Kembangkan Kapasitas, Harum Energy Aktif Cari Tambang Nikel Lain

Harum Energy (HRUM) terus menjajaki peluang investasi pada tambang bijih nikel baru untuk memperluas sumber daya yang ada.

Jaffry Prabu Prakoso

9 Jan 2023 - 18.43
A-
A+
Kembangkan Kapasitas, Harum Energy Aktif Cari Tambang Nikel Lain

Kegiatan operasional di tambang batu bara yang dikelola oleh PT Harum Energy Tbk. /Harum Energy

Bisnis, JAKARTA - Emiten tambang milik konglomerat Kiki Barki PT Harum Energy Tbk. (HRUM) menyampaikan akan terus mencari investasi baru, baik di hulu dan hilir sektor nikel.

Direktur Utama Harum Energy Ray Antonio Gunara mengatakan bahwa investasi-investasi baru Harum Energy di sektor nikel merupakan strategi utama emiten berkode saham HRUM ini untuk terus mengembangkan kapasitas produksi nikelnya secara berkelanjutan dan meningkatkan nilai tambah.

"Kami akan terus menjajaki peluang investasi pada tambang bijih nikel baru untuk memperluas sumber daya yang ada," kata Ray kepada Bisnis, Senin (9/1/2023).


Dia melanjutkan bahwa pada saat yang sama, HRUM akan terus bekerja sama dalam mengembangkan kapasitas pengolahan nikel lebih jauh ke sektor hilir, untuk meningkatkan nilai tambah.

Seperti diketahui, pada 2022 lalu HRUM melalui anak usahanya PT Harum Nickel Industry (HNI) mengakuisisi 250.000 saham baru PT Westrong Metal Industry (WMI), atau yang mewakili 20 persen dari modal ditempatkan dan disetor WMI dengan harga US$75 juta.

WMI bergerak dalam bidang pemurnian nikel atau smelter. Nantinya, smelter WMI akan memiliki kapasitas produksi tahunan antara 44.000 ton-56.000 ton nikel dalam bentuk feronikel atau nickel pig ore.

Baca juga: Pabrik Feronikel Antam di Halmahera Timur Beroperasi Tahun ini

Selain WMI, akhir tahun 2021 HRUM juga diketahui melakukan investasi di PT Infei Metal Industry (IMI) sebanyak US$24,44 juta untuk menambah kepemilikan saham di IMI. Sebelumnya, HRUM menggelontorkan US$69 juta untuk mengakuisisi IMI pada awal 2021.

Ray menjelaskan bahwa smelter nikel IMI diharapkan akan beroperasi penuh sepanjang tahun 2023. Sementara itu, smelter WMI ditargetkan baru mulai beroperasi secara bertahap di kuartal keempat tahun ini.

"Kontribusi dari kedua smelter ini terhadap laba perusahaan tahun ini diproyeksikan lebih besar dibandingkan dari tahun 2022, tetapi tergantung kepada harga komoditas yang berlaku," ucapnya.

Larangan Ekspor Bijih Nikel

Sementara itu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah melarang ekspor bijih nikel dan akan melanjutkan larangan ekspor untuk komoditas bauksit pada Juni 2023 mendatang. Cadangan dan produksi dua komoditas mineral logam ini di Tanah Air cukup besar dan termasuk peringkat enam besar di dunia.

Baca juga: Magnet Segmen Nikel Makin Menarik

Berdasarkan Rencana Pengelolaan Mineral dan Batubara Nasional Tahun 2022—2027 yang ditetapkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif pada 19 Desember 2022, cadangan dan produksi nikel Indonesia berada di peringkat ke-1 di dunia atau setara dengan 23 persen cadangan dunia dan produksi 29 persen dari cadangan dunia.

Adapun, Indonesia memiliki total sumber daya nikel sebesar 17,7 miliar ton bijih dan 177,8 juta ton logam dengan cadangan 5,2 miliar ton bijih dan 57 juta ton logam.

Indonesia juga masih menyimpan beberapa wilayah yang belum dieksplorasi (greenfield) yang dapat dikembangkan dan dijadikan peluang investasi, seperti untuk komoditas nikel ada di Provinsi Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018)./JIBI-Nurul Hidayat 

Sementara itu, cadangan dan produksi bauksit Indonesia berada di peringkat ke-6 di dunia atau 4 persen dari cadangan dunia. Total sumber daya bauksit sebesar 6,6 miliar ton bijih dan 1,1 miliar ton logam, dengan cadangan 3,2 miliar ton bijih dan 520 juta ton logam.

Wilayah greenfield untuk komoditas bauksit teridentifikasi di Provinsi Kepulauan Riau dan Kalimantan Barat.

Pemerintah memperkirakan permintaan komoditas mineral khususnya nikel akan semakin kuat seiring dengan peningkatan permintaan baterai berbasis nikel. Selain nikel, komoditas besi dan bauksit juga diperkirakan akan mengalami peningkatan seiring proyeksi permintaan alumunium pasar global yang terus meningkat. (Annisa Kurniasari Saumi dan Denis Riantiza Meilanova)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.