Kaleidoskop 2023: Titik Balik Kebangkitan Industri Hulu Migas RI

Sejumlah langkah berani hingga keputusan sulit yang diambil pemerintah berhasil memulihkan dan menjaga ketahanan energi nasioanal sekaligus memberikan nilai yang besar bagi pertumbuhan ekonomi.

Stepanus I Nyoman A. Wahyudi

19 Des 2023 - 16.33
A-
A+
Kaleidoskop 2023: Titik Balik Kebangkitan Industri Hulu Migas RI

Ilustrasi salah satu wilayah kerja migas. SKK Migas

Bisnis, JAKARTA — Sepanjang 2023 industri hulu migas Tanah Air masih dihadapkan pada kondisi dilematis, yang penuh dengan berbagai tantangan dan ujian. Kendati demikian, sejumlah langkah berani hingga keputusan sulit yang diambil pemerintah berhasil memulihkan dan menjaga ketahanan energi nasioanal sekaligus memberikan nilai yang besar bagi pertumbuhan ekonomi.

Banyak perkembangan menggembirakan dari sejumlah proyek hulu migas, mulai dari berjalannya sejumlah megaproyek migas yang sempat tersendat hingga adanya temuan jumbo cadangan gas.

Beberapa proyek hulu migas juga akhirnya kembali berjalan setelah tersandera isu divestasi yang berlarut-larut, yakni Blok Masela dan proyek migas laut dalam atau Indonesia Deepwater Development (IDD). Kedua megaproyek migas itu kini telah merampungkan proses divestasi.

Di sisi lain, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah tahunan yang belum jua terselesaikan, seperti persoalan lifting migas yang tak mencapai target hingga adanya hambatan di sejumlah proyek. 

 

Berikut sejumlah peristiwa penting di industri hulu migas sepanjang 2023 yang menjadi titik balik kebangkitan industri hulu migas nasional.

 

Disetujuinya Rencana Pengembangan Sejumlah Blok Migas

Pada awal 2023, sejumlah rencana pengembangan atau plan of development (PoD) blok migas strategis disetujui, mulai dari Lapangan Tuna di Wilayah Kerja (WK) Tuna yang dioperasikan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) Premier Oil Tuna BV pada 2 Januari 2023, dilanjutkan dengan persetujuan PoD untuk lapangan kaya minyak Hidayah, bagian dari WK North Madura II garapanPetronas Carigali North Madura II Ltd. pada 10 Januari 2023.

Selanjutnya persetujuan PoD di rentang kuartal I/2023 diberikan kepada Lapangan Asap, Kido, dan Merah (AKM) Blok Kasuri di Papua Barat. Revisi PoD itu diserahkan kepada operator Blok Kasuri, KKKS Genting Oil Kasuri Pte Ltd, entitas Genting Group yang dikendalikan taipan dan pengusaha resor judi asal Malaysia, Lim Kok Thay.

Penyerahan persetujuan PoD AKM dilakukan di sela-sela peresmian proyek strategis nasional (PSN) Jambaran Tiung Biru (JBT) dan Proyek Lapangan Gas MDA dan MBH di Jawa Timur, Rabu (8/2/2023).

 

Pertamina Masuk Blok Masela

Pada 7 April 2023, Inpex Corporation, lewat anak usahanya Inpex Masela Ltd. resmi menyampaikan revisi rencana pengembangan atau plan of development (PoD) untuk penambahan fasilitas penangkapan dan penyimpanan karbon (CCS) di proyek LNG Abadi Blok Masela kepada pemerintah.

Penyampaian revisi rencana pengembangan lapangan itu dilakukan seiring dengan rencana PT Pertamina (Persero) bersama dengan Petroliam Nasional Berhad atau Petronas untuk melakukan penawaran mengikat atau binding offer atas 35% hak partisipasi yang ingin dilepas Shell Upstream Overseas Ltd di proyek LNG Abadi Blok Masela saat itu.

Kemudian, di sela-sela pergelaran Indonesian Petroleum Association (IPA) Convex, Selasa (25/7/2023), konsorsium PT Pertamina (Persero) resmi mengambil alih 35% hak partisipasi Shell Upstream Overseas Services (I) Limited (SUOS), anak usaha Shell plc di proyek LNG Abadi Blok Masela.

Berdasarkan pernyataan resmi Shell, nilai divestasi 35% hak pengelolaan SUOS itu dilepas dengan harga sebesar US$650 juta setara dengan Rp9,75 triliun (asumsi kurs Rp15.002 per dolar AS) kepada Pertamina yang menggandeng perusahaan migas raksasa Malaysia, Petroliam Nasional Berhad atau Petronas sebagai mitra konsorsium.


