Jurus Citi Indonesia Percepat Lokomotif Ekonomi Digital

Citibank N.A.,Indonesia atau Citi Indonesia melihat ada sederet potensi ekonomi digital yang dapat menjadi lokomotif ekonomi Indonesia.

Rika Anggraeni

12 Okt 2023 - 19.28
A-
A+
Jurus Citi Indonesia Percepat Lokomotif Ekonomi Digital

CEO Citibank, N.A., Indonesia (Citi Indonesia) Batara Sianturi memberikan pemaparan dalam acara Treasury Trade and Solutions Conference; The Future of Business: Riding on The Wave of Digitalization di Jakarta, Kamis (12/10/2023)./Bisnis-Himawan L Nugraha

Bisnis, JAKARTA — Memutakhirkan inisitif digital terus dilakukan oleh perusahaan jasa keuangan untuk tetap kompetitif di tengah tren serba online. Citibank N.A.,Indonesia atau Citi Indonesia melihat ada sederet potensi ekonomi digital yang dapat menjadi lokomotif ekonomi Indonesia.

Potensi tersebut tercermin dari data pasar ekonomi digital ASEAN yang mencapai US$194 miliar pada 2022. Dalam hal ini, Indonesia berkontribusi hingga 40%. Belum lagi, ekonomi Indonesia juga diproyeksikan bisa mencapai US$150 miliar pada 2025, atau 10% dari PDB Indonesia.

Chief Executive Officer (CEO) Citi Indonesia Batara Sianturi berujar, perusahaan menyadari betul akan potensi digital itu.“Kami benar-benar berkomitmen dalam mendukung kemajuan perekonomian negara dan pertumbuhan berkelanjutan,” kata Batara dalam acara bertajuk The Future of Business: Riding on The Wage of Digitalization, Treasury and Trade Solutions Conference di Jakarta, Kamis (12/10/2023).

Potensi tersebut, menurutnya dapat menjadi navigasi pelaku industri, tidak hanya jasa keuangan namun di seluruh sektor industri. Sementara itu, anak perusahaan yang dimiliki oleh Citigroup, Inc akan fokus terhadap tiga bisnis ini. Salah satunya perbankan, yang terdiri dari bank korporasi, bank investasi, dan bank umum.

CEO Citibank Indonesia Batara Sianturi/Dokumen Citibank Indonesia

 “Kami berinvestasi pada klien-klien yang memimpin perekonomian baru, seperti klien-klien di bidang teknologi, layanan kesehatan, dan energi bersih,” ujarnya.

Selanjutnya,untuk memperkuat sektor bisnis,  Batara menyebut Citi Indonesia juga fokus untuk mengoptimalkan modal, sekaligus beralih ke aktivitas dengan margin lebih tinggi.  Lebih lanjut, Citi Indonesia menyediakan solusi perbendaharaan dan perdagangan (treasury and trade solutions atau TTS), serta jasa keamanan.

Baca Juga: Laba Citibank Indonesia Semester I/2022 Melesat 63 Persen

“Kami berinvestasi dalam pengalaman klien dan meningkatkan infrastruktur teknologi kami,” paparnya. 

Batara menilai bisnis inti tersebut diharapkan akan terus mendorong imbal hasil yang lebih tinggi, menurunkan biaya ekuitas, meningkatkan nilai pemegang saham, dan menempatkan perusahaan pada pertumbuhan.

Inovasi produk menjadi salah satu yang tidak kalah penting. Selanjutnya adalah pengelolaan neraca, dan pemeliharaan kerangka manajemen risiko yang kuat. Situasi tersebut juga sejalan dengan visi perusahaan untuk menjadi mitra perbankan terkemuka di lembaga-lembaga dengan kebutuhan lintas negara.

“Di Citi Indonesia, kami menyadari pentingnya potensi digital dan kami benar-benar berkomitmen dalam mendukung kemajuan perekonomian negara dan pertumbuhan berkelanjutan,” kata Batara.


Dalam kesempatan yang sama, Head of Treasury & Trade Solutions Citi Indonesia Yoanna Darwin menilai transformasi digital juga telah mengubah kebiasaan masyarakat dalam berinteraksi, termasuk melakukan transaksi keuangan.

“Metode [keuangan] tradisional seperti uang tunai dan pajak telah digantikan oleh pembayaran digital, dan menjadi metode yang paling menonjol saat ini,” katanya. 

Baca Juga: Langkah Agresif UOB Kelola Limpahan Nasabah Citigroup

Dia menambahkan kondisi globalisasi juga turut meningkatkan kelancaran transaksi lintas batas atau cross border, sekaligus upaya untuk memperluas inklusi keuangan. Dia membernarkan, ekonomi digital merupakan mesin yang mempercepat perjalanan Indonesia menuju masa depan lebih maju.

Menurutnya, pergeseran tersebut membuat transaksi jauh lebih efisien dan membuka peluang baru. Peluang untuk sektor keuangan dalam mendorong transformasi serta memenuhi permintaan masyarakat soal informasi yang cepat, layanan keuangan yang terjangkau, andal, dan aman.


Kepala OJK Institute Agus Sugiarto memberikan pemaparan dalam acara Treasury Trade and Solutions Conference; The Future of Business: Riding on The Wave of Digitalization di Jakarta, Kamis (12/10/2023).

Head of OJK Institute Agus Sugiarto kondisi digital keuangan saat ini menjadi sinyal adanya tonggak perubahan digitalisasi terbesar di dalam ekonomi digital Indonesia. Agus mengatakan,  kehadiran teknologi keuangan (tekfin) alias pinjaman online (pinjol) yang sebelumnya tidak dapat diprediksi , kini industri menjadi pesaing terbesar bagi lembaga keuangan konvensional.

“Meskipun perkembangan fintech memiliki banyak tantangan saat ini, namun mereka masih terus berkembang dengan pesat,” katanya.

Setali tiga uang, Agus menyebut digitalisasi telah mengubah dan meningkatkan sistem pembayaran masyarakat, yakni dengan transaksi lintas batas negara. “Transaksi ini telah berkembang sangat pesat, didukung oleh sistem pembayaran global yang efisien, murah, namun dapat diandalkan,” katanya.

Di samping itu, OJK juga menyoroti kehadiran e-commerce yang telah mempercepat perdagangan digital, yang beberapa di antaranya kini menjadi big technology atau teknologi besar.“Mereka [e-commerce] dengan mudahnya masuk ke sektor keuangan dan mendisrupsi bisnis lembaga keuangan. Situasi ini juga tercermin dalam sistem pembayaran digital yang inovatif dan menarik,” kata Agus.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Asteria Desi Kartikasari

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.