Kala Tiga BUMN Ditugaskan Mengejar Netral Karbon 2060

Pemerintah berkeinginan menciptakan klaster industri hijau atau green energy cluster agar target mengejar netral karbon pada 2060 bisa tercapai lebih cepat.

Ibeth Nurbaiti
Feb 23, 2022 - 3:00 PM
A-
A+
Kala Tiga BUMN Ditugaskan Mengejar Netral Karbon 2060

Wakil Menteri BUMN Pahala Mansury (kedua kiri) menyaksikan kesepakatan pimpinan Pertamina, PLN, dan Pupuk Indonesia untuk mengembangkan program klaster industri hijau di Indonesia. Kegiatan penandatanganan ini dilakukan di Jakarta, Rabu (23/2/2022). (ANTARA/HO-Kementerian BUMN)

Bisnis, JAKARTA — Sektor energi merupakan salah satu sektor yang memiliki biaya yang sangat mahal dalam mengurangi emisi karbon. Tanpa adanya peran aktif BUMN dan swasta, jalan panjang dan berliku untuk mencapai target netral karbon pada 2060 akan makin berat. 

Kendati hingga kini sumber energi fosil masih mendominasi bauran energi nasional, pemerintah terus berupaya menekan emisi karbon, termasuk dengan mendorong BUMN menggiatkan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT).  

Selain itu, pemerintah juga berkeinginan menciptakan klaster industri hijau atau green energy cluster agar target mengejar netral karbon pada 2060 bisa tercapai lebih cepat.

Pahala Nugraha Mansury, Wakil Menteri BUMN I mengatakan setidaknya industri hijau tersebut dapat dikembangkan di kawasan-kawasan industri milik Pupuk Indonesia serta anak perusahaannya yang memproduksi amonia dan hidrogen.

Baca juga: Dilema Ketergantungan Migas di Tengah Desakan Transisi Energi

Adapun, tiga perusahaan BUMN, PT PLN (Persero), PT Pertamina (Persero), dan PT Pupuk Indonesia (Persero) menandatangani nota kesepahaman tentang dekarbonisasi. Ketiga perusahaan pelat merah itu menandatangani perjanjian kerja bersama membangun industri hijau untuk produksi amonia dan hidrogen.

Menurut Pahala, ketiga BUMN dengan torehan penjualan besar di tahun lalu ini bisa menjadi langkah awal untuk memulai green industri cluster.


“Tiga BUMN ini, penjualannya di tahun lalu mencapai Rp1.200 triliun. Ini merupakan the best of the best, jadi kita harap apa yang ditandatangani hari ini bisa segera direalisasikan,” katanya saat penandatanganan nota kesepahaman tersebut secara virtual, Rabu (23/2/2022).

Selain mengembangkan green industry, ketiga BUMN tersebut sepakat untuk meningkatkan penggunaan EBT dalam kegiatan produksinya.

Pahala menyebut, konsep mengenai green industry sebelumnya telah menjadi perbincangan, dan dengan adanya penandatanganan kesepakatan kerja sama tersebut bisa menjadi momentum menjalankan konsep yang sudah dibangun.

“Dan memang kami sudah diskusikan dengan Bu Nicke [Dirut Pertamina], Pak Darmo [Dirut PLN], dan Pak Bakir [Dirut Pupuk Indonesia], jadi tinggal tentunya kita berharap ini jadi satu momentum untuk sama-sama melihat reliasai green industry cluster ini,” katanya.

Menurut Pahala, sejumlah kawasan industri yang di bawah Pupuk Indonesia bisa dimanfaatkan dalam pengembangan green industry. Misalnya, kawasan industri Pupuk Kujang dengan luasan 300 hektare di Jawa Barat, Pupuk Iskandar Muda, pabrik dan kawasan industri Sriwijaya di Sumatra Selatan, dan Pupuk Kaltim di Kalimantan Timur.

Baca juga: Menyongsong Era Baru Rendah Karbon Lewat PLTU Batu Bara

“Kita harap empat kawasan yang saat ini sentra produksi bagi ammonia, kita harap ke depannya bisa fokus mengembangkan blue dan green ammonia, termasuk di kawasan tersebut sebetulnya memiliki reservoir yang mengalami penurunan produksi,” tuturnya.

