Kinerja Emiten Kabel Dibayangi Kenaikan Harga Komoditas Logam

Kenaikan harga komoditas logam telah menekan kinerja emiten kabel. Sejumlah analis pun angkat bicara terkait prospek emiten tersebut ke depannnya.

Ropesta Sitorus
Sep 20, 2021 - 1:47 AM
A-
A+
Kinerja Emiten Kabel Dibayangi Kenaikan Harga Komoditas Logam

Gulungan kabel di sebuah pabrik kabel. - Bisnis/Swi

Bisnis, JAKARTA -  Kenaikan harga komoditas, khususnya logam industri, tak melulu mendorong kinerja emiten. Tak sedikit emiten yang harus gigit jari menerima dampak kenaikan harga komiditas.

Salah satunya emiten kabel yang tertekan kenaikan harga bahan baku logam industri. Apalagi kenaikan harga terus berlanjut hingga saat ini. 

Berdasarkan data dari London Metal Exchange (LME) per Jumat, 19 September 2021, harga komoditas tembaga ditutup pada level US$9.435 per ton. Analis Kiwoom Sekuritas, Sukarno Alatas, pun menilai kinerja emiten di bidang produsen kabel akan terdampak kenaikan harga tersebut, khususnya dari sisi peningkatan beban perusahaan.

“Ditambah masih banyaknya proyek nasional yang akan ditunda pada tahun ini, membuat kinerjanya belum mampu pulih secara penuh,” kata Sukarno dihubungi Bisnis, Minggu (19/9).

Dia pun melihat prospek kinerja dari emiten kabel hingga akhir tahun belum begitu menarik dengan kondisi atau pertimbangan tersebut. Dari sisi harga sa­­­­­hamnya, Sukarno menilai mayoritas laju harga saham emiten kabel se­­­­­dang konsolidasi dengan kecenderungan turun.

Sukarno pun memperkirakan harga saham emiten-emiten di sektor ini masih bisa kembali turun dari kondisi saat ini, dengan target penurunan 5% sampai 10% secara rata-rata dari masing-masing harga emiten kabel.

“Ada peluang kembali menguat juga karena penurunan harganya sudah signifikan. Tapi untuk emiten kabel ini likuiditasnya kurang menarik,” tuturnya.

Kendati begitu, Sukarno menilai saham-saham emiten kabel ini masih bisa untuk dikoleksi dengan tujuan investasi. Dia menyarankan investor untuk menunggu momentum beli yang tepat, karena bisa jadi kesempatan beli ada pada saat harga saham emiten-emiten tersebut sedang turun.

 

 

Analis BCA Sekuritas Achmad Yaki juga menjelaskan kenaikan harga komoditas tambang seperti tembaga dan mineral lainnya akan membuat peningkatan yang signifikan di sisi harga pokok penjualan (hpp) emiten-emiten kabel. “Potensi bisa menggerus gross margin dari emiten-emiten kabel ini,” kata Yaki saat dihubungi terpisah.

Dia menyarankan investor untuk berhati-hati terhadap saham-saham emiten sektor kabel. Meskipun dia menilai investor masih bisa membeli secara selektif saham-saham di sektor tersebut untuk jangka panjang. 

“Untuk jangka panjang masih menarik untuk buy on support secara selektif, terutama yang punya kontrak kerja sama dengan pembangkit listrik, PLN, dan dengan pengembang properti,” ujarnya.

Berdasarkan catatan Bisnis, beberapa emiten kabel di BEI mencatatkan penjualan ke PLN. PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk. (SCCO)., misalnya, dalam laporan ke­­uangan semester I/2021 menyebutkan perseroan mela­kukan penjualan sebesar Rp241,8 miliar ke PLN.

Angka penjualan ke PLN ini tercatat turun 39% dibandingkan dengan Juni 2020 yang sebesar Rp396,6 miliar. Berdasarkan laporan keuangannya, hingga 30 Juni 2021, SCCO mendapatkan kontrak senilai Rp12,72 miliar dari PLN. Kontrak ini jauh berkurang dibandingkan dengan Juni 2020, yaitu sejumlah Rp756,3 miliar.

Sama seperti SCCO, penjualan PT Voksel Electric Tbk. (VOKS) ke PLN tercatat turun 33,2% menjadi Rp119,86 miliar pada paruh pertama 2021, dari Rp179,5 miliar diban­dingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

VOKS menyampaikan akan terus men­ja­­lankan komitmen untuk mendukung Pro­­­yek Strategis Nasional bidang Energi, seba­gai bagian dari Mega Proyek 35.000 MW PLN.

Berbeda dengan dua emiten tersebut, PT KMI Wire and Cable Tbk. (KBLI) dan PT Kabelindo Murni Tbk. (KBLM) dalam laporan keuangan semester I/2021 mencatatkan tidak lagi mendapatkan penjualan dari PLN.

Adapun, pada paruh pertama 2020, KBLI mencatatkan penjualan sebesar Rp143,4 miliar dari PLN, sedangkan KBLM mendapatkan penjualan sebesar Rp54,7 miliar dari PLN.

Strategi Bertahan

Sementara itu, manajemen KBLI menya­­takan perseroan masih optimistis mampu mem­­balikkan kerugian menjadi laba pada 2021 ini. Mengutip hasil paparan publik KBLI, perseroan menargetkan penjualan per­usa­haan pada 2021 mampu meningkat 59% dari Rp1,96 triliun pada 2020, menjadi Rp3,13 triliun.

“Peningkatan penjualan tersebut terutama disum­bang oleh penjualan ke sektor non-swasta yang di-budget-kan akan meningkat 126%,” kata manajemen KBLI, dikutip Minggu (19/9).

Ketika dikonfirmasi terkait dengan belum adanya penjualan dari pihak nonswasta seperti PLN, Sekretaris Perusahaan KBLI Made Yudana belum merespons pertanyaan Bisnis mengenai kontrak baru perseroan hingga berita ini diturunkan.

Sejalan dengan target penjualan yang meningkat, perseroan juga menaikkan target laba bersih 276%. Adapun, pada tahun lalu, perseroan mencatatkan rugi Rp74 miliar. KBLI optimistis mampu meraup laba bersih Rp130 miliar pada akhir tahun ini.

Peningkatan laba bersih ini selain dise­­bab­­kan oleh meningkatnya laba kotor, juga dise­babkan oleh turunnya rugi kurs. Pada 2020, KBLI mengalami rugi kurs mata uang asing sebesar Rp6 miliar, sedangkan selisih kurs rugi tahun ini dianggarkan Rp1 miliar.

 

 

KBLI juga menyampaikan telah memiliki beberapa rencana usaha hingga akhir tahun. Perseroan menyebut akan melakukan inovasi dan penelitian untuk pengembangan produk dan pasar baru.

Lalu, perseroan akan terus aktif dalam pengembangan produk ACCC dalam rangka mempertahankan eksistensi dan dominasi di sektor ini. “Perusahaan juga berencana melakukan in­vestasi dan modernisasi mesin-mesin agar lebih efisien, sehingga menjadi le­­bih kompetitif,” tulis manajemen KBLI.

Se­­­­lain itu, KBLI juga akan terus mencari pa­­sar dan negara baru untuk tujuan ekspor, serta bermitra dengan pabrikan aksesoris ka­­bel untuk menjadi one stop electrical su­pply. Hingga semester I/2021 ini, KBLI mem­­bukukan pendapatan senilai Rp715,19 miliar, turun 20,75% secara tahunan (year on year/YoY) dari sebelumnya Rp902,46 miliar.

Selama paruh pertama 2021, perseroan tercatat mampu menurunkan beban pokok pendapatan 27,98% menjadi Rp651,3 miliar. KBLI juga mampu membalikkan rugi kotor Rp1,92 miliar, menjadi laba kotor senilai Rp63,8 miliar di semester I/2021. Dengan kinerja ini, laba bersih perseroan tercatat mencapai Rp24,5 miliar berbalik dari kondisi rugi bersih Rp89,7 miliar.

Emiten sektor kabel lainnya juga terus mengatur siasat agar kinerja tidak tertekan oleh kenaikan harga logam industri. Corporate Secretary Voksel Electric Sachje Ama­lia Siddharta menuturkan, di tengah kon­disi yang penuh tantangan ini, pihaknya akan me­­lakukan strategi bertahan.

“Wujud strategi ini, perseroan lakukan melalui terus meningkatkan efisiensi, efektivitas dan produktivitas di internal perseroan,” ujar Sachje.

VOKS akan mengoptimalkan hedging terhadap harga bahan baku yang terus meningkat serta melakukan follow up terhadap proyek-proyek dengan beberapa mitra bisnis yang berpotensi diwujudkan pada semester II/2021. Sachje memproyeksikan pendapatan akhir tahun VOKS akan naik sekitar 17% (YoY) dengan memperhitungkan asumsi pandemi Covid-19 bisa terkendali.

Sachje optimistis kinerja perseroan akan membaik dengan perkiraan didorong oleh beberapa proyek. “Dengan realisasi proyek-proyek ini, perseroan memproyeksikan pendapatan akhir tahun akan meningkat kurang lebih 17% dibanding pencapaian tahun 2020. Dengan asumsi, pandemi Covid-19 tetap terkendali seperti saat ini.”

Jika dilihat dari segmen market perseroan hingga semester I/2021, lanjutnya, sektor swasta menjadi kontributor pendapatan utama perseroan disusul oleh PLN dan perusahaan BUMN lainnya. Adapun, hingga semester I/2021, VOKS mencatatkan penurunan pendapatan 16,18% (YoY) menjadi Rp816,5 miliar dari sebelumnya Rp974,1 miliar.

Beban pokok pendapatan VOKS juga turun 2,74% jadi Rp766,9 miliar. Hal ini membuat VOKS masih mencatatkan rugi bersih pada paruh pertama 2021 sebesar Rp72,1 miliar, dari laba bersih Rp21,9 miliar secara tahunan. (Annisa Saumi)

Editor: Febrina Ratna Iskana

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar