Free

KTT COP27 Sepakati Dana Loss and Damage, Apa Itu?

Dana loss and damage mengacu pada biaya yang dikeluarkan atas cuaca ekstrem atau dampak yang dipicu oleh iklim, seperti naiknya permukaan laut.

Jaffry Prabu Prakoso

21 Nov 2022 - 18.19
A-
A+
KTT COP27 Sepakati Dana Loss and Damage, Apa Itu?

Suasana lingkungan di sekitar pabrik Pupuk Kaltim di Bontang, Kalimantan Timur. /JIBI-Istimewa

JAKARTA – Negara-negara yang hadir dalam Konferensi Tingkat Tinggi Conference of The Parties 27 atau KTT COP27 di Sharm El-Sheikh, Mesir sepakat untuk menyiapkan dana loss and damage guna membantu negara-negara miskin yang dilanda bencana iklim.

Setelah negosiasi yang cukup alot, presidensi COP27 Mesir merilis draft teks untuk keseluruhan kesepakatan pada Minggu (20/11/2022) dan secara bersamaan mengadakan sesi pleno untuk menyetujuinya sebagai kesepakatan akhir dan menyeluruh untuk KTT PBB.

Namun, draft perjanjian tersebut masih perlu dirinci tahun depan dan seterusnya, termasuk siapa yang akan berkontribusi pada dana tersebut dan siapa yang akan mendapat manfaat.

Penampakan papan reklame yang menunjukkan perhelatan KTT COP27 2022 di Mesir./Bloomberg

Lantas, apakah yang dimaksud dengan dana loss and damage tersebut? Berikut penjelasannya seperti dilansir Aljazeera.

Pengertian dana loss and damage

Pada pembicaraan pertemuan iklim PBB, dana loss and damage mengacu pada biaya yang dikeluarkan atas cuaca ekstrem atau dampak yang dipicu oleh iklim, seperti naiknya permukaan laut.

Pendanaan iklim sejauh ini sebagian besar berfokus pada pengurangan emisi karbondioksida dalam upaya untuk mengekang pemanasan global, sedangkan sekitar sepertiganya digunakan untuk proyek-proyek untuk membantu masyarakat beradaptasi dengan dampak di masa depan.

Baca juga: Hasil KTT COP27 Tak Optimal untuk Danai Pengurangan Emisi

Pendanaan loss and damage atau kerugian dan kerusakan ini agak berbeda, khususnya mencakup biaya kerusakan yang tidak dapat dihindari atau diadaptasi oleh negara.

Akan tetapi belum ada kesepakatan mengenai apa yang harus dianggap sebagai kerugian dan kerusakan yang disebabkan oleh perubahan iklim juga dapat mencakup infrastruktur dan properti yang rusak, serta ekosistem alam atau aset budaya yang lebih sulit dinilai.

Laporan dari 55 negara rentan memperkirakan kerugian gabungan terkait iklim selama dua dekade terakhir mencapai US$525 miliar atau 20 persen dari produk domestik bruto (PDB) kolektif mereka.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pada tahun 2030, kerugian tersebut dapat mencapai US$580 miliar per tahun.

Negara donor

Negara-negara yang rentan berpendapat bahwa negara-negara kaya yang menyebabkan sebagian besar perubahan iklim dengan emisi gas rumah kaca harus membayar atas dana loss and damage.

Baca juga: Upaya Net Zero Emission di Indonesia Kian Bertenaga

Amerika Serikat dan Uni Eropa telah menolak argumen tersebut karena khawatir kewajiban pendanaan akan bertambah banyak. Namun, keduanya tetapi mengubah posisi mereka selama KTT COP27.

Uni Eropa berpendapat bahwa China juga harus membayarnya meskipun merupakan ekonomi terbesar kedua di dunia dan diklasifikasikan oleh PBB sebagai negara berkembang.

Beberapa negara telah membuat komitmen pendanaan yang relatif kecil tetapi simbolis untuk dana loss and damage, termasuk Denmark, Belgia, Jerman dan Skotlandia, serta Uni Eropa. China belum berkomitmen untuk pembayaran apa pun.

Ilustrasi emisi karbon dari pabrik (Canva) 

Beberapa lembaga dana PBB dan bank pembangunan yang ada memang membantu negara-negara yang menghadapi kerugian dan kerusakan, meskipun tidak secara resmi dialokasikan untuk tujuan itu.

Yang juga masih harus diselesaikan adalah rincian negara atau bencana mana yang memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi. (Aljazeera dan Aprianto Cahyo Nugroho)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Jaffry Prabu Prakoso

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.