Lewat konsorsium ini, Pertamina melalui PT Pertamina Hulu Energi (PHE) memiliki 20% hak partisipasi Blok Masela, sementara Petronas 15%

Sebelumnya, proses divestasi saham Shell di Blok Masela terbilang alot. Menteri ESDM Arifin Tasrif sempat menyinggung bahwa Shell kurang fleksibel dalam mengakomodasi kepentingan Indonesia pada proses divestasi hak partisipasi Blok Masela.

Pada Mei 2023, Arifin juga sempat mengingatkan bahwa pemerintah siap melakukan lelang ulang hak partisipasi Shell apabila Shell tetap tidak kooperatif untuk mempercepat proses divestasi yang sudah berlarut-larut.

 

Divestasi Indonesia Deepwater Development (IDD) Rampung

Raksasa migas Italia, Eni akhirnya resmi mengakuisisi hak pengelolaan Chevron dan menjadi operator di proyek migas laut dalam atau Indonesia Deepwater Development (IDD) tahap II pada Selasa (25/7/2023).

Penandatanganan perjanjian jual beli saham atau sales purchase agreement (SPA) Chevron Makassar Ltd (CML), Chevron Ganal Ltd (CGL) dan Chevron Rapak Ltd. (CRL) sebagai operator proyek IDD kepada Eni Lasmo PLC (Eni) disaksikan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif.

“Selamat Chevron dan Eni untuk penandatanganan pengalihan kepemilikan IDD. Saya harap acara ini dapat menjadi momentum yang baik untuk meningkatkan bisnis migas di Indonesia,” kata Arifin.

Proyek IDD yang berlokasi di Cekungan Kutai, Kalimantan Timur ini merupakan proyek pengembangan lima lapangan gas di laut dalam di kedalaman antara 975 meter sampai dengan 1.785 meter yang dilakukan secara terintegrasi untuk memenuhi kebutuhan gas pasar domestik dan Kilang LNG Bontang. 

Blok yang ikut menjadi proyek strategis nasional (PSN) dengan nilai US$6,98 miliar atau setara dengan Rp104,61 triliun (asumsi kurs Rp14.988) itu sudah ditawarkan ke pasar sejak Juli 2019 lalu. Chevron, dengan kepemilikan hak pengelolaan 62% memutuskan proyek IDD tidak dapat bersaing dalam portofolio global perusahaan.

Proyek IDD memiliki produksi mencapai 844 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) untuk gas alam dan 27.000 barel per hari (bopd) untuk minyak bumi. Divestasi proyek IDD dari Chevron ke Eni menjadi krusial untuk Indonesia karena proyek ini diharapkan dapat meningkatkan produksi gas ke level 12.000 MMscfd pada 2030 nanti. 

 

Temuan Jumbo Cadangan Gas di Kaltim

Pada ajang ADIPEC di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada Minggu (1/10/2023), Eni melaporkan keberhasilan tajak terkait dengan temuan cadangan gas di Wilayah Kerja North Ganal, Kalimantan Timur dengan perkiraan awal gas in place 5 trilion cubic feet (Tcf).

Temuan itu disampaikan Head of Regional and Far East Eni saat bertemu dengan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Dwi Soetjipto.

Dengan perkiraan awal discovered resources sebesar kurang lebih 609 MMBOE (recoverable), laporan ini menjadikan temuan di sumur Geng North-1 menjadi salah satu dari tiga besar temuan eksplorasi dunia pada 2023.

 

Beroperasinya Kilang Tangguh Train 3

Fasilitas Tangguh Train 3 di Papua Barat yang dioperatori raksasa migas Inggris BP resmi mengirimkan kargo gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) pertama ke PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) pada Kamis (19/10/2023).

Dengan beroperasinya Tangguh Train 3, maka kapasitas produksi dari dua Train yang saat ini telah beroperasi akan bertambah 3,8 juta ton dan membuat total kapasitas produksi tahunan menjadi 11,4 juta ton. Proyek strategis nasional ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada Jumat (24/11/2023).

“Puji dan syukur alhamdulillah hari ini kita akan meresmikan proyek Tangguh Train 3 penghasil gas bumi terbesar di Indonesia,” kata Jokowi di acara peresmian Tangguh Train 3 di Teluk Bintuni, Papua Barat.

Jokowi mengatakan bahwa Tangguh Train 3 dibangun dengan investasi yang sangat besar yaitu US$4,83 miliar atau Rp72,45 triliun.  


 

Pengembangan Blok Tuna

Awal Maret 2023, turut ditandai dengan tersanderanya rencana pengembangan WK Tuna akibat sanksi yang dikenakan Inggris & Uni Eropa untuk Rusia terkait dengan invasi di Ukraina.

