Kerja di Destinasi Wisata, Workcation Makin Diminati

Workcation semakin diminati mereka yang berstatus bekerja dari rumah. Workcation merupakan bekerja di tempat tujuan wisata. Pikiran yang segar bisa meningkatkan gairah bekerja di lokasi wisata.

Redaksi

26 Nov 2021 - 15.25
A-
A+
Kerja di Destinasi Wisata, Workcation Makin Diminati

Seorang wisatawan domestik menikmati keindahan Tanah Lot di Tabanan, Bali./Bisnis-M. Syahran W. Lubis

Bisnis, JAKARTA – Tren workcation terus meningkat di era kenormalan baru dengan bos ataupun karyawan memboyong "kantor" mereka ke tempat-tempat yang biasanya dijadikan tujuan wisata atau berlibur.

Aldilano Bryan Kautsar, yang bekerja di perusahaan asuransi, merupakan salah satu yang sejak tahun lalu menetap sambil bekerja di Bali. Workcation di Bali sebetulnya tidak direncanakan. Dia dan istri yang ketika itu baru menikah memutuskan berbulan madu di Pulau Dewata.

"PPKM yang awal itu kami enggak bisa pulang ke Jakarta, kami memutuskan full WFH (work from home) di sini, habis itu keterusan," kata Aldi sebagaimana ditulis Antara.

Kebetulan, dia dan istri memang tidak dituntut untuk bekerja di kantor selama pandemi Covid-19. Ruang kerja mereka tak lagi di dalam gedung, melainkan di vila, gunung, hingga pinggir pantai. Saat penat, mereka cukup berjalan kaki ke pantai yang bisa ditempuh kurang dari 5 menit dan kembali setelah pikiran segar.

"Work-life balance masih ada di sini, karena jamnya lebih cepat, jadi mulai hari lebih cepat, pada saat orang Jakarta baru bangun, kami sudah beres-beres dan mulai kerja duluan," kata Aldi yang belum berencana kembali ke Jakarta selama belum diwajibkan bekerja di kantor.

Keuntungan lainnya bekerja di Bali adalah lalu lintas yang lebih bersahabat dan dekat ke berbagai tujuan. Gunung hingga pantai bisa dijangkau lebih mudah dan cepat. Tidak ada lagi cerita terjebak macet saat berangkat dan pulang kerja.

"Kalau di Jakarta pada malam hari rasanya sudah 'kusut'. Di sini tempat yang dituju reachable, enggak habis waktu di jalan," tuturnya.

Koneksi internet yang mumpuni jadi faktor penting yang membuat Bali tepat sebagai tempat workcation. "Provider internetnya oke," tuturnya.

Sejauh ini, Aldi melihat semakin banyak orang-orang dari kota lain seperti Jakarta yang juga menjalani gaya hidup serupa dengannya: bekerja dari tempat liburan.

Keindahan Pantai Kuta di Bali./Reuters

Marsya, karyawati Jakarta, menetap selama 2 pekan di Bali sebelum kembali ke Ibu Kota setelah pergi ke Nusa Tenggara Timur. Kehadiran teman yang bisa diajak tinggal bersama merupakan faktor penting dalam workcation Marsya.

"Aku punya teman yang kerjanya banyak di Bali, dia juga masih sewa penginapan akhirnya kita barengan, aku dan dia bersama suami masing-masing," ucap Marsya.

Rasa jenuh bekerja di Jakarta mendorongnya untuk mencicipi bekerja sambil berlibur di Pulau Dewata, ditambah lagi dengan kasus-kasus Covid-19 pun sedang melandai. Awalnya Marsya berencana tinggal sebulan di Bali, tapi urung karena kantornya sudah mulai menerapkan kerja dari kantor.

Pekan pertama dia masih merasa gaya kerjanya mirip dengan ketika kerja dari rumah di Jakarta. Kebanyakan dia menghabiskan waktu di vila untuk bekerja. Akhirnya Marsya memutuskan membuat rutinitas dengan pekerjaan diimbangi dengan aktivitas menyenangkan. Setiap pagi dia pergi ke pantai atau mencari sarapan sebelum bekerja.

Semangat untuk mengeksplorasi tempat-tempat baru memberi warna dalam rutinitas kerja di Bali. "Karena hawa liburan banyak bisa bisa disamperin tempatnya sambil kerja, ada semangat buka laptop sambil lihat pemandangan baru," ungkapnya.

Belum lagi kebetulan ada banyak teman-temannya yang sedang bekerja di Bali, sehingga dia kadang menyempatkan diri untuk bertemu dan bekerja bersama. Menyeimbangkan hidup dan pekerjaan lebih mudah di Bali, tuturnya, karena ada banyak aktivitas menarik yang bisa dilakukan selain bekerja.

"Kalau di Jakarta kayaknya buka laptop dari pagi dan enggak ke mana-mana, belum mandi dan makan langsung kerja, karena bingung mau ngapain lagi," ujarnya.

Marsya menambahkan, mencari teman bekerja yang tepat dan bisa diajak bersenang-senang bersama juga tak kalah penting. "Saya lihat ada temannya apa enggak, kalau berdua doang sama suami rasanya kayak sehari-hari saja."

