Kinerja UNVR Terus Melemah, Penguatan Saham Dalam Tanda Tanya

Emiten konsumer PT Unilever Indonesia Tbk. mencatatkan penurunan penjualan dan laba pada periode 9 bulan pertama 2021.

Annisa Kurniasari Saumi & Dwi Nicken Tari
Oct 27, 2021 - 1:43 PM
A-
A+
Kinerja UNVR Terus Melemah, Penguatan Saham Dalam Tanda Tanya

Logo Unilever Indonesia dalam kampanye Indonesia World Farmer Scene/Unilever.co.id

Bisnis, JAKARTA — Emiten konsumer PT Unilever Indonesia Tbk. masih melanjutkan tren pelemahan kinerja hingga periode 9 bulan tahun ini. Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan terkait kelayakan emiten ini untuk dikoleksi investor, menimbang akhir-akhir ini sahamnya sempat menguat.

Berdasarkan laporan keuangan per 30 September 2021, emiten dengan kode saham UNVR ini membukukan pendapatan senilai Rp30,03 triliun atau turun 7,47% dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp32,46 triliun (year-on-year/ YoY).

Dilihat dari kontributornya, penjualan makanan dan minuman mengalami kenaikan 6,20% YoY menjadi Rp9,48 triliun dari sebelumnya Rp8,93 triliun. Namun, penjualan kebutuhan rumah tangga dan perawatan tubuh masih terkontraksi 12,94% menjadi Rp19,23 triliun dari sebelumnya Rp22,09 triliun.

Selanjutnya laba UNVR tercatat senilai Rp4,37 triliun pada akhir September 2021 atau turun 19,48% jika dibandingkan Rp5,43 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Presiden Direktur Unilever Indonesia Ira Noviarti menyampaikan periode kuartal III/2021 masih menantang sebab gelombang II kasus Covid-19 mengakibatkan penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di berbagai wilayah di Indonesia.

Selain tantangan dari sisi pandemi, Ira juga menyampaikan kenaikan harga komoditas yang terus berlanjut turut memengaruhi biaya produksi perseroan.

“Berbagai tantangan tersebut memengaruhi konsumen dalam pemilihan pola konsumsi di berbagai kategori, dan memengaruhi tingkat pertumbuhan perseroan,” tulis Ira dalam siaran pers, Kamis (21/10).

Adapun, kenaikan biaya produk yang disebabkan kenaikan harga komoditas disebut Ira tak dapat langsung dibarengi dengan kenaikan harga jual produk Unilever karena mempertimbangkan daya beli masyarakat yang masih rendah selama pandemi.

Namun demikian, UNVR telah menyiapkan strategi untuk 2022 yang dapat menjawab tantangan tersebut. Ira mengatakan strategi itu merupakan turunan dari strategi jangka panjang 2025 yang terdiri dari lima strategi.

Pertama, memperkuat dan membuka potensi penuh dari brand-brand besar dan produk utama melalui inovasi yang terdepan dan menstimulasi konsumsi konsumen.

Kedua, memperluas dan memperkaya portofolio ke value dan premium segmen. Ketiga, memperkuat kepemimpinan di channel utama (GT dan Modern Trade) dan channel masa depan (e-commerce).

Keempat, memimpin di digital & data driven capabilities. Terakhir, tetap menjadi yang terdepan dalam penerapan bisnis yang berkelanjutan.

Ira mengatakan bahwa jika mempertimbangkan kondisi yang terjadi pada kuartal III/2021 lalu, situasi masih akan menantang karena membutuhkan waktu transisi yang tidak sebentar sebelum konsumen dapat kembali ke purchasing behaviour seperti sebelum pandemi.

"Meski demikian, kami optimistis dengan strategi kami. Perseroan sudah di jalur yang tepat untuk kembali menuju pertumbuhan yang konsisten dan berkelanjutan. Kami berharap bahwa situasi akan terus membaik, perekonomian Indonesia akan kembali bangkit, demikian pula halnya dengan perseroan,” tutur Ira.

JUAL ATAU TAHAN?

Penurunan penjualan dan laba Unilever ini berada di bawah ekspektasi para analis pasar modal. Analis Mirae Asset Sekuritas Mimi Halimin dalam risetnya mengatakan, pencapaian laba bersih Unilever di 9 bulan pertama 2021 berada di bawah estimasi laba bersih tahun penuh 2021 Mirae Sekuritas dan konsensus.

"Divisi Home and Personal Care (HPC) masih menghadapi masa sulit selama kuartal ini, dengan penjualan yang turun 14,6% yoy," kata Mimi dalam risetnya, dikutip Rabu (27/10).

Berdasarkan catatan Mirae Sekuritas, divisi HPC memberikan kontribusi 66,8% terhadap pendapatan UNVR selama sembilan bulan pertama 2021.

Sementara itu, divisi Food and Refreshment (F&R) perseroan lebih tangguh dengan penjualan di kuartal III/2021 yang meningkat 9,8% YoY. Mirae Sekuritas meyakini, peningkatan penjualan divisi F&R perseroan ini terdorong karena adanya low-base effect pada kuartal III/2020.

Meskipun kinerja divisi F&R lebih baik selama kuartal III/2021, Mirae Sekuritas melihat kinerja HPC masih menantang.

"Pelonggaran PPKM akan memberikan sentimen positif pada pemulihan UNVR. Namun, pemulihan tersebut akan datang secara bertahap," tutur Mimi.

Mirae Sekuritas merekomendasikan untuk jual saham UNVR, dengan target price (TP) pada Rp4.300.

Sementara itu, Analis BRI Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengatakan penjualan ekspor dan pasar domestik perseroan mengalami penurunan sebesar 8,5% YoY dan 7,4% YoY. Penjualan pasar domestik berkontribusi 96% terhadap total pendapatan perseroan hingga September 2021.

"Tekanan pada penjualan dan margin membuat pendapatan UNVR hingga September lebih rendah," ujar Natalia dalam risetnya.

Berdasarkan catatan BRI Danareksa Sekuritas, Unilever melaporkan margin kotor yang lebih rendah di kuartal III/2021 menjadi 49,2%, serta 50,3% untuk periode 9 bulan, menyusul naiknya biaya bahan baku seperti CPO dan minyak mentah.

Berbeda dengan Mirae Asset Sekuritas, BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan untuk hold saham UNVR, dengan target price Rp4.500.

Dalam pandangan BRI Danareksa Sekuritas, produk HPC UNVR yang ditawarkan pada harga premium dibanding pesaingnya, mencegah perusahaan menunjukkan pemulihan yang kuat di kuartal III/2021.

"Di sisi lain, pemulihan pendapatan F&R dengan margin yang lebih tinggi, mengurangi kontraksi margin," ujarnya.

Adapun pada penutupan perdagangan Rabu (27/10), saham UNVR terkoreksi 100 poin atau 2,16% ke level Rp4.540 per saham. Saham UNVR tercatat telah terkoreksi 38,23% sejak awal tahun.

UNVR memiliki kapitalisasi pasar senilai Rp173,2 triliun, dengan price to earning ratio (PER) 29,67 kali.

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar