Kronologi Hibah Alat Belajar SLB Kena Pajak Ratusan Juta

Selama hampir dua tahun keyboard braille hibah itu mandek di gudang tanpa proses lebih lanjut oleh importir karena terkait dengan pajak bea masuk yang dikenakan oleh Ditjen Bea Cukai.

Dwi Rachmawati

29 Apr 2024 - 17.44
A-
A+
Kronologi Hibah Alat Belajar SLB Kena Pajak Ratusan Juta

Fasilitas Perusahaan Jasa Titip (PJT) DHL Express./ BISNIS - Dwi Rachmawati

Bisnis, JAKARTA – Hibah alat belajar yang dikirim dari Korea Selatan untuk sekolah luar biasa (SLB) yang sempat tertahan sejak Desember 2022 akhirnya diserahkan oleh Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai.

Direktur Jenderal Bea dan Cukai Askolani memaparkan kronologi mengapa alat belajar berupa 20 unit keyboard braille untuk penyandang tuna netra tersebut bisa tertahan selama hampir dua tahun. 

Saat pertama kali keyboard tiba di Indonesia melalui fasilitas perusahaan jasa titip (PJT) DHL Express memiliki status sebagai barang kiriman pada umumnya.

Baca juga: Taktik Prabowo Atur Pajak Kurangi Insentif

Askolani mengaku pihaknya tidak pernah diinfokan bahwa keyboard braille asal Korea Selatan itu sebagai barang hibah untuk kebutuhan pendidikan di SLB kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan.

Alhasil, selama hampir dua tahun, keyboard braille hibah itu mandek di gudang DHL tanpa proses lebih lanjut oleh importir karena terkait dengan pajak bea masuk yang dikenakan oleh Ditjen Bea Cukai.

"Masuk ke kita [sistem] sebagai barang kiriman, sehingga kemudian kita kasih sesuai barang kiriman ada pentarifan yang juga ditetapkan. Kita hitung," ujar Askolani di DHL Express Service Point di kawasan Bandara Soekarno-Hatta, Senin (29/4/2024).

Kemudian, pada 2023, Askolani mengatakan bahwa komunikasi ihwal dokumentasi hanya terjadi antara importir dengan pihak DHL. Sementara Bea Cukai, baru mengetahui bahwa barang tersebut sebagai barang hibah dari kabar yang viral di media sosial pada April 2024.

 

 

"Dari situ kemudian kami cek dengan DHL dan SLB. Rupanya baru terbuka bahwa barang itu bukan barang kiriman, tapi barang hibah," jelasnya.

Setelah mengetahui status barang tersebut sebagai hibah, Bea Cukai kemudian melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan DKI Jakarta untuk memastikan adanya kegiatan mengajar braille di SLB tersebut. Adapun SLB yang dimaksud adalah SLB - A Pembina Tingkat Nasional Jakarta.

Askolani menjelaskan, barang hibah untuk kepentingan sosial dan pendidikan tidak dikenakan bea masuk maupun pajak. Bahkan, dia mengklaim pihaknya kerap menangani kiriman barang hibah dari berbagai yayasan untuk kebutuhan sosial.

Kasus tersebut, kata Askolani, hanya disebabkan persoalan komunikasi yang tidak berjalan dengan baik antar pihak, mulai dari Bea Cukai, DHL dan importir ihwal status hibah barang yang dikirim.

Baca juga: Bea Cukai Cerita Kronologi Hibah Alat Belajar SLB Kena Pajak Ratusan Juta

"Kami tetapkan bahwa ini seusai dengan ketentuan pemerintah dibebaskan bea masuk. Ini bukan hal pertama yang kami hadapi, cuma ini masalah tidak terkomunikasi dengan baik," jelasnya.

Sementara itu, Senior Technical Advisor DHL Express Indonesia, Ahmad Muhamad mengakui, pihaknya akan mempelajari lebih lanjut ihwal ketentuan barang kiriman yang berstatus hibah. Atas kejadian itu, diakui bakal menjadi pelajaran bagi korporasi untuk lebih baik menangani kiriman barang hibah.

"Itu adalah satu hal menarik bagi kami. Kalau masukan hibah itu ada pengecualian, itu satu hal yang akan kita dalami dengan Bea Cukai, Insyaallah akan lebih lancar ke depan kalau ada isu begitu," tutur Ahmad.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.