Kripto Masih Tertekan, Investasi Jangka Panjang Masih Menarik

Dalam beberapa pekan ini, modal keluar dari aset digital seperti kripto cukup tinggi. Kendati demikian, di tengah pelemahan, momentum berinvestasi di aset ini menjadi patut dipertimbangkan.

Tim Redaksi

30 Apr 2024 - 14.57
A-
A+
Kripto Masih Tertekan, Investasi Jangka Panjang Masih Menarik

Ilustrasi aset kripto./Istimewa

Bisnis, JAKARTA - Sejumlah tekanan terhadap investasi aset kripto membuat modal keluar cukup deras dari aset tersebut dalam beberapa pekan terakhir. Namun, secara prospek, aset kripto dalam jangka panjang masih menarik diperhatikan.

Minat terhadap aset digital terus berkurang, dengan produk investasi kripto mengalami arus keluar selama tiga minggu berturut-turut.

Mengutip Bloomberg, Selasa (30/4/2024), investor menarik US$435 juta dari produk digital dalam pekan yang berakhir 26 April, menurut laporan Senin dari CoinShares Ltd. Grayscale Bitcoin Trust menyumbang sebagian besar dari itu dengan arus keluar $440 juta, meskipun itu adalah level terendah untuk dana kripto terbesar dalam sembilan tahun.

Arus keluar terbesar terjadi di AS, yaitu sebesar US$388 juta selama seminggu. Secara keseluruhan, pada tahun ini, investasi di aset digital masih mencatatkan arus masuk mencapai rekor positif sebesar $13,6 miliar.

Volume perdagangan di ETP turun menjadi $11,8 miliar dari $18 miliar pada minggu sebelumnya, sementara harga Bitcoin turun 6%, menurut laporan tersebut. Pada 13:57. di New York, Bitcoin turun sekitar 1% menjadi $63,060.

Arus keluar sangat terfokus pada Bitcoin dan Ethereum, yang masing-masing menghasilkan $423 juta dan $38 juta. Sedangkan investasi altcoin dan multicoin menghasilkan arus masuk $7 juta. “Favorit reguler” lainnya seperti Solana, Litecoin, dan Chainlink melihat arus masuk masing-masing sebesar $4 juta, $3 juta, dan $2.8 juta.

Arus keluar dalam beberapa pekan terakhir setidaknya akibat tiga hal, pertama, eskalasi geopolitik di Timur Tengah yang meningkatkan ketidakpastian sehingga aset berisiko seperti kripto cenderung dihindari.

Kedua, aksi profit taking pasca halving Bitcoin, aset utama koin kripto itu sempat menyentuh harga tertinggi di atas US$70.000 per koin. Ketiga, tekanan ekonomi AS yang membuat The Fed mengulur rencana penurunan suku bunga, bahkan ada kecenderungan di tahan dan mungkin naik, seiring kinerja ekonomi AS yang masih belum stabil.

Sempat Rekor Domestik

Menurut data dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti), nilai transaksi perdagangan kripto mencapai Rp30 triliun pada bulan Februari 2024, menandakan peningkatan signifikan sebesar 39% (year-on-year/yoy) dibandingkan dengan periode sebelumnya yang mencapai Rp21,57 triliun pada Januari 2024

Jumlah investor kripto juga mengalami lonjakan menjadi 19 juta pada bulan yang sama, menunjukkan penambahan sebanyak 170.000 pengguna baru atau naik sebesar 0,9% sejak Januari 2024. 

Melihat pertumbuhan investor sebelumnya, terjadi peningkatan yang signifikan karena pada periode Desember 2023-Januari 2024 hanya terjadi penambahan sebanyak 32.000 orang.

Kepala Biro Pembinaan dan Pengembangan Perdagangan Berjangka Komoditi Bappebti, Tirta Karma Senjaya menghubungkan pertumbuhan ini dengan sentimen pasar positif yang dipicu oleh lonjakan harga Bitcoin dan reli altcoin. 

Dia optimistis tren positif ini masih akan berlanjut, dan menargetkan pertumbuhan transaksi kripto sepanjang 2024 akan meningkathingga mencapai Rp800 triliun.

"Peningkatan sentimen pasar yang positif, yang diakibatkan oleh pertumbuhan harga Bitcoin, memberikan dorongan yang kuat bagi pertumbuhan industri kripto secara keseluruhan. Hal ini mencerminkan keyakinan pada kemampuan pasar untuk terus berkembang di masa depan," ujar Tirta dalam keterangan resmi, dikutip Sabtu (23/3/2024).

Baca Juga :

Di sisi lain, aplikasi transaksi kripto, Pintu, optimistis bahwa aset kripto bisa ikut menjadi pilar adopsi transaksi digital masyarakat Indonesia melalui teknologi finansial (tekfin/fintech).

General Counsel PINTU Malikulkusno Dimas Utomo menjelaskan bahwa hal ini seiring masa depan positif fintech di Indonesia, di mana berdasarkan laporan dari East Ventures Digital Competitiveness Index (EV-DCI) 2023 menunjukkan peningkatan dalam transaksi digital sebesar 32% dibandingkan tahun 2019. Lonjakan ini diikuti dengan peningkatan literasi keuangan sebesar 17% dan inklusif keuangan 20%. 

“Aset kripto menjadi salah satu instrumen yang turut membantu meningkatkan kesadaran dan adopsi transaksi keuangan digital di Indonesia. Ke depan, PINTU akan terus mendukung kegiatan yang dilakukan oleh AFTECH sebagai bentuk komitmen bersama untuk memajukan sektor keuangan digital di Indonesia,” ujar Dimas. 

Bagi Dimas, ekosistem pada sektor fintech di Indonesia tercipta dengan sangat baik karena peran regulator yang sangat adaptif dan melahirkan regulasi yang dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan pengguna dan transaksi keuangan digital di Indonesia. 

Ekosistem yang kondusif ini menjadi faktor pendorong bagi pelaku industri untuk menciptakan sebuah kreativitas yang dapat memudahkan masyarakat Indonesia mendapatkan akses pada layanan keuangan digital seperti investasi aset kripto. 

Baca Juga :

Disebut Jadi Metode Pencucian Uang, Ini Potensi Mata Uang Kripto  

Memperkuat Ekosistem Aset Kripto


Mengenal Teknik Investasi Kripto

Dalam dunia investasi aset kripto, para investor memiliki dua pendekatan utama yang dapat dipilih sesuai dengan gaya dan tujuan investasi mereka, yaitu trading aktif dan investasi pasif. Kedua strategi ini menawarkan cara yang berbeda dalam mengelola portofolio aset kripto, dengan masing-masing memiliki kelebihan dan risiko tersendiri. Berikut perbedaan antara trading aktif dan investasi pasif menurut Pintu Academy.

Trading aktif di pasar kripto yaitu tentang memanfaatkan fluktuasi harga dalam jangka waktu yang pendek. Akibatnya strategi ini menuntut komitmen waktu dan perhatian yang signifikan dari trader, karena melibatkan analisis teknikal dan fundamental untuk mengidentifikasi peluang keuntungan. Beberapa metode populer dalam trading aktif meliputi:

- Trading Harian: Strategi ini fokus pada pembelian dan penjualan aset kripto dalam satu hari, dengan tujuan memanfaatkan volatilitas harian untuk meraih keuntungan.

- Swing Trading: Pendekatan ini mengambil keuntungan dari fluktuasi harga dalam beberapa minggu atau bulan, dengan berbasis pada analisis teknikal dan fundamental.

- Trend Trading: Strategi ini bertujuan mengikuti tren harga yang lebih besar, baik itu naik atau turun, dan memerlukan kesabaran serta analisis jangka panjang.

- Scalping: Metode ini bertujuan memperoleh keuntungan dari perbedaan harga kecil yang sering terjadi, dan umumnya dilakukan oleh trader berpengalaman.

Di sisi lain, investasi pasif lebih menekankan pada pemilihan aset untuk disimpan dalam jangka waktu yang panjang, tanpa terlalu banyak terpengaruh oleh volatilitas pasar jangka pendek. Strategi ini lebih santai dan tidak memerlukan pemantauan pasar yang konstan. Beberapa taktik investasi pasif antara lain:

- Buy and Hold: Strategi klasik dimana investor membeli dan menyimpan aset kripto untuk jangka waktu yang lama, dengan keyakinan bahwa nilai aset tersebut akan meningkat secara signifikan.

- Nabung Rutin (Dollar-Cost Averaging): Pendekatan ini melibatkan pembelian aset kripto secara berkala dengan jumlah uang yang sama, memungkinkan investor untuk mengurangi dampak volatilitas harga. Misalnya investor bisa memanfaatkan fitur Auto DCA yang dimiliki aplikasi PINTU. 

Pemilihan antara trading aktif dan investasi pasif bergantung pada beberapa faktor, termasuk tujuan investasi, toleransi risiko, dan ketersediaan waktu. Trading aktif menawarkan potensi keuntungan yang lebih tinggi dalam waktu singkat, tetapi dengan risiko yang lebih besar dan membutuhkan dedikasi serta pemahaman pasar yang mendalam. Sebaliknya, investasi pasif adalah pilihan bagi investor yang mencari pertumbuhan jangka panjang dan lebih sedikit risiko, meskipun mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk melihat hasil yang signifikan. Memahami kedua pendekatan ini dapat membantu investor membuat keputusan yang lebih baik dan disesuaikan dengan preferensi pribadi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Rinaldi Azka
Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.