Kilang Cilacap akan Produksi Avtur Sawit 100% pada 2026

Ke depannya, produk Bioavtur-Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) kemungkinan akan diuji coba pada pesawat Airbus milik maskapai anak usaha Pertamina, Pelita Air setelah sukses dilakukan uji terbang komersial pada pesawat Boeing 737-800 NG milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA).

Denis Riantiza Meilanova

5 Nov 2023 - 09.31
A-
A+
Kilang Cilacap akan Produksi Avtur Sawit 100% pada 2026

Green Refinery Kilang Cilacap telah mampu memproduksi Bioavtur – Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) dengan kandungan minyak inti sawit atau refined bleached deodorized palm kernel oil (RBDPKO) sebesar 2,4% dengan kapasitas 9.000 barel per hari (bpd). Bisnis-PT KPI

Bisnis, JAKARTA — PT Pertamina (Persero) melalui anak usaha PT Kilang Pertamina Internasional menargetkan dapat mulai memproduksi avtur berbahan baku 100% minyak inti sawit atau bioavtur 100% di Kilang Cilacap pada 2026.

Saat ini, Green Refinery Kilang Cilacap telah mampu memproduksi Bioavtur – Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) dengan kandungan minyak inti sawit atau refined bleached deodorized palm kernel oil (RBDPKO) sebesar 2,4% dengan kapasitas 9.000 barel per hari (bpd). 

Kandungan nabati ini akan ditingkatkan menjadi 100% dalam proyek pengembangan Green Refinery Kilang Cilacap Fase 2.

Ke depannya, produk Bioavtur-Pertamina Sustainable Aviation Fuel (SAF) kemungkinan akan diuji coba pada pesawat Airbus milik maskapai anak usaha Pertamina, Pelita Air setelah sukses dilakukan uji terbang komersial pada pesawat Boeing 737-800 NG milik PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk. (GIAA).

Baca juga: Pertamina Siap Salurkan Bioavtur SAF, Bahan Bakar Terbaru Aviasi

“Fase 2 ini nantinya didesain untuk multi-feedstock antara lain crude palm oil [CPO], refined bleached deodorized palm oil [RBDPO], dan used cooking oil [UCO] atau minyak jelantah. Ini yang dalam rencana saat ini, ditargetkan onstream di tahun 2026,” ujar Direktur Utama PT KPI Taufik Aditiyawarman dalam acara media visit Kilang Cilacap, Kamis (2/11/2023).

Menurut Taufik, bahan bakar Bioavtur-SAF memiliki potensi paling besar dalam upaya mengurangi emisi CO2 di industri penerbangan sipil. “Ini menjadi jawaban atas tantangan terhadap KPI tentang produk ramah lingkungan, berkelanjutan, dan target nol emisi karbon,” katanya.

Lebih lanjut, Bioavtur-SAF sudah memenuhi standar internasional untuk spesifikasi Avtur ASTM D 1655, Defstan 91-91 latest issued, serta SK Dirjen Migas No.59 K Tahun 2022. Bioavtur-SAF juga telah melalui uji ground round dan flight test SAF pada mesin jet CFM56-7B di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Tangerang, Banten pada 27 Oktober 2023.


Sementara itu, proyek Green Refinery Kilang Cilacap Fase 2 juga bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengolahan hydrotreated vegetable oil (HVO) dari saat ini sebesar 3.000 bpd menjadi 6.000 bpd.

Adapun, Green Refinery RU IV Cilacap Fase 1 dikembangkan sejak Februari 2022. Unit ini mampu memroduksi produk rendah emisi gas rumah kaca. Produk utama unit ini adalah green diesel dengan bahan baku 100% terbarukan dan memiliki kandungan sulfur lebih baik dari Euro V. 

Menurut Taufik, meski bioavtur telah berhasil diujicobakan pada pesawat Boeing milik Garuda, uji coba tersendiri pada jenis pesawat lain tetap diperlukan. Hal ini karena terkait sertifikasinya yang berbeda.

Baca juga: Harapan Baru Pertamina Mengebut Investasi Kilang di Negeri Orang

Taufik meyakini potensi pasar bioavtur ke depan sebenarnya cukup menjanjikan, mengingat maskapai penerbangan juga mulai berkomitmen untuk mengurangi jejak karbonnya. Terlebih, saat ini juga sudah banyak negara mulai mewajibkan penggunaan sustainable aviation fuel bagi pesawat yang melintas di wilayah udaranya.

Diakuinya memang pasar bioavtur untuk dalam negeri masih menantang sehingga pihaknya masih akan menyasar pasar ekspor. “Di nasional belum ada regulasi yang mewajibkan menggunakan berapa persen SAF. Berarti kami orientasinya ekspor karena negara lain sudah mulai lebih tinggi, AS kalau tidak salah 25%, Australia 5%, Singapura juga sudah mau naik, apalagi pajak karbon mau naik, mereka pasti wajibkan itu. Itu peluang bagi kami,” ujarnya.

Baca juga: Pertamina Patra Niaga Tangkap Peluang Transisi Energi

Taufik pun berharap agar pemerintah dapat segera menggulirkan regulasi yang dapat mendorong pemanfaatan bioavtur di dalam negeri. Hal ini mengingat Indonesia memiliki potensi bahan baku bioavtur yang sangat melimpah.

“Memang dilemanya pemerintah harus hadir karena ini kita punya kebun sawit terbesar di dunia. Ini yang kita manfaatkan secara maksimal gimana kontribusi energi yang lebih green,” katanya.

Contoh produk terbaru bahan bakar aviasi (pesawat), yakni Sustainable Aviation Fuel (SAF) yang saat ini masih dalam tahapan rangkaian uji coba pengembangan. Bisnis-Pertamina Patra Niaga.


Untuk diketahui, pengembangan produk SAF ini merupakan kolaborasi antara Direktorat Jenderal EBTKE Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, ITB, Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Lemigas, BRIN, Garuda Indonesia dan Garuda Maintenance Facility, serta Pertamina Group melalui Research & Technology Innovation (RTI), Kilang Pertamina Internasional (KPI), dan Pertamina Patra Niaga.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Ibeth Nurbaiti

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.