Konsumsi Minyak Dalam Negeri Makin Tinggi, Ekspor Malah Turun

Konsumsi minyak sawit mentah (crude palm oil) dalam negeri terus mengalami peningkatan dalam lima tahun terakhir. Kendati demikian, ekspor komoditas tersebut berangsur turun. Kenapa fenomena ini terjadi?

Rayful Mudassir

2 Feb 2023 - 13.22
A-
A+
Konsumsi Minyak Dalam Negeri Makin Tinggi, Ekspor Malah Turun

Pekerja menata kelapa sawit saat panen di kawasan Kemang, Kabupaten Bogor, Minggu (30/8/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis, JAKARTA - Ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terus mengalami penurunan dalam tiga tahun terakhir. Sebaliknya, konsumsi minyak nabati tersebut kian meninggi. 

Laporan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) merekam penurunan volume ekspor CPO dan turunannya terus berlangsung sejak 2018. Sepanjang 2019 - 2022, ekspor komoditas tersebut anjlok 6,63 juta ton. 

BACA JUGA: Penerapan B35 Bayangi Penurunan Ekspor CPO 2023

Pengiriman minyak sawit ke pasar internasional berangsur turun dari 37,43 juta ton pada 2019 menjadi 34 juta ton pada 2018. Jumlah tersebut makin merosot hingga 33,67 juta ton pada 2021 dan kian melonggar sepanjang 2022 menjadi 30,8 juta ton. 

Peningkatan volume ekspor hanya terjadi pada 2019. Pada tahun ini, ekspor CPO dan turunannya naik 1,1 juta ton dibandingkan dengan realisasi 2018 di kisaran 36,33 juta ton. 

Di sisi lain, konsumsi CPO di tingkat lokal secara konstan terus bertumbuh setidaknya dalam lima tahun terakhir. (lihat grafik).


Pada 2018 misalnya, 13,49 juta ton minyak sawit terserap untuk pasar domestik. Kemudian naik menjadi 16,74 juta ton pada 2019. Dilanjutkan pada 2020 di kisaran 17,34 juta ton, serta terserap 18,42 juta ton pada 2021. Konsumsi CPO di dalam negeri kian tinggi hingga 20,96 juta ton pada 2022. 

Peningkatan serapan minyak sawit di tingkat domestik berimbas pada penurunan ekspor secara keseluruhan. Sebab, produksi tahunan minyak sawit mentah cenderung stagnan pada kisaran 51 juta ton per tahun. 

Tingginya serapan domestik merupakan efek dari membesarnya kebutuhan industri untuk memproduksi biodiesel. Pada tahun ini misalnya, pemerintah meningkatkan campuran biodiesel pada minyak solar hingga 35 persen. 

BACA JUGA: Fakta Kebijakan Pemakaian Biodiesel B35 dan Asa Industri Sawit

Kebijakan tersebut meningkatkan serapan CPO untuk program mandatori B35. Sepanjang 2023, pemerintah memproyeksikan produksi B35 dapat mencapai 13,15 juta kiloliter, meningkat sekitar 19 persen bila dibandingkan dengan realisasi tahun lalu.

Selain untuk memperbesar jumlah bahan bakar nabati, program yang telah berjalan sejak 2015 ini ditujukan sebagai stabilisator harga minyak sawit untuk pasar ekspor, lantaran suplai untuk internasional tetap terjaga.

Sedangkan serapan untuk kebutuhan pangan seperti minyak goreng terus berada di rentang 8 - 9 juta ton per tahun. Berbeda dengan kebutuhan biodiesel yang makin menanjak dari 3,82 juta ton pada 2018 menjadi 8,84 juta ton pada 2022.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rayful Mudassir

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.