Jangan lupa untuk membuat daftar-daftar tempat yang ingin didatangi agar pengeluaran lebih terkontrol. "Satu hal lagi soal perbedaan waktu, kalau beda sejam saja enggak masalah, kalau perbedaan jamnya agak jauh repot ya. Misalnya meeting di Jakarta malam, di sini sudah ngantuk."

Biro perjalanan daring mencatat peningkatan permintaan workcation tak hanya terjadi pada periode libur panjang akhir pekan, tetapi juga hari kerja. Head of Corporate Communications Traveloka, Reza Amirul Juniarshah mengatakan tren ini memang semakin diminati.

"Wisatawan bekerja dari destinasi wisata selama hari kerja, dengan didukung fasilitas memadai yang banyak disediakan para pengelola properti hotel, seperti koneksi wifi yang stabil, serta working station," kata Reza.

Sementara itu, Public Relations Manager tiket.com Sandra Darmosumarto mengatakan tren staycation dan liburan dekat rumah sekarang menjadi preferensi masyarakat.

Bila mengacu pada data internal, lanjutnya, dia juga melihat bahwa untuk saat ini, masyarakat Indonesia masih memilih berlibur di Tanah Air, walaupun perbatasan internasional mulai dibuka bagi wisatawan Indonesia.

Dia mengungkapkan pula bahwa pemesanan untuk akhir tahun 2021 dari penerbangan, akomodasi dan tiket To Do meningkat 11% dibandingkan dengan pemesanan akhir tahun lalu.

"Ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin percaya diri untuk melakukan liburan/perjalanan dengan tetap menerapkan protokol kesehatan," tutur Sandra.

TREN DI EROPA

Workcation pun telah menjadi tren di luar negeri. Sebagaimana ditulis Antara yang mengutip Reuters, banyak orang Eropa menikmati musim panas dengan bekerja jarak jauh di tempat-tempat wisata sambil berlibur.

Sinar matahari, laut, dan akses internet yang cepat menarik minat para eksekutif untuk bekerja di pulau-pulau selatan Eropa sebelum atasan memanggil mereka kembali ke kantor.

Olga Paul datang ke Pulau Gran Canaria, Spanyol, pada Mei untuk bekerja dari sana, setelah berbulan-bulan terkurung di apartemennya di Munchen, Jerman, akibat pandemi Covid-19.

Perempuan berusia 34 tahun itu bertugas sebagai analis bisnis di salah satu produsen mobil terbesar di Jerman. "Saya pikir saya lebih produktif sekarang. Saya bisa berkonsentrasi dengan pekerjaan dan mengeksplorasi pulau pada akhir pekan, rasanya menyenangkan," ungkapnya sambil memandang laut dari atap tempatnya ber-workcation.

Memadukan wisata dengan kerja jarak jauh sedang marak di pulau-pulau Spanyol dan Portugal yang penuh cahaya matahari, ketika larangan bepergian diperlonggar dan industri perjalanan yang terpuruk memberi diskon biaya menginap dan ruang kerja khusus.

"Kami melihat pertumbuhan yang pasti di kategori Digital Nomad, yang menjadi penting bagi sektor wisata selama pandemi karena kontribusinya pada lama hunian dan ekonomi setempat," kata Jennifer Iduh, Kepala Riset Badan Wisata Uni Eropa.

Para pekerja jarak jauh mendaftar sebagai turis, sehingga membuat sulit penghitungan, tetapi bukti keberadaan mereka ada di mana-mana, dari ruang kerja bersama (co-working space) hingga tempelan stiker yang mengiklankan akses Wi-Fi cepat dan gratis di banyak resto, kafe dan bar.

Akan tetapi, kedatangan mereka baru sedikit mengangkat ekonomi pulau-pulau yang mengandalkan pariwisata. Kunjungan wisatawan ke Spanyol pada paruh pertama tahun ini baru sepertiga dari 10 juta kunjungan pada periode yang sama pada 2019.

Asosiasi lokal di Kepulauan Canary atau Madeira di Portugal mengatakan jumlah orang yang datang untuk bekerja jarak jauh meningkat, bahkan di saat musim liburan yang ongkosnya lebih mahal.

Situs Nomad List menyebut Tenerife di Canary termasuk 10 destinasi teleworking yang berkembang cepat dalam 7 bulan pertama 2021 setelah mulai tren tahun lalu.

"Pada musim panas lalu, saya sering melihat orang datang, bukan untuk berlibur atau tinggal permanen, tapi bekerja selama 6 pekan, 3 bulan, 3 bulan," kata Nele Boesmans, orang Belgia yang tinggal di Fuerteventura, pulau terbesar kedua di Kepulauan Canary.

Keindahan Tenerife di Kepulauan Canary, Spanyol./Antara

Anggota grup Facebook "Digital Nomads Fuerteventura" yang dikelola Boesmans bertambah empat kali lipat jumlahnya selama pandemi.

Situs-situs web maskapai dan penyewaan mengatakan pemesanan dari daratan Eropa yang anjlok pada musim panas lalu kini meningkat.

Penerbangan ke Canary melonjak 88% antara April dan Juli tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama pada 2020, kata maskapai penerbangan murah Ryanair, sementara pemesanan ke Tenerife berlipat dua.

Trennya terus meningkat, kata juru bicara Ryanair, seraya menambahkan bahwa penjualan tiket sekali terbang ke Canary naik 32% pada Mei dan 74% pada Juni.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Syahran Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.