Kongsi Lippo-GoTo di Bisnis O2O

Grup Lippo dan GoTo telah berkongsi untuk menggeser dominasi bisnis online to offline (O2O) PT Bukalapak.com Tbk.

Pandu Gumilar
Sep 14, 2021 - 8:07 AM
A-
A+
Kongsi Lippo-GoTo di Bisnis O2O

Logo GoTo, perusahan hasil merger Gojek dan Tokopedia / Twitter

Bisnis, JAKARTA — Potensi bisnis yang masih besar di lini online to offline (O2O) mendorong Grup Lippo dan GoTo untuk mengkongsi demi mengoptimalkan kemampuan keduanya dalam menggarap bisnis ini, sekaligus menyaingi dominasi PT Bukalapak.com Tbk. di segmen ini.

Berdasarkan riset Nielsen ke 3.000 warung dan toko pulsa di 14 kota di Indonesia pada Juni 2021, baru 14,8% yang terjun ke dalam skema bisnis O2O. Adapun, sisanya masih belum menggunakan platform tersebut.

Dari pasar yang kecil itu, Bukalapak mendominasi sebesar 42% melalui unit mitra. Saat ini emiten berkode saham BUKA itu memiliki 8,5 juta mitra di bawah sayapnya. Sebagai informasi, perseroan telah terjun ke bisnis O2O sejak 2017 dengan semula 2.870 warung dan terus tumbuh secara eksponensial.

Semerbak wangi ceruk yang luas, belum terjamah, dan potensial itu menarik pemain lain untuk turut serta. Teranyar, calon emiten GoTo berkongsi dengan Grup Lippo untuk memperkuat segmen tersebut. Sebagaimana diketahui, perusahaan teknologi itu mempunyai kekuatan dalam hal aplikasi dan basis pengguna. Sementara itu, Grup Lippo mempunyai kekuatan jaringan logistik serta persebaran toko.

Penerus ketiga Grup Lippo, John Riady mengatakan kedua pihak membutuhkan omni channel. Artinya, model bisnis lintas channel yang mengutamakan pengalaman pelanggan mereka. Pelanggan dapat berbelanja dengan menggunakan berbagai channel sekaligus, baik online maupun offline.

“Ini yang merupakan latar belakang kerja sama PT Matahari Putra Prima Tbk. [MPPA]. Kami belum sepenuhnya mengumumkan kerja sama dan semoga saja segera,” katanya dalam webinar bersama Indonesia Investment Education (IIE), pekan lalu.

Menurutnya, Grup Lippo senantiasa memanfaatkan digitalisasi untuk membuka potensi-potensi baru dalam perusahaan tradisional begitu juga sebaliknya. Sebagai gambaran, Alibaba membeli department store terbesar di China, yaitu InTime. Pasalnya meski digitalisasi telah matang, porsi modern ritel masih mendominasi sebesar 50%. Adapun, e-commerce menguasai 30% dan pasar tradisional 20%.

John mengatakan, di Indonesia saat ini 60% dikuasai oleh pasar tradisional, 30% mal, dan 10% e-commerce. Dalam 5 hingga 10 tahun ke depan, lanjutnya, e-commerce baru bisa menguasai 30%. Oleh sebab itu, kerja sama antara pemain offline dan online diperlukan sebab hal terpenting ialah tidak membatasi pilihan konsumen.

Meskipun demikian, John enggan membeberkan kerja sama konkret yang akan digarap oleh keduanya. Secara tersirat, pria 35 tahun itu menyebutkan Lippo akan menjadi penyuplai kebutuhan sehari-hari.

Putra mahkota Grup Lippo itu menyebutkan penjualan segmen barang segar kecil sekali, sedangkan itu adalah kebutuhan yang penting bagi keseharian. Berbeda dengan segmen fashion atau perangkat elektronik yang mapan.

Lippo akan menggunakan jaringan toko sebagai warehouse untuk penyediaan barang. John juga menceritakan konsep dark store yang menjadi pusat bagi pembelian daring, di mana toko akan lebih kecil dengan sewa rental yang murah, tetapi menyediakan produk segar dan keseharian.

Sementara itu, tim riset Indo Premier Sekuritas menyebutkan bila MPPA telah mendominasi bisnis O2O bagi segmen supermarket dan sejenisnya sebesar 27,1%. Menurut mereka, unit usaha Grup Lippo itu akan memperkuat bisnis dengan membuka lebih banyak Hyfresh. Hyfresh merupakan toko yang lebih kecil dengan fokus pada penjualan barang segar.

Tim riset meyakini toko berukuran lebih kecil juga akan memungkinkan MPPA menjadi lebih efisien dari segi biaya.

Di sisi lain, CEO Mitra Bukalapak Howard Gani mengatakan perseroan telah menjadi pemimpin pasar bagi bisnis O2O. BUKA, lanjutnya, telah melakukan penetrasi ke 14 kota di Indonesia.

Menurutnya, perseroan telah memimpin 42% pangsa pasar dalam bisnis O2O. Meski demikian, Howard menilai bisnis tersebut masih memiliki ceruk yang luas. Pasalnya, bisnis O2O baru terjamah 15% saja.

“Penetrasi [secara nasional] baru 15% sehingga banyak pangsa pasar dan kesempatan yang bisa dimanfaatkan,” katanya.

Perseroan, lanjutnya, melebarkan sayap ke luar Jawa sejak tahun lalu. Perseroan memasang strategi dan pendekatan yang berbeda bagi tiap daerah. Namun, tantangan utama yang dihadapi BUKA adalah edukasi dan pengenalan produk. Howard menambahkan, meski menantang, perseroan akan terus merambah daerah lain dan memperdalam ceruk pasar.

Gani mengatakan, sampai dengan semester I/2021, total warung di bawah sayap perseroan mencapai 8,7 juta. Jumlah itu meningkat drastis bila dibandingkan dengan pencapaian akhir 2020 sebanyak 7 juta.

Ketika ditanya tentang target mitra 10 juta hingga akhir tahun, Howard menjawab dengan penuh isyarat bahwa jumlah akan terlampaui. “Semoga bisa tembus karena kami sedang ke arah sana. Kami yakin angka tersebut bisa tercapai,” katanya.

Menurutnya, para kompetitor lain baru masuk ke bisnis O2O. Dia optimistis BUKA akan menjadi market leader karena telah terjun sejak 2017.

“Strategi kami tidak selalu sama karena kami sesuaikan dengan kondisi lapangan. Kami juga tidak akan investasi yang besar bagi setiap daerah karena kami lihat sifat daerah tersebut,” katanya.

Sementara itu, tim riset Sucor Sekuritas menargetkan beli bagi BUKA dengan target harga Rp1.435. BUKA saat ini juga sedang menjalin kerja sama dan sinergi dengan beberapa mitra, mulai dari Grab dengan Grabmart, makanan segar, hingga Standard Chartered di sektor perbankan digital.

Editor: Emanuel Berkah Caesario

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar