Kinerja Industri Semen Terusik Gangguan Pasok Batu Bara

Pasokan batu bara pabrikan semen pada awal Desember 2021 rata-rata hanya bertahan 5—10 hari, padahal dalam kondisi normal bisa mencapai 21—30 hari.

Reni Lestari

21 Des 2021 - 08.05
A-
A+
Kinerja Industri Semen Terusik Gangguan Pasok Batu Bara

Aktivitas pekerja Semen Indonesia di Packing Plant Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Selasa (11/12/2018)./Bisnis-Peni Widarti

Bisnis, JAKARTA — Pelaku industri mulai melaporkan pelemahan kinerja ekspor semen pada pengujung tahun akibat gangguan pasok batu bara. 

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mencatat volume ekspor semen dan klinker mencapai 505.000 ton pada November 2021 turun, 25 persen dari periode yang sama 2020.

Adapun, akumulasi konsumsi semen dalam negeri dari Januari sampai dengan November 2021 mencapai 59,43 juta ton, naik 4,7 persen dari tahun lalu. Volume ekspor sampai dengan November 2021 tercatat 10,95 juta ton, telah melebihi capaian sepanjang tahun lalu sebesar 9,35 juta ton.  

Ketua Umum ASI Widodo Santoso menerangkan pasokan batu bara pabrikan semen pada awal Desember 2021 rata-rata hanya bertahan 5—10 hari, padahal dalam kondisi normal bisa mencapai 21—30 hari.

Akibatnya, sejumlah perusahaan menyetop produksi untuk ekspor guna memprioritaskan permintaan dalam negeri. 

Pabrik yang menyetop sebagian unit produksinya a.l. PT Semen Indonesia (Persero) Tbk., PT Semen Tonasa, PT Semen Padang, dan PT Semen Bosowa Maros. Penyetopan aktivitas di unit-unit produksi tersebut disinyalir akan menurunkan kinerja utilisasi industri pada akhir tahun ini.

"Demikian juga pabrik semen yang lain karena tidak bisa ekspor dan konsumsi dalam negeri turun," kata Widodo kepada Bisnis, Senin (20/12/2021).

Widodo mengatakan asosiasi mengapresiasi kebijakan pemerintah untuk menetapkan harga batu bara khusus US$90 per metrik ton. 

Meski demikian, harga tersebut masih relatif lebih tinggi dibandingkan angka pada awal 2021 dengan kenaikan sekitar 50 persen. Selain itu, suplai batu bara juga masih relatif tersendat.

"Kementerian ESDM dan Perindustrian diharapkan mengambil kebijaksanaan masalah suplai dan harga terhadap industri nasional untuk menjaga stabilitas keberlangsungan kinerja industri," lanjutnya.

/SMBR

Di sisi lain, konsumsi domestik juga mengalami penurunan 2,1 persen pada November menjadi 5,94 juta ton. 

Total konsumsi dalam negeri dan ekspor pada November yakni 6,44 juta ton, turun 4,4 persen dari bulan yang sama 2020. Penurunan konsumsi dalam negeri disinyalir karena musibah banjir, tanah longsor, dan gempa di berbagai wilayah di Indonesia belakangan ini.

Widodo mengatakan penurunan terjadi hampir di semua daerah di Pulau Jawa, Sumatra, Sulawesi, serta Indonesia bagian timur.

"Kenaikan konsumsi hanya di dua aera, yakni Nusa Tenggara dan Kalimantan," ujarnya. 

Perincian penurunan konsumsi di masing-masing kawasan, antara lain Sumatera 1,35 juta ton (-3,5 persen), Jawa 3,02 juta ton (-3,6 persen), Sulawesi 0,58 juta ton (-0,6 persen), Maluku dan Papua 0,19 juta ton (-7 persen).

Adapun, wilayah yang mengalami kenaikan yakni Kalimantan 0,42 juta ton (4,8 persen) dan Bali dan Nusa Tenggara 0,34 juta ton (10,5 persen).

Namun demikian, total konsumsi semen Januari—November 2021 mengalami pertumbuhan 4,7 persen menjadi 59,43 juta ton.

Widodo berharap kondisi banjir dan tanah longsor dapat berkurang pada penghujung tahun ini hingga awal tahun depan sehingga pembangunan properti, infrastruktur, dan proyek strategis lainnya dapat kembali meningkat.

