‘Lampu Kuning' Aksi Balik Kampung Manufaktur Jepang

Kendati potensi berkurangnya investasi Jepang di sektor manufaktur Indonesia diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat, tetap saja apa yang terjadi di negara lain semestinya menjadi ‘lampu kuning’ bagi Indonesia.

Ibeth Nurbaiti
May 22, 2022 - 10:00 AM
A-
A+
‘Lampu Kuning' Aksi Balik Kampung Manufaktur Jepang

Bendera nasional Jepang dan Indonesia / Bisnis

Bisnis, JAKARTA — Aksi balik kampung pemain manufaktur Jepang dari sejumlah negara seperti China, Asia Tenggara, dan Rusia turut membayangi kelangsungan investasi Negeri Sakura itu di Indonesia. 

Sentimen global yang melanda Jepang, terutama pelemahan yen terhadap dolar Amerika Serikat, gangguan rantai pasok, hingga tekanan geopolitik memaksa pelaku industri Jepang memindahkan basis produksinya antara lain sektor komponen otomotif, elektronik, dan kosmetik di luar negeri ke negara asalnya.

Di Indonesia, sejumlah sektor manufaktur yang berpotensi ditinggalkan oleh investor Jepang adalah elektronika dengan investasi yang cenderung stagnan dan tekstil yang mengalami kontraksi.

Di sisi lain, manufaktur otomotif yang menjadi porsi terbesar investasi Jepang di Indonesia diyakini masih cukup menjanjikan meskipun perlu adanya upaya lebih keras untuk mendorong ekspor.

Baca juga: Menjaga Penguatan Manufaktur dengan Melemahkan Impor

Kendati potensi berkurangnya investasi Jepang di sektor manufaktur Indonesia diperkirakan tidak akan terjadi dalam waktu dekat, tetap saja apa yang terjadi di negara lain semestinya menjadi ‘lampu kuning’ bagi Indonesia.

“Jepang punya beberapa catatan terkait iklim investasi Indonesia, seperti, logistik mahal, masalah perburuhan, hambatan perdagangan nontarif, dan ketidakjelasan peraturan. Itu akan menjadi evaluasi investor Jepang,” kata Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal ketika dihubungi, Kamis (19/5/2022).


Apalagi, di sektor manufaktur otomotif, sebanyak 98 persen produksi mobil di Indonesia merupakan hasil dari manufaktur Jepang. Itu sebabnya, lanjut Faisal, pemerintah mesti memerhatikan catatan dari investor Jepang. “Jika tidak direspons, kemungkinan Jepang hengkang sebagai investor utama manufaktur RI kian besar,” ujarnya.

Berkaca dari laporan berjudul ‘2021 JETRO Survey on Business Conditions of Japanese Companies Operating Overseas’ yang dikutip Bisnis.com, Selasa (17/5/2022), beban pajak—khususnya, pajak korporasi dan transfer pricing—menjadi salah satu masalah yang disorot oleh perusahaan manufaktur asal Jepang dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia.

Setidaknya, ada sekitar 61,9 persen perusahaan manufaktur asal Jepang di Tanah Air yang berhadapan dengan masalah beban pajak pada 2021. Persentase itu meningkat jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 51,3 persen.

Baca juga: Pasar Mobil Dunia Dibayangi Pertumbuhan Lambat

Masalah beban pajak yang dihadapi oleh perusahaan asal Jepang di Asia Tenggara, hanya terjadi di dua negara, yakni Indonesia dan Kamboja. Jika pada 2020 jumlah perusahaan Jepang di Kamboja yang menghadapi kendala pajak hanya sebanyak 51,5 persen, pada 2021 meningkat menjadi 53,9 persen.

Di sisi lain, masih berdasarkan laporan yang sama, sebanyak 63,4 persen perusahaan Jepang di Indonesia diperkirakan berhasil meraup keuntungan sepanjang 2021. Pencapaian itu hanya kalah dari Singapura dan Filipina, dengan persentase masing-masing 66,4 persen dan 65,5 persen.

Secara keseluruhan, sebanyak 57,1 persen perusahaan asal Jepang di Asia Tenggara diperkirakan panen untung sepanjang 2021 dari sektor manufaktur. Tren tersebut pun diperkirakan akan terus berlangsung dalam beberapa tahun ke depan.

Hal itu seiring dengan kepercayaan bisnis dari perusahaan Jepang di sebagian besar negara kawasan yang meningkat. Di beberapa negara, persentase perusahaan yang untung bahkan melebihi level sebelum pandemi Covid-19.

Hal itu pula yang memberikan optimisme bahwa dengan iklim manufaktur yang kondusif akan mampu menahan perusahaan raksasa Jepang untuk tidak angkat kaki dari Indonesia. Apalagi, tidak ada isu signifikan yang akan mendorong investor Jepang untuk hengkang dari Indonesia.