Pahala juga menyampaikan bahwa sudah saatnya Indonesia melihat peluang pengembangan green economy, di mana negara lain tidak mempunyai resources yang dimiliki Indonesia.

PT Pupuk Indonesia (Persero) menyambut positif kerja sama dengan Pertamina dan PLN dalam mewujudkan green industry cluster melalui penyediaan energi dalam pengembangan green hydrogen dan green ammonia.

Direktur Utama Pupuk Indonesia Bakir Pasaman mengatakan sinergi tersebut akan mengintegrasikan upaya BUMN dalam melakukan dekarbonisasi secara lebih terintegrasi.

“Apapun rencana industri hijau pasti akan melibatkan Pupuk Indonesia karena harus melalui green ammonia dan blue ammonia,” katanya.

Bakir menjelaskan bahwa amonia merupakan bahan baku utama untuk memproduksi pupuk, sedangkan green ammonia dan blue ammonia merupakan amonia yang diproses dan dihasilkan dari sumber energi yang terbarukan. 

Pupuk Indonesia, imbuhnya, sudah memiliki target untuk bisa lebih meningkatkan penggunaan energi ramah lingkungan dalam waktu dekat.

“Jangka pendek, kami ingin menggunakan green power untuk pabrik kami. Green power yang mudah di Pupuk Kujang yang dekat dengan PLTA Jatiluhur. Lalu di-support lagi dengan PLTP ataupun di tempat lain di Sumatra maupun daerah lain sehingga kita mulai memakai green energy untuk pabrik kami,” tutur Bakir.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati menyebutkan kerja sama dengan Pupuk Indonesia dan PLN akan dimulai di Sumatra Selatan dan Jawa Barat. 

Dia menjelaskan bahwa Pertamina sebenarnya telah melakukan pengembangan green hydrogen di Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Ulubelu, Lampung.

“Kami juga butuh Plaju dan Dumai. Plaju sudah blue hydrogen. Plaju dan Cilacap sudah disuplai blue hydrogen. Dumai untuk biofuel maka ini sudah ada blue hydrogen-nya," ungkap Nicke.

Baca juga: Gerak Cepat Pertamina Membirukan Langit Nusantara

Selain itu, ada juga permintaan untuk PHC, amonia di mana Pertamina bisa menghasilkan green ammonia

“Di Jabar juga bisa kita lakukan. Supply EBT-nya melimpah, bisa dibuat klaster sendiri. PLTA besar-besar, PLTP banyak. Kalau bisa bikin green belt itu menarik. Kita semangat untuk itu," kata Nicke.

Di sisi lain, kerja sama tersebut juga bisa menjadi salah satu solusi kelebihan pasokan listrik PLN. 

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo mengakui terdapat gap besar antara suplai listrik dan penambahan konsumsi listrik oleh masyarakat.

“PLN alami oversupply luar biasa. Di Jawa saja di akhir tahun ini ada penambahan pasokan hingga 6 Gigawatt [GW], sementara penambahan demand-nya hanya 800 megawatt (MW),” ujarnya.

Menurut Darmawan, potensi penambahan pasokan listrik terus terbuka seiring dengan rencana pembangunan pembangkit listrik berbasis EBT sesuai dengan target yang dicanangkan dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN).

Baca juga: Jalan Terjal Energi Hijau Terangi Bumi Nusantara

“Kami bangun energy storage system untuk bisa menyimpan dan mendistribusikan ini dan harganya harus affordable. Kerja sama ini nilainya strategis. Ini punya nilai ekonomis. Dengan semangat kolaboratif ini semoga transisi energi juga bisa membuat value creation. Masalah pembangkit kami ahlinya, storage Pertamina alihnya, Pupuk ahlinya pupuk green dan hydrogen,” kata Darmawan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif sebelumnya pernah mengatakan bahwa total daya listrik yang bisa dihasilkan saat proyek rampung bisa mencapai 70 Gigawatt (GW).

“Cukup banyak, potensi [pasokan berlebih] 40—60 persen. Reserve margin kita bisa sampai 50 persen dari ideal 30 persen. Jadi 20 persen dari 70 GW yang memang harus bisa kita cari pemecahannya,” ungkap Arifin. (Faustina Prima)

Editor: Ibeth Nurbaiti
company-logo

Lanjutkan Membaca

Kala Tiga BUMN Ditugaskan Mengejar Netral Karbon 2060

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