Kalbe Produksi Obat Anemia dengan Ginjal Kronis Pertama di Dunia

Bahan baku obat (BBO) anemia dan ginjal kronis keluaran KLBF ini diklaim 100% berasal dari dalam negeri.

Afiffah Rahmah Nurdifa

24 Okt 2023 - 12.30
A-
A+
Kalbe Produksi Obat Anemia dengan Ginjal Kronis Pertama di Dunia

Kantor PT Kalbe Farma Tbk./kalbe.co.id

Bisnis, JAKARTA – PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) melalui anak usahanya PT Kalbe-Genexine Biologics (KBGio) memproduksi produk obat baru yang diklaim pertama di dunia. Setelah mengantongi surat izin edar, KLBF berencana mengekspor produk tersebut ke wilayah Asea, Timur Tengah, hingga Eropa. 

Produk baru yang dimaksud yaitu obat anemia Efesa (Efepoetin Alfa) pertama yang diriset dan diproduksi di Indonesia melalui platform fusi hyFc Genexine untuk pasien anemia dengan penyakit ginjal kronis. 

Direktur Kalbe Farma sekaligus Presiden Direktur KGBio Sie Djohan mengatakan obat baru ini merupakan produk pertama dari KBGio yang merupakan joint venture dengan biofarma Korea Selatan, Genexine Inc. 

Baca juga: Memacu Pahlawan Devisa Industri Pengalengan Ikan

"KGBio memiliki hak untuk memasarkan produk baru ini di Asia Tenggara, Asia Selatan, Timur Tengah dan seluruh Afrika dan Eropa," kata Djohan dalam konferensi pers Penyerahan Izin Edar Produk Biologi Baru: Efesa, Senin (23/10/2023). 

Obat anemia Efesa ini telah mendapatkan surat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) dan telah mellaui uji klinik fase tiga di tujuh negara, yakni Indonesia, Australia, Taiwan, Filipina, Thailand, Malaysia, dan Korea Selatan. 

Adapun, Djohan menuturkan bahwa bahan baku obat (BBO) terbarunya ini 100% berasal dari dalam negeri. Kapasitas produksi Efesa terbilang masih sedikit. Meski Djohan tak memberikan detail pasti, Kalbe berencana untuk menambah kapasitas ke depannya. 

"Kita sedang membangun kapasitas baru, bioreaktor yang baru yang 1.000 liter dan ini kita harapkan di tahun depan sudah beroperasi. Cukup besar nanti kapasitasnya, yang jelas melebihi kebutuhan yang ada di Indonesia," ujarnya. 

Baca juga: Merajut Mimpi Indonesia Jadi Hub Alat Kesehatan

Efesa diproduksi dari sel mamalia yakni chinese hamster ovary (CHO) yang dikembangkan dalam bioreaktor. Kemudian, sel tersebut dipisahkan dan dimurnikan untuk kemudian diproduksi menjadi barang jadi. 

Kalbe menargetkan produk Efesa akan segera didistribusikan di pasar farmasi dalam negeri akhir tahun 2023 atau awal tahun 2024. Terkait harga produk, pihaknya belum menetapkan harga jual. Namun, di memastikan harga di pasar akan tetap kompetitif. 

Lebih lanjut, Djohan menjelaskan potensi market untuk produk Efesa cukup tinggi. Ini mengingat penderita gagal ginjal kronis untuk kasus-kasus dialis di Indonesia mencapai 100.000 orang. 

"Saya rasa cukup besar market-nya. Saat ini kalau kita lihat seperti produk-produk di pasaran seperti Eritropoietin, marketnya antara Rp300-Rp350 miliar untuk di Indonesia saja," tuturnya. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.