Lewat keterbukaan informasi dikutip Minggu (12/3/2023), perusahaan induk KKKS Premier Oil Tuna BV, Harbour Energy plc, melaporkan kesulitan untuk mendapat akses pendanaan lantaran bermitra dengan perusahaan migas pelat merah asal Rusia, Zarubezhneft lewat anak perusahaannya, ZN Asia Ltd yang memegang hak partisipasi 50% pada Blok Tuna tersebut.

 

Isu Oversupply Gas

Memasuki tengah tahun 2023, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menghadapi situasi oversupply gas di Jawa Timur. Belakangan SKK Migas sepakat untuk menurunkan puncak produksi gas di wilayah Jawa Timur guna mengantisipasi proyeksi oversupply yang ditaksir mencapai 200 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) pada 2024 hingga 2026 mendatang.

Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa Nurwahidi mengatakan, langkah itu dilakukan untuk mengimbangi laju serapan gas domestik yang relatif berjalan stagnan. Manuver untuk menurunkan puncak produksi gas itu juga diharapkan dapat memperpanjang masa produksi gas atau plateau di kawasan tersebut yang belakangan makin susut.

“Akan kita sesuaikan, jadi tahun lalu kita peak [puncak] itu bisa sampai 1.300 MMscfd, tapi sekarang kita tahan di sekitar 1.000 MMscfd saja,” kata Nurwahidi saat ditemui di Surabaya, Selasa (23/5/2023).

 

Wacana Larangan Ekspor Gas

Ribut-ribut soal larangan ekspor gas ikut menjadi perhatian publik mengawali Juni 2023. Simpang siur itu bermula saat pelaku usah gundah menyusul pernyataan Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan kepada media ihwal rencana pemerintah untuk menghentikan izin ekspor gas.


Kendati demikian, moratorium ekspor gas itu dipastikan baru bakal dimulai pada 2035 mendatang, selepas Dewan Energi Nasional (DEN) mempertahankan rencana moratorium itu dalam revisi Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014 Tentang Kebijakan Energi Nasional dan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 22 Tahun 2017 Tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) tahun ini.

 

Lifting Belum Capai Target

SKK Migas melaporkan realisasi produksi siap jual atau lifting minyak dan gas (migas) hingga Oktober 2023 masih di bawah target. SKK Migas mencatat realisasi lifting minyak sampai dengan Oktober 2023 berada di level 604.300 barel per hari (bopd) atau 91,6% dari target APBN yang dipatok di angka 660.000 bopd.

Sementara itu, realisasi salur gas pada periode yang sama tertahan di level 5.353 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd). Torehan itu mencapai 86,9% dari target APBN di level 6.160 MMscfd. 

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto menerangkan, rendahnya realisasi lifting migas hingga akhir tahun ini disebabkan karena mundurnya jadwal onstream sejumlah proyek migas raksasa akibat pandemi Covid-19. Faktor itu, kata Dwi, mengakibatkan jadwal onstream proyek mesti mundur rata-rata selama 2 tahun. 


 

Amendemen Kontrak Blok Corridor

Jelang tutup tahun 2023, Menteri ESDM Arifin Tasrif menyetujui amendemen production sharing contract (PSC) Blok Corridor yang telah lama diajukan PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC).

Perubahan kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC) Blok Corridor dari gross split menjadi cost recovery memberi angin bagi kelanjutan eksplorasi wilayah kerja migas yang berlokasi di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatra Selatan itu.

Wilayah kerja migas yang belakangan berdasarkan pandangan PT Medco Energi Internasional Tbk. mengalami tren penurunan produksi, untuk biaya produksi terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir.

Permohonan perpindahan kontrak bagi hasil itu juga sejatinya sudah lama diajukan operator Blok Corridor sebelumnya, yakni sejak konsesi masih dipegang oleh ConocoPhillips. Hingga akhirnya perusahaan energi terintegrasi ketiga terbesar di Amerika Serikat itu memutuskan hengkang dari Blok Corridor.

Pada 2019, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menyerahkan pengelolaan Blok Corridor ke ConocoPhillips, PT Pertamina (Persero), dan Repsol untuk jangka waktu 20 tahun mulai dari 20 Desember 2023 dengan skema bagi hasil kotor atau gross split.

Kontrak bagi hasil WK Corridor merupakan kontrak perpanjangan dengan pemegang hak partisipasi ConocoPhillips (Grissik) Ltd. sebesar 46%, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Corridor 30%, dan Talisman Corridor Ltd. (Repsol) sebesar 24%.

Adapun, Pertamina bakal menjadi operator Blok Corridor pada 2026, atau 3 tahun pertama setelah kontrak berjalan dan dioperatori oleh ConocoPhillips (kini oleh Medco). Pengelolaan Blok Corridor ini bagi Pertamina tentunya sangat strategis karena nantinya akan terintegrasi dengan Blok Rokan yang dikelola perseroan pada 2021 dan Kilang Dumai di Riau.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.