Kabar Baik untuk RI & Global dari Vietnam soal Beras

Langkah Vietnam yang tak membatasi ekspor berasnya menjadi angin segar di tengah mengetatnya pasokan beras global.

Jaffry Prabu Prakoso

7 Agt 2023 - 10.59
A-
A+
Kabar Baik untuk RI & Global dari Vietnam soal Beras

Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan saat melakukan sidak kedatangan beras impor di Tanjung Priok akhir tahun 2022. /Kemendag

Bisnis, JAKARTA – Kebijakan pemerintah Vietnam untuk mendongkrak ekspor berasnya menjadi angin segar bagi pasar beras global termasuk Indonesia di tengah ancaman El Nino dan mengetatnya pasokan beras dunia.

Pasar beras global tengah memanas seiring kebijakan India menyetop ekspor beras nonbasmati dan langkah Thailand mengurangi aktivitas penanaman padi.

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO) mencatat indeks harga beras dunia pada Juli 2023 naik 2,8 persen dari bulan sebelumnya ke level tertinggi dalam 12 tahun terakhir, yakni rata-rata 129,7 poin.

Adapun, India merupakan penyumbang 40 persen ekspor beras dunia, sementara Thailand dan Vietnam juga masuk dalam jajaran eksportir beras utama dunia dengan kontribusi masing-masing 15 persen dan 14 persen.

Mengutip bisnis.com yang melansir Bloomberg, Senin (7/8/2023), Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh telah memerintahkan jajarannya untuk memastikan ketahanan pangan nasional dalam segala keadaan, sambil meningkatkan produksi dan ekspor beras di tengah ancaman terhadap pasokan global.

Baca juga: Kiat Dorong Penggunaan Produk Dalam Negeri Belanja Pemerintah

Chinh meminta Kementerian Pertanian dan Lingkungan Vietnam untuk menggenjot produksi dari sejumlah sentra pertanian utama nasional. Langkah itu diambil untuk mencapai target nasional, yakni memproduksi beras lebih dari 43 juta ton dalam beberapa tahun ke depan.

Selain itu, dia juga meminta jajarannya untuk menyeimbangkan pasokan beras untuk konsumsi domestik dan juga ekspor untuk memastikan keamanan pangan. Sembari memastikan pasokan, Vietnam juga berupaya mengurangi hambatan teknis untuk meningkatkan ekspor berasnya.

Pada 1 Agustus lalu, Vietnam melaporkan bahwa bahwa produksi padi nasional pada tahun ini berpotensi melampaui 43 juta ton. Adapun, ekspor beras Vietnam diperkirakan mencapai 7,8 juta ton pada 2023, naik sekitar 10 persen dari tahun lalu.

Chinh menyebutkan, keputusan India menyetop ekspor beras nonbasmati dan langkah Thailand mengurangi aktivitas menanam padi, membuat pasar beras global memanas. Tak heran harga beras dunia mengalami kenaikan ke level tertingginya dalam 3 tahun terakhir.

Di Vietnam, kebijakan India dan Thailand telah memicu adanya spekulasi di pasar beras domestik. Para pedagang beras di Vietnam melakukan aksi borong terhadap stok beras di negara itu. Alhasil, situasi itu memunculkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan nasional.

Di sisi lain, harga beras di Vietnam pun turut terkerek. Chinh khawatir, lonjakan harga beras Vietnam karena langkah para spekulan dapat menurunkan reputasi beras Vietnam di mata dunia.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Vietnam Nguyen Hong Dien menegaskan bahwa eksportir beras harus secara ketat mempertahankan stok minimum di dalam negeri. Hal itu menurutnya, telah diamanatkan oleh oleh undang-undang.

Namun, Dien juga meminta para eksportir tetap berusaha menghormati kontrak pembelian dari luar negeri yang telah ditandatangani dan mengambil langkah hati-hati saat berurusan dengan klien baru.

Kebutuhan Impor Indonesia

Sementara itu, Indonesia masih memerlukan impor beras untuk mengamankan cadangan beras pemerintah (CBP). Perum Bulog menyebut Indonesia masih perlu merealisasikan impor beras sebesar 1,56 juta ton pada semester II/2023.