Selain itu, ekspor semen dan klinker juga mengalami penurunan drastis 25 persen menjadi 505.000 ton pada November 2021. Kondisi ini masih bertahan dari bulan sebelumnya dimana pasokan batu bara yang tersendat menghambat produksi untuk orientasi ekspor.

Mempertimbangkan realisasi sampai dengan November 2021, Widodo memproyeksikan konsumsi semen dalam negeri akan tumbuh 4 persen hingga 5 persen sepanjang tahun ini.

Lain sisi, Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Kementerian Perindustrian Ignatius Warsito sebelumnya menargetkan produksi semen sepanjang 2021 akan mencapai 70 juta ton. 

Target tersebut lebih tinggi 12,5 persen dari capaian 2020 sebesar 62,2 juta ton dan merupakan angka produksi pada 2019.

Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral telah menetapkan harga batu bara khusus US$90 per metrik ton untuk industri semen dan pupuk. Kebijakan itu diharapkan dapat meningkatkan utilisasi dan daya saing industri.

"Harapan Kementerian Perindustrian dengan penetapan harga tersebut dapat memberikan kepastian bagi industri agar dapat bertahan dan tidak sampai berhenti produksi atau tutup," kata Warsito.


STRATEGI KORPORASI

Dari sisi korporasi, PT Semen Baturaja Tbk. (SMBR) menargetkan penjualan semen di atas 2 juta ton sepanjang tahun ini. Target tersebut tumbuh dari kinerja tahun lalu 1,93 juta ton yang mengalami penurunan 8,53 persen dibandingkan dengan 2019.

Sekretaris Perusahaan Semen Baturaja Doddy Irawan mengatakan sampai dengan kuartal III/2021, realisasi penjualan perseroan mencapai 1,34 juta ton, naik 4,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 1,28 juta ton.

"Kami akan maksimalkan pengeluaran semen hingga akhir tahun ini," kata Doddy.

Dia juga mengatakan bencana banjir, tanah longsor, dan gempa di sejumlah daerah di Indonesia di akhir tahun ini tidak begitu berdampak pada kinerja penjualan dan distribusi semen SMBR.

Meski tak menyebut angka proyeksi pertumbuhan pada tahun depan, Doddy mengatakan target Semen Baturaja akan mengimbangi kenaikan permintaan.

Sementara itu, meski tidak memiliki lini ekspor dan fokus pada permintaan domestik, Semen Baturaja juga mengalami ketersendatan pasokan batu bara.

Dia pun mengatakan tekanan harga batu bara yang tinggi belum bergeser meski pemerintah telah menetapkan harga khusus untuk industri semen dan pupuk sebesar US$90 per metrik ton.

"Saat ini kami tertekan dengan kenaikan harga batubara. Sehingga dari vendor [batu bara] cenderung untuk melayani ekspor," kata Doddy.

Harga batu bara khusus untuk industri semen dan pupuk diharapkan dapat mengurangi tekanan ke depan. Namun, pengaruhnya untuk kinerja tahun ini diperkirakan hanya pada dua hingga satu bulan terakhir saja.

Sementara itu, Produsen semen bermerek Tiga Roda, PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk. (INTP) mencatatkan penjualan lebih dari 15 juta ton sampai dengan November 2021.
 
Direktur dan Corporate Secretary Indocement Tunggal Prakarsa Oey Marcos mengatakan capaian tersebut naik 3 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2020. Adapun, penjualan pada bulan lalu saja mencapai 1,6 juta ton atau kurang lebih sama dengan capaian Oktober 2021.

"Sejauh ini penjualan kami belum terdampak oleh faktor cuaca dan banjir, penjualan masih relatif baik," kata Oey.

Sepanjang tahun ini, perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan 4—5 persen dari capaian 16,5 juta ton pada 2020. 

Adapun, mengutip laporan keuangan perusahaan pada kuartal III/2021, penjualan semen dan klinker domestik tumbuh 4,9 persen menjadi 12,7 juta ton. Sementara itu, volume penjualan ekspor melonjak 288 persen menjadi 333 ribu ton.

"Untuk proyeksi tahun depan kami masih dalam tahapan finalisasi," tuturnya.

Editor: Wike Dita Herlinda

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.