Baca juga: Menjaga Penguatan Manufaktur dengan Melemahkan Impor

“Kalau perusahaan besar kemungkinan besar tidak akan pergi dari RI. Sementara ini UU No. 11/2020 tentang Cipta Kerja dan insentif lain di sektor manufaktur membuat iklim di Indonesia masih kondusif,” kata Ketua Bidang Industri Manufaktur Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Johnny Darmawan kepada Bisnis, Kamis (19/5/2022).

Selain itu, jelasnya, masih lemahnya mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat nilai ekspor produk manufaktur Jepang ke Indonesia kian meningkat. Hal yang sama juga terjadi di sebagian besar kawasan Asia Tenggara.

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Eko S.A. Cahyanto memastikan bahwa komitmen pemerintah Negeri Sakura menanamkan modal di sektor manufaktur RI diperkuat dengan kunjungan Perdana Menteri Jepang Fumio Khisida yang bertemu dengan Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu.

Dengan kata lain, kuat kemungkinan tren positif investasi Jepang ke manufaktur RI berlanjut dalam beberapa tahun ke depan. Selain itu, tren investasi Jepang di Indonesia juga diprediksi berlanjut di sepanjang tahun ini.

“Investasi Jepang [ke sektor manufaktur] justru berpotensi naik setelah ada komitmen lanjutan dari pemerintah negara itu,” kata Eko kepada Bisnis, Kamis (19/5/2022).

Seperti yang diberikan Bisnis, Direktur Pelaksana Tokyo Steel Manufacturing Co., Kiyoshi Imamura sebelumnya mengatakan perusahaan Jepang sudah mulai keluar dari China, Asia Tenggara, dan Rusia.

Sejumlah pabrikan yang memindahkan operasinya berasal dari berbagai sektor, seperti komponen otomotif, elektronik, dan kosmetik.

Nilai tukar yen anjlok sekitar 11 persen terhadap dolar Amerika Serikat sejak awal tahun ini, memperburuk kenaikan harga komoditas impor Jepang. Sebelum yen jatuh tahun ini, pemerintah Jepang bahkan telah mendukung relokasi basis produksi perusahaan domestik kembali ke negara itu.


Namun, menurut Ketua Umum Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Yohannes Nangoi, apa yang terjadi pada manufaktur Jepang di negara lain tidak akan memengaruhi sektor otomotif di Indonesia, mengingat mayoritas bahan baku berasal dari dalam negeri sehingga masih terbilang aman.

“Untuk mobil merakyat seperti Avanza dan Xenia, Honda Brio, dan Xpander, 70 persen bahan baku dari dalam negeri,” kata Yohannes, Kamis (19/5/2022).

Sebagai informasi, data BKPM menunjukkan bahwa investasi Jepang di Indonesia pada kuartal I/2022 senilai US$825,3 juta, lebih tinggi dibandingkan dengan kuartal sebelumnya dengan nilai investasi US$509,7 juta.

Secara tahunan (year-on-year/YoY), investasi Jepang di Tanah Air tercatat terus bergerak positif, naik dari U$$322,7 juta menjadi US$825,3 juta.

Secara global, industri manufaktur Jepang merupakan sektor yang cukup prospektif dalam beberapa tahun mendatang. Pada 2021 saja, jumlah perusahaan manufaktur asal Jepang yang diperkirakan meraup untung di pasar global sebanyak 65,4 persen, mengalahkan perusahaan-perusahaan di luar industri manufaktur yang diperkirakan meraup keuntungan sebesar 61,1 persen pada periode yang sama. (Rahmad Fauzan/Nindya Aldila)

Editor: Ibeth Nurbaiti
company-logo

Lanjutkan Membaca

‘Lampu Kuning' Aksi Balik Kampung Manufaktur Jepang

Dengan paket langganan dibawah ini :

Tidak memerlukan komitmen. Batalkan kapan saja.

Penawaran terbatas. Ini adalah penawaran untuk Langganan Akses Digital Dasar. Metode pembayaran Anda secara otomatis akan ditagih di muka setiap empat minggu. Anda akan dikenai tarif penawaran perkenalan setiap empat minggu untuk periode perkenalan selama satu tahun, dan setelah itu akan dikenakan tarif standar setiap empat minggu hingga Anda membatalkan. Semua langganan diperpanjang secara otomatis. Anda bisa membatalkannya kapan saja. Pembatalan mulai berlaku pada awal siklus penagihan Anda berikutnya. Langganan Akses Digital Dasar tidak termasuk edisi. Pembatasan dan pajak lain mungkin berlaku. Penawaran dan harga dapat berubah tanpa pemberitahuan.

Copyright © Bisnis Indonesia Butuh Bantuan ?FAQ