Kebutuhan yang menjadi bagian dari penugasan impor 2 juta ton pada 2023 itu seiring dengan wacana perpanjangan periode bantuan sosial (bansos) beras hingga akhir ini.

Penugasan pengadaan CBP sebanyak 2 juta ton pada tahun ini bersumber dari beberapa negara di antaranya India, Vietnam, Thailand, dan Pakistan.

Adapun, realisasi bansos beras tahap I hingga Juli 2023 sebanyak 637.264 ton, sementara stok beras Bulog per 14 Juli 2023 sebanyak 711.021 ton.

Berdasarkan prakiraan data yang dibuat Bulog, realisasi impor beras sepanjang Januari—Juli 2023 tercatat sebanyak 879.167 ton. Bulog memproyeksikan impor beras pada periode Juli—Desember 2023 sebanyak 1,56 juta ton. Dengan begitu, secara total impor beras sepanjang tahun 2023 diestimasikan mencapai 2,43 juta ton.

"Jika program ini [bansos beras tahap II] jadi dilaksanakan, artinya Perum Bulog akan merealisasikan penugasan impor untuk menjaga ketersediaan akhir tahun stok Bulog di level 1,2 juta ton," ujar Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas) dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah yang ditayangkan secara virtual, Senin (17/7/2023).



Beras impor dari Vietnam sebanyak 5.000 ton tiba di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara akhir tahun 2022. /BISNIS-Annasa Rizki Kamalina.



Buwas mengeklaim bahwa penyaluran program bansos beras kepada lebih dari 21 juta keluarga penerima manfaat (KPM) telah berhasil mengendalikan harga beras di pasaran selama 8 pekan terakhir. Klaim harga beras terkendali itulah yang mendorong pemerintah berencana memperpanjang program bantuan beras kepada KPM hingga Desember 2023.

"Adanya program bantuan pangan yang didistribusikan langsung ke KPM secara langsung mengurangi permintaan di pasar," ucap Buwas.

Kendati demikian, Buwas menegaskan bahwa untuk memenuhi kebutuhan penyaluran bansos, stabilitas pasokan dan harga pangan (SPHP) maupun stok beras pemerintah, Bulog mengandalkan dua sumber penyerapan, yakni dalam maupun luar negeri.

Adapun, realisasi penyerapan beras dari dalam negeri oleh Bulog sepanjang semester I/2023, yakni sebesar 692.571 ton. Buwas menyebut, penyerapan dalam negeri tersebut lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 550.809 ton.

Dia menambahkan, sebagai antisipasi penurunan produksi beras di semester II/2023 karena ancaman El Nino, Bulog bakal mengoptimalkan penyerapan di wilayah-wilayah sentra beras, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sumatra Selatan, dan Sulawesi Selatan.

Dampak El Nino

Produksi beras petani dalam negeri diprediksi turun 5 persen atau setara 1,5 juta ton pada 2023 sebagai dampak dari fenomena El Nino. Kemarau panjang yang disebabkan oleh El Nino diperkirakan mencapai puncaknya pada Agustus hingga September 2023. 

Guru Besar IPB University Dwi Andreas Santosa memperkirakan El Nino yang melanda Indonesia akan berada dalam intensitas moderat. Intensitas moderat ini, menurutnya, tidak memberikan dampak yang terlalu besar terhadap produksi beras petani, dibandingkan El Nino yang terjadi pada 1997—1998.

Baca juga: Peluang dan Tantangan UMKM Go Digital

Kala itu, El Nino dengan intensitas kuat melanda Indonesia, mengakibatkan produksi beras menurun tajam dan 6,4 juta ton beras dari luar negeri didatangkan untuk memenuhi pasokan dalam negeri.

Dwi memperkirakan, El Nino dengan intensitas moderat akan menurunkan produksi beras dalam negeri sebesar 5 persen atau setara 1,5 juta ton beras.

Kendati begitu, seberapa besar dampak fenomena cuaca ini terhadap Indonesia bergantung terhadap kesiapan petani dan pemerintah dalam menghadapi El Nino. (Denis Riantiza Meilanova/Dwi Rachmawati/Ni Luh Anggela)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.