Lagi Ngegas, Stimulus PPN Baiknya Diperpanjang Hingga Akhir 2022

Praktisi dan pengamat bisnis properti menyatakan sebaiknya stimulus PPN ditanggung pemerintah diperpanjang hingga akhir tahun depan dari yang sekarang ditetapkan bakal usai akhir bulan depan.

Yanita Petriella & M. Syahran W. Lubis

17 Nov 2021 - 21.11
A-
A+
Lagi Ngegas, Stimulus PPN Baiknya Diperpanjang Hingga Akhir 2022

Ilustrasi perumahan tapak, yang menopang industri properti sepanjang pandemi Covid-19./Bisnis

Bisnis, JAKARTA – Realestat Indonesia (REI) meminta agar pemerintah memperpanjang pemberian stimulus fiskal berupa Pajak Pertambahan Nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) hingga akhir tahun depan dan diberlakukan juga untuk penjualan secara inden.

Pemerintah memberlakukan insentif tersebut sejak 1 Maret 2021 dan semula direncanakan berakhir pada 31 Agustus 2021. Namun, karena efeknya dinilai positif untuk menggerakkan bisnis properti yang mengerek 174 industri terkait, pemerintah memperpanjangnya hingga akhir tahun ini.

Stimulus tersebut menetapkan bahwa untuk hunian baik rumah tapak maupun vertikal, juga termasuk rumah toko (ruko) dan rumah kantor (rukan), dengan harga maksimal Rp2 miliar per unit mendapatkan pembebasan PPN 100%.

Sementara itu, untuk properti dimaksud yang ditransaksikan dengan harga berkisar Rp2 miliar hingga Rp5 miliar mendapat pemangkasan PPN 50%. Properti yang mendapatkan stimulus tersebut adalah yang siap huni (ready stock).

Sekjen DPP REI Amran Nukman mengatakan insentif PPN DTP itu sangat berdampak besar pada penjualan properti para pengembang. Bagi para pengembang yang memiliki hunian ready stock mengalami peningkatan penjualan 30% hingga 50% berkat stimulus PPN.

"Saat ini pemanfaatan insentif PPN hingga akhir Desember sehingga pengembang yang punya stok rumah masih bisa memanfaatkan insentif ini. Kalau pengembang tidak ada stok rumah memang sulit untuk mengejar pelunasan dan serah terima pada akhir Desember ini agar dapat memanfaatkan insentif PPN," ujarnya.

Sumber: Indonesia Property Watch

Oleh karena itu, lanjutnya, REI tengah berupaya untuk mendorong pemerintah agar insentif PPN ini dapat diperpanjang hingga akhir tahun 2022. Hal ini agar sektor properti bisa benar-benar menjadi lokomotif pemulihan ekonomi.

"Kita sedang berupaya melakukan lobi-lobi. Mudah-mudahan bisa diperpanjang sampai Desember tahun depan, bukan berakhir sebulan lagi," kata Amran.

Menurutnya, potensi penambahan penyerapan PPN DPT mencapai Rp2,107 triliun. Selain perpanjangan insentif PPN perumahan, REI juga mengusulkan agar program pengakuan PPN DPT diperhitungkan pada tanggal transaksi pembelian.

Dia juga berharap ada penyamaan cara menghitung pendataan REI dengan pihak perpajakan adalah dikarenakan REI berdasarkan laporan accrual basis, sedangkan perpajakan perhitungannya pada cash basis.

MENCAKUP RUMAH INDEN

Selain meminta perpanjangan masa berlaku stimulus PPN, Amran berharap pemerintah menerapkannya juga untuk rumah inden, bukan hanya yang siap huni.

Mengutip data Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dia menuturkan stok rumah subsidi dari Aceh hingga Papua yang dimiliki 21 asosiasi pengembang properti ada 326.844 unit, sedangkan untuk rumah subsidi yang telah terjual terdapat 331.778 unit. Untuk stok rumah komersial terdapat 46.728 unit dan rumah komersial yang terjual sebanyak 57.289 unit per 12 November 2021.

"Jadi, untuk anggota REI sendiri stok rumah subsidi di 34 provinsi ada 143.328 unit stoknya, lalu yang terjual 149.318 unit. Untuk rumah komersial yang dimiliki anggota REI stoknya 26.354 unit dan yang terjual terjual 42.439 unit," ucapnya.

Menurutnya, jumlah unit stok dan unit terjual untuk rumah subsidi pada November ini mengalami penambahan dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Adapun terdapat penambahan 4.000 unit rumah subsidi baik untuk stok dan yang telah terjual dalam waktu sebulan.

Sementara untuk jumlah unit stok dan unit terjual rumah komersial juga mengalami penambahan dalam 1 bulan yakni bertambah sebanyak 1.500 unit untuk stok dan 5.900 unit yang telah terjual.

"Ini penambahannya cukup banyak, padahal saat ini kondisnya pandemi. Salah satu memang karena insentif PPN sehingga ada tambahan unit rumah untuk yang komersial," ujarnya.

PASAR SEKUNDER BERGERAK

Sementara itu, pengamat bisnis properti Ali Tranghanda mengemukakan bahwa insentif PPN yang telah berjalan lebih dari 7 bulan ini memberi dampak positif yang signifikan sehingga nilai transaksi sektor real estat sepanjang tahun ini mencapai Rp200 triliun.

Sumber: Indonesia Property Watch

Menurut Chief Executive Officer (CEO) Indonesia Property Watch tersebut, dari nilai transaksi sebesar itu, sekitar 61 persennya merupakan pergerakan di pasar sekunder.

“Jadi, insentif PPN ini bukan hanya memberi manfaat untuk pengembang, lebih dari itu juga menggerakkan pasar sekunder,” ungkapnya.

Menjelang memasuki 2022, dia mengaku cukup optimistis bahwa bisnis properti tetap menunjukkan pergerakan yang positif, terlebih lagi di tengah kondisi kasus positif Covid-19 yang terus melandai.

Sumber: Indonesia Property Watch

Akan tetapi, dia mengingatkan satu hal yakni pemerintah hendaknya tidak secara mendadak menghentikan pemberian stimulus fiskal berupa pemangkasan PPN tersebut. “Ini yang terjadi sekarang bisnis propertinya sedang ngegas. Jangan dihentikan mendadak, nanti bisa terpeleset,” katanya mengibaratkan.

Ali berpandangan apabila stimulus PPN itu akan dihentikan, hendaknya dilakukan secara bertahap. Dia menjelaskan bahwa saat ini pembelian banyak ditransaksikan untuk properti mewah di atas Rp2 miliar dan cukup banyak yang ditujukan untuk investasi.

Namun, orang-orang yang memiliki dana berkecukupan di level atas itu sampai saat tertentu pun akan menghentikan pembeliannya. Dalam keadaan demikian, pembeli properti kelas menengah yang bakal lebih bergerak untuk mengambil alih peran memutar roda bisnis real estat.

Persoalannya, daya beli di konsumen level menengah ini bisa jadi belum siap apabila insentif tersebut dihentikan. Jika itu terjadi, maka bisnis properti akan melambat lagi, bahkan berpotensi mandek, sehingga upaya mengontribusi pemulihan ekonomi pun praktis terhenti.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel
Editor: Syahran Lubis

Anda harus login untuk mengomentari artikel ini

Total 0 Komentar

Kembali ke Atas
BIG MEDIA
Jalan K.H. Mas Mansyur No. 12AKaret Tengsin - Jakarta Pusat 10220
© Copyright 2024, Hak Cipta Dilindungi Undang - Undang.