Free

KTT G20, Menatap Kesatuan dan Persatuan Global di Masa Pemulihan

Pertemuan G20 di Bali pada 30 hingga 31 Oktober tahun ini melahirkan beberapa harapan akan terciptanya jalan keluar terbaik dari persoalan-persoalan yang hadir dalam lingkup kemanusiaan.

Lukman Hakim Azzubaidi

31 Mar 2022 - 23.30
A-
A+
KTT G20, Menatap Kesatuan dan Persatuan Global di Masa Pemulihan

Pertemuan G20 di Bali pada 30 hingga 31 Oktober tahun ini melahirkan beberapa harapan akan terciptanya jalan keluar terbaik dari persoalan-persoalan yang hadir dalam lingkup kemanusiaan. G20 yang merupakan himpunan negara-negara dengan ekonomi yang kuat, beranggendakan pembahasan-pembahasan ekonomi intersnasional dan beragam jenis persoalan yang meliputi hal tersebut. 

Seperti yang diketahui bahwa ekonomi adalah faktor yang sangat amat penting bagi kehidupan manusia, oleh sebab itu beragam jenis fenomena yang meliputi geliat perekonomian dunia merupakan sebuah hal yang menjadi bagian dari pembahasan dalam pertemuan kelompok yang telah berdiri sejak 1999 tersebut. Perekonomian dunia yang perlahan mulai pulih bersamaan dengan pandemi Covid-19 yang secara bertahap mulai teratasi, menjadi momentum untuk kembali memulai pembahasan mengenai ekonomi secara serius dan menjaga hubungan-hubungan antar negara yang mungkin sempat terputus karena virus. 

Oleh sebab itu Konfrensi Tingkat Tinggi G20 memunculkan beragam asa untuk menatap kemajuan khususnya bagi Indonesia sebagai negara berkembang, dan juga bersama membahas problematika dunia yang mungkin lebih rumit untuk diselesaikan, karena dari generasi ke generasi masih melekat dengan kemanusiaan.

Ekonomi global yang dibarengi dengan perkembangan teknologi modern sejatinya mengalami beragam dampak positif dalam beberapa aspek terkait, seperti kemudahan-kemudahan yang didapatkan dalam bentuk digitalisasi, dan kemudahan lain dalam berbagai sektor yang melingkupi roda perputaran perekonomian manusia. 

Namun di sisi lain pada kenyataanya masih ditemukan beragam jenis permasalahan yang menanti untuk diselesaikan, di sisi lain persoalanpersoalan baru yang hadir bersamaan dengan dampak-dampak negatif dari modernitas seolah menanti untuk lebih diperhatikan. Permasalahan lain hadir saat kemanusiaan dipertemukan dengan fakta bahwa masih terdapat negara-negara miskin di belahan lain dunia yang membutuhkan dukungan, khususnya dalam perekonomian yang menjadi salah satu bagian dari pondasi-pondasi dasar sebuah kehidupan dan kenegaraan.

Melalui diskusi dan pembahasan yang mendalam perihal pencarian akan jalan keluar dari masalah-masalah tersebut, G20 diharapkan dapat membentuk sebuah kesepakatan bersama mengenai opsi-opsi yang dapat dilakukan. Hal tersebut tentunya dapat diperoleh saat ide-ide para pemimpin negara yang menjadi anggota G20 berhasil berkolaborasi dengan baik, hingga pada akhirnya bersinergi secara nyata untuk mengubah dunia menjadi tempat yang jauh lebih baik, di mana perekonomian dapat berdiri dengan mapan, dan kemanusiaan dijauhkan dari beragam krisis serta persoalan.

Permasalahan lain yang sejatinya memiliki keterkaitan dengan erat dengan kemanusiaan dan geliat perekonomian adalah perubahan iklim yang semakin hari, semakin dapat dirasakan dan terlihat dengan nyata. Fenomena perubahan iklim sendiri baik disadari maupun tidak sangat erat kaitanya dengan aktivitas sehari-hari kehidupan manusia, yang mana pengelolaan terhadap beragam jenis sumber daya yang telah disediakan alam dilakukan dengan cara yang kurang

bijaksana. Tanpa disadari, beragam jenis aktivitas manusia yang mempengaruhi kondisi alam pada akhirnya akan berdampak pada kehidupan manusia itu sendiri, yang mana beragam jenis fenomena dan bencana alam menampakan pengaruhnya secara nyata dalam kehidupan manusia. 

Situasi tersebut tentu tidak dapat dibiarkan berlarut-larut, sebab dampak atau potensi yang dapat tercipta dari kondisi alam yang sulit ditebak dapat menyulitka jalannya kehidupan manusia, bahkan hingga merenggut korban jiwa. Oleh sebab itu perhatian lebih lanjut terhadap persoalan yang sejatinya telah dibahas selama bertahun-tahun tersebut sejatinya harus mendapat keseriusan lebih, khususnya oleh negara-negara yang menjadi bagian dari G20. 

Hal tersebut dikarenakan dampak yang dirasakan oleh perubahan iklim sangat amat sulit untuk diprediksi, dan saat dampak tersebut pada kenyataannya menimpa sebuah negara, baik negara kecil ataupun degara besar, pengaruh yang diberikan akan tetap sama, yaitu menyulitkan atau bahkan menghentikan perekonomian yang menjadi poros dari keberlangsungan hidup manusia.

Kerusakan sumber daya hayati dan bahari dikarenakan perubahan iklim juga menjadi sebuah problematika yang menuntut pembahasan dan keseriusan yang melahirkan nilai-nilai praksis dalam kenyataan, kerusakan alam sebagai wadah manusia untuk hidup tentunya merupakan permasalahan yang memprihatinkan, yang mana bumi sebagai satu-satunya rumah bagi manusia, harus mendapat perlakuan semena-mena dari manusia yang pada akhirnya memberi beragam kesulitan untuk manusia itu sendiri.

Bersamaan dengan berlangsungnya pertemuan G20 di Bali Oktober nanti, pemimpinpemimpin negara yang menjadi anggota dari Konfrensi Tingkat Tinggi tersebut diharapkan dapat membentuk sebuah kesepakatan, yang melahirkan kesadaran akan pentingnya kesatuan dan persatuan untuk menghadapi masalah-masalah kompleks yang sejatinya memiliki pengaruh sangat luas dalam kehidupan. Negara-negara maju dan berkembang diharapkan dapat bersatu menghadapi persoalan-persoalan yang tentunya tidak akan mudah diselesaikan, oleh sebab itu dibutuhkan sebuah sinergi antar bangsa yang sejenak melupakan perbedaan, untuk kemudian menatap satu tujuan yang terbaik bagi kemanusiaan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Tim Redaksi

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.