Melalui aplikasi tersebut, BMRI mencatatkan pertumbuhan transaksi nasabah selama periode triwulan I/2022. Pertumbuhan tersebut seiring dengan berubahnya perilaku konsumen untuk menggunakan channel digital.

Wakil Direktur Utama Bank Mandiri, Alexandra Askandar menyampaikan bahwa jumlah transaksi Livin’ by Mandiri tumbuh sebesar 71 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). “Secara yoy mencapai 417 juta kali, lebih tinggi dibandingkan transaksi ATM yang membukukan 253 juta transaksi,” kata Alexandra dalam Paparan Publik Laporan Keuangan Triwulan I/2022 Bank Mandiri, Rabu (27/4/2022).

Sementara itu, nilai gross transaction value Livin’ by Mandiri juga mencapai Rp508 triliun selama triwulan I/2022 atau tumbuh 49 persen (yoy) dengan total pengguna mencapai 11 juta. Dia berujar, saat ini Livin juga telah mampu memproses hingga 11.000 transaksi per detik. Kondisi tersebut membuktikan bahwa  channel digital Bank Mandiri sudah mendominasi transaksi nasabah.

Alexandra memastikan Bank Mandiri akan terus menambahkan fitur-fitur di Livin’ maupun Kopra. Aplikasi Livin’ akan menghadirkan keterbukaan ekosistem agar dapat terintegrasi dengan digital ekosistem lainnya untuk memenuhi kebutuhan beyond financial melalui partnership dengan top digital player di market.

“Pada triwulan II/2022, kami akan meluncurkan layanan investasi kepada pengguna, di mana pengguna Livin’ dapat melakukan jual beli produk reksa dana dan surat berharga,” ungkapnya.

 Ke depannya, The New Livin’ akan meluncurkan fitur produk investasi dan fitur urban lifestyle untuk menghadirkan ekosistem digital. Fitur investasi reksadana tersebut nantinya akan memberikan kemudahan bagi nasabah dan pengguna Livin. “Nantinya akan hadir juga layanan dan produk investasi dari perusahaan anak, seperti Mandiri Sekuritas dan Mandiri Investasi,” sambungnya.


Sementara, kinerja keuangan BRI mencatatkan pencapaian positif dari torehan laba bersih sebesar Rp12,22 triliun atau tumbuh 78,13 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Melesatnya laba bersih BBRI juga disebabkan karena mulai pulihnya sektor UMKM yang berdampak positif terhadap penyaluran kredit konsolidasian BRI yang mencapai Rp1.075,93 triliun pada kuartal I/2022. Artinya, kredit yang disalurkan BBRI tumbuh sebesar 7,43 persen yoy. 

Direktur Utama BRI Sunarso menyatakan bahwa pertumbuhan kredit tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan penyaluran kredit perbankan nasional sebesar 6,65 persen. Kemampuan BRI dalam menyalurkan kredit dan pembiayaan juga didukung dengan likuiditas memadai dan permodalan yang kuat. Hal ini terlihat dari LDR bank secara konsolidasian yang tercatat sebesar 86,96 persen dengan CAR 24,61 persen. 

“Perseroan optimistis kinerja di tahun ini mampu melampaui kinerja sebelum pandemi, dengan penyaluran kredit yang diprediksi patok tumbuh 9-11 persen yoy hingga akhir tahun 2022. Optimisme ini selaras dengan sinyal kebangkitan dari UMKM yang merupakan fokus utama bisnis BRI,” katanya. 

WANTI-WANTI

Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah menilai bank-bank besar di Indonesia sudah dipastikan memiliki kinerja  bagus. Hal ini dibuktikan saat terpuruknya kondisi tahun lalu, bank besar masih bisa mendulang keuntungan di tengah kondisi bank lain yang mulai mengalami penurunan kinerja. 

Meski dipastikan memiliki kinerja yang bagus, seiring dengan pemulihan ekonomi, Piter mewanti-wanti akan adanya jangka panjang yang bisa berdampak pada bank besar di Indonesia.

“ Untuk kondisi persaingan sekarang ini, bank-bank besar sudah di dalam market leader. Mereka memiliki semuanya, mereka memiliki CASA  yang lebih tinggi, sehingga cost of fund yang lebih rendah dengan basis nasabah yang besar. Mereka tinggal mempertahankan apa yang sudah mereka kuasai sekarang ini,” tuturnya.

Piter mengungkapkan bank-bank besar harus terus gencar melakukan inovasi, agar market share yang tengah mereka miliki saat ini bisa terus dipertahankan ke depan. Adapun untuk jangka pendek, Piter melihat bahwa bank-bank besar masih sulit untuk digoyahkan. Namun, sekali lagi Piter mengingatkan dalam jangka menengah panjang, bank-bank besar bisa terancam oleh mulai tumbuh berkembangnya bank digital.

 Sementara karena faktor geopolitik, Piter memandang bahwa kondisi perang antara Rusia-Ukraina tidak mempengaruhi kinerja bank-bank besar, dengan asumsi kondisi geopolitik tidak tereskalasi, tidak mengalami peningkatan, dan tidak memburuk.

“Saya kira kondisinya tidak akan mengganggu secara signifikan perkembangan perbankan sistem keuangan kita, terutama mengganggu hegemoni dari bank bank-besar di Indonesia,” jelasnya.

 (Reporter: Dionisius Damara, Leo Dwi Jatmiko, Rika Anggraeni)

Editor: Asteria Desi Kartikasari
company-logo

Lanjutkan Membaca

Jurus Bank Jumbo Tangkis Penghambat Tren Kinerja Ciamik

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