Kasus Covid-19 Mereda, Industri APD Turunkan Kapasitas Produksi

Industri masker dan alat pelindung diri (APD) menurunkan kapasitas produksi pada tahun ini. Kasus Covid-19 mereda atau pasar kelebihan stok?

Moh. Fatkhul Maskur
Sep 5, 2021 - 11:50 AM
A-
A+
Kasus Covid-19 Mereda, Industri APD Turunkan Kapasitas Produksi

Pekerja PT Pan Brothers Boyolali berunjuk rasa di depan pabrik, Rabu (5/5/2021). - JIBI/Bayu Jatmiko Adi

Bisnis, JAKARTA - Industri masker dan alat pelindung diri (APD) menurunkan kapasitas produksi pada tahun ini. Kasus Covid-19 mereda atau pasar kelebihan stok?

PT Pan Brothers Tbk. (PBRX) memproyeksikan penjualan masker dan alat pelindung diri (APD) akan turun 76,74% menjadi US$19 juta dibandingkan dengan tahun lalu sebesar US$81,7 juta.

Corporate Secretary Pan Brothers Iswardeni mengatakan seperti yang diprediksi perseroan, permintaan masker dan APD akan turun pada 2021 dan tahun depan.

"Konsentrasi kami memang di brands, meskipun kami tetap memproduksi APD," kata Iswardeni kepada Bisnis, belum lama ini.

Tahun lalu Pan Brothers diketahui memproduksi sekitar 3 juta hingga 5 juta unit PAD dalam bentuk jubah dan masker sekitar 30 juta unit per bulan. Dengan terpangkasnya kapasitas produksi masker dan APD, maka kontribusinya terhadap pendapatan perseroan menjadi hanya 5%.

Sedangkan untuk tahun depan, produksi masker dan APD akan turun lebih lanjut, dengan proyeksi pendapatan US$10 juta atau menyusut 47,36% dibandingkan dengan proyeksi tahun ini.

"Untuk PBRX seluruh factory bisa mengerjakan brands atau pun APD. Jadi tergantung permintaan market," katanya.

Pada paruh pertama tahun ini, PBRX telah membukukan pendapatan senilai US$300,8 juta, dengan keuntungan kotor senilai US$39,1 juta, meningkat 13,0% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Berdasarkan data Kemenperin, saat ini ada 87 pabrikan masker medis dengan utilisasi di level 71,69%. Adapun, industri masker medis diramalkan akan memproduksi 3,1 miliar masker medis, sedangkan 129,8 juta digunakan konsumen lokal.

Sementara itu, ada 146 pabrikan APD medis sekali pakai dengan utilisasi di mencapai 80,4 persen. Sampai akhir tahun, industri APD medis sekali pakai akan memproduksi 556,8 juta unit, sedangkan 11,74 juta unit akan dipasarkan di dalam negeri.

Pada akhir semester I/2020, Kemenperin mendata ada 16 pabrikan masker kain dengan kapasitas produksi per bulan mencapai 394,8 juta unit. Adapun, industri masker kain nasional diramalkan akan memproduksi 2,08 miliar unit hingga akhir tahun.

Sementara itu, sedikitnya ada 25 perusahaan telah mengantongi izin produksi dan izin edar APD sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tingkat 1, 2, dan 3. Adapun APD tingkat 1 merupakan standar medical grade. 

Kapasitas produksi APD dari 25 perusahaan tersebut sebanyak 18,9 juta potong per bulan atau 226 juta per tahun. Jumlah ini meningkat dari sebelumnya hanya 12 juta potong per tahun, atau di bawah 1 juta potong setiap bulannya. 

"Jadi APD kalau keadaan normal kapasitas produksi per tahun hanya 12 juta, per bulan di bawah 1 juta, jadi industri tekstil yang tadinya bukan pembuat APD kami dorong, kapasitas produksi APD hampir 19 juta per bulan," jelas Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi dan Tekstil Kemenperin, Muhammad Khayam.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Rizal Tanzil Rakhman mengatakan mayoritas produsen alat pelindung diri atau APD dan masker akan menurunkan kapasitas produksinya tahun ini. Hal itu lantaran kelebihan produk yang terjadi sejak pertengahan 2020.

Dalam kondisi yang masih pandemi saat ini, pabrikan juga tidak akan bisa melakukan stok besar. Alhasil, penurunan produksi mau tidak mau akan dilakukan. 

"Soal surplus besar APD dan masker sudah dari tahun lalu waktu itu kami minta ekspor dibuka dan belanja pemerintah untuk produk lokal. Sekarang ekspor memang sudah dibuka tetapi penyerapannya masih lambat," katanya kepada Bisnis, Senin (15/2/2021).

Sayangnya, Rizal menyebut impor produk APD dan masker juga masih terjadi hingga saat ini. Padahal, jika belanja diprioritaskan untuk produk dalam negeri dan konsumsi dalam negeri maka akan dapat mengamankan kelebihan pasokan saat ini. 

Belum lagi, jika pemerintah mampu menjadikan Indonesia hub produk APD dan masker untuk pasar global tentu akan sangat membantu produsen.

Sementara itu, kasus terkonfirmasi Covid-19 di Indonesia menunjukkan penurunan sejak 16 Juli 2021, yang mana angka terkonfirmasi Covid-19 sebanyak 54.517 orang turun menjadi 7.797 pada 3 September 2021.

Hal yang sama juga ditunjukkan di ranah global. Pada pekan terakhir Agustus, tren kasus terkonfirmasi Covid-19 menunjukkan penurunan 134%.

 

Editor: Fatkhul Maskur

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar