Kepak Sayap Industri Aviasi, Bakal Terbang Tinggi?

International Air Transport Association (IATA) meyakini pemulihan industri penerbangan global berlangsung pada 2023 kendati dibayangi harga minyak yang tinggi dan peningkatan inflasi.

Rayful Mudassir
May 18, 2022 - 10:37 AM
A-
A+
Kepak Sayap Industri Aviasi, Bakal Terbang Tinggi?

Bisnis, JAKARTA - Sepanjang pandemi Covid-19, industri penerbangan dalam negeri memang meringis bukan main. Namun, selama Lebaran hingga setelahnya, jumlah penumpang mulai menunjukkan tanda-tanda menggembirakan. 

Di Bandara Soekarno - Hatta, Cengkareng misalnya, keramaian calon penumpang nyaris seperti prapandemi Covid-19. Tingkat arus penumpang setelah Idulfitri mencapai 95 persen dari masa normal sebelum virus Corona menyebar. 

Biasanya, Bandara tersibuk di Republik itu menangani 1.200 pergerakan pesawat per hari sebelum pandemi. Kini, CGK mulai melayani 1.070 pergerakan pesawat per hari. Selisihnya terbilang tipis. Berbanding pergerakan pada 2021 sekitar 450 - 550 pesawat per hari. 

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyebutkan peningkatan ini sudah terjadi sejak H-3 Lebaran. Lalu lintas pesawat bahkan tidak turun dari level 1.070 pergerakan per hari.

“Bahkan H-3 Lebaran itu [jumlah penumpang] melampaui 2019 mencapai 150.000 orang di Soekarno-Hatta,” katanya di sela-sela menghadiri Changi Aviation Summit 2022, Selasa (17/5/2022).


Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) saat mengisi diskusi panel di sela Changi Aviation Summit di Singapura./Dok Kemenhub



Selama momentum Lebaran, arus penumpang pesawat cukup terasa. Data Kemenhub mencatat angkutan udara melayani sekitar 2.659.212 penumpang. Jumlah itu tercatat selama 13 hari mulai 25 April (H-7) hingga 8 Mei (H+5) Lebaran. 

Dari laporan itu ditemukan bahwa pergerakan penumpang keberangkatan terpadat terjadi di lima Bandara, yakni Soekarno-Hatta, Juanda (Surabaya), I Gusti Ngurah Rai (Bali), Sultan Hasanuddin (Makassar), dan Kuala Namu (Sumatra Utara).

Menhub Budi Karya malah menyebut pemudik selama Idulfitri tahun ini tembus 2,9 juta orang atau setara 82 persen dari angka pada Lebaran 2019. Tahun sebelum pandemi Covid-19 belum menerpa Tanah Air. 

Padahal, jumlah armada pesawat selama mudik kali ini lebih sedikit dibandingkan dengan periode yang sama 2019. Prapandemi, jumlah pesawat mencapai 550 unit, sedangkan kini hanya tersisa 350 unit pesawat.

“Saya percaya bahwa industri penerbangan di Indonesia akan dapat bangkit kembali dalam waktu singkat,” kata Budi Karya.


Optimisme ini didukung oleh relaksasi syarat perjalanan dalam dan luar negeri yang diterbitkan pemerintah. Sebab, Presiden Joko Widodo telah membebaskan penggunaan masker pada area terbuka. Ditambah lagi, Satgas Covid-19 memberi kelonggaran bagi pelaku perjalanan. 

Satgas menerbitkan Surat Edaran (SE) No 18/2022 tentang Ketentuan Perjalanan Orang Dalam Negeri Pada Masa Pandemi Corona Virus Desease 2019 (Covid-19). Isinya menerangkan sejumlah ketentuan baru terkait syarat perjalanan. 

Pertama, pelaku perjalanan dalam negeri yang telah mendapatkan vaksinasi dosis kedua dan ketiga tidak diwajibkan menunjukkan hasil negatif tes RT-PCR maupun rapid test antigen. Kedua, penerima vaksinasi dosis pertama hanya perlu menyerahkan bukti negatif Covid-19 melalui rapid test antigen. 

Kementerian Perhubungan menindaklanjuti kebijakan ini dengan menerbitkan sejumlah SE untuk seluruh moda transportasi umum baik darat, laut maupun udara. Beleid serupa juga diperuntukkan bagi pelaku perjalanan luar negeri.

Regulasi ini memberi dampak cukup signifikan bagi industri penerbangan. Penumpang mendapat kemudahan syarat dalam melakukan perjalanan. Terlebih saat ini penerima vaksin kedua telah mencapai 166 juta orang, dosis pertama 199 juta orang serta booster telah diberikan kepada 43 juta orang. 

Budi Karya meyakini kebijakan tersebut memberikan manfaat bagi konektivitas nasional dan internasional. Aturan yang diputuskan Presiden Jokowi ini menjadi titik kebangkitan dunia transportasi dan ekonomi dalam negeri. Dia memprediksi arus penumpang pesawat internasional bakal bertambah. 

“Siap-siap, ini akan terjadi pergerakan [penumpang/orang] yang luar biasa,” kata Budi di sela-sela Changi Aviation Summit 2022, Rabu (18/5/2022). 

Juru bicara Kemenhub Adita Irawati menambahkan SE Kemenhub tersebut menetapkan syarat tes RT-PCR maupun antigen tak diperlukan lagi bagi pelaku perjalanan luar negeri maupun domestik bila sudah vaksinasi lengkap dan booster.

“Artinya, penerbangan domestik juga sudah kembali seperti sebelum mudik yaitu vaksinasi lengkap tak perlu lagi tes,” paparnya.

Plt Dirjen Perhubungan Udara sekaligus Sekretaris Jenderal Kemenhub Novie Riyanto menyatakan secara umum otoritas penerbangan sipil siap menjalankan aturan baru itu. “SE Juklak sudah terbit dan sudah berlaku,” kata Novie.


Presiden Joko Widodo saat menyampaikan pelonggaran kebijakan pemakaian masker, Selasa (17/5/2022)./Dok Setkab


Penerbangan Global

Willie Walsh, Director General International Air Transport Association (IATA) meyakini pemulihan industri penerbangan global berlangsung pada 2023 kendati dibayangi harga minyak yang tinggi dan peningkatan inflasi.

“Saya tetap sangat optimis tentang pemulihan tahun ini dan hingga 2023,” kata Walsh.

Sayangnya, dia mengkhawatirkan pemulihan penerbangan di kawasan Asia-Pasifik akan tertinggal karena China terus mengejar nol kasus Covid-19.

Pada kuartal I/2022, dia mencatat perjalanan internasional telah pulih menjadi 48% dari kondisi prapandemi. Tanda pemulihan itu terlihat saat dibandingkan dengan perjalanan internasional pada 2021 hanya mencapai 25% dari 2019.

“Kami akan meminta pemerintah untuk mendukung maskapai penerbangan dan bandara saat kami mencoba memulihkan jaringan [penerbangan] kami,” katanya.


Pesawat milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia bersiap melakukan penerbangan di Bandara internasional Sam Ratulangi Manado, Sulawesi Utara akhir pekan lalu (8/1/2017)./Bisnis-Dedi Gunawann


Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA) Irfan Setiaputra menilai pemulihan industri penerbangan bisa berjalan lebih optimal dengan syarat kesehatan masyarakat tetap terjaga dengan baik dari gelombang Covid-19.

Dia juga berharap momentum pemulihan industri aviasi selama periode Lebaran dapat berlanjut hingga beberapa tahun mendatang. “Tapi yang penting adalah memastikan bahwa kesehatan masyarakat terjaga sehingga upaya recovery dapat dimaksimalkan,” ujarnya.

Terkendala

Kendati demikian, Ketua Asosiasi Pengguna Jasa Penerbangan Alvin Lie mengatakan bahwa belum ada kepastian terkait dengan keberlanjutan tren peningkatan di kuartal II/2022. Meskipun terdapat geliat pada sektor penerbangan pada saat mudik Lebaran yang jatuh pada kuartal II/2022.

Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penumpang angkutan udara domestik pada kuartal I/2022 mencapai 10,71 juta penumpang atau naik 55,56 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Penumpang angkutan udara internasional pada periode yang sama tercatat mencapai 0,37 juta penumpang atau tumbuh hingga 200,24 persen yoy.

Alvin menjelaskan daya beli masyarakat yang belum pulih sepenuhnya serta kenaikan harga avtur bisa menghambat tren pemulihan ke depan. Apalagi, belum ada kepastian sampai kapan kondisi eksternal seperti ekonomi global dan ketegangan geopolitik akan berlangsung.


"Daya beli masyarakat belum kembali dan kondisi ekonomi masih belum stabil dan masih lemah. Ditambah, harga avtur masih terus naik dan akan mendorong harga tiket naik terus," kata Alvin, Selasa (10/5/2022).

Menurut Alvin, saat ini pihak maskapai masih sangat berhati-hati. Hal tersebut, terlihat saat pelaksanaan mudik dan balik Lebaran di mana hampir tidak ada penerbangan tambahan atau extra flight

Maskapai masih wait and see dalam mengoperasikan pesawat yang diistirahatkan dan mengaktifkan kembali pilot-pilot yang sempat dirumahkan, ketika awal pandemi Covid-19.

"Mengaktifkan pesawat-pesawat dan pilot-pilot yang selama ini dirumahkan akan menjadi beban biaya tetap, sementara belum ada tanda-tanda kenaikan ini akan berlanjut atau turun lagi," ujarnya.

Ke depan, sektor penerbangan diproyeksikan bakal ditopang oleh segmen pasar angkutan berbiaya rendah atau low-cost carrier (LCC). Contohnya, Pelita Air yang masuk ke segmen pelayanan menengah.

Masuknya Pelita Air pada kelas tersebut menandakan bahwa tren penggunaan moda penerbangan masih dititikberatkan pada efisiensi biaya ketimbang kualitas pelayanan. Pengguna transportasi udara masih tidak menuntut pelayanan mewah. Melainkan sekadar dapat bepergian. (Hendra Wibawa, Anitana Widya Puspa & Dany Saputra)

Editor: Rayful Mudassir
company-logo

Lanjutkan Membaca

Kepak Sayap Industri Aviasi, Bakal Terbang Tinggi?